tamasya ke candi si kukuh

Seorang istri yang sholehah selalu tinggal di dalam rumah menunaikan tugas-tugasnya sebagai seorang pengatur rumah tangga, tidak banyak keluar dan menampakkan diri, sedikit berbicang-berbincang dengan tetangga, tidak mengikuti suatu perkumpulan kecuali benar-benar diperlukan, menjaga hak-hak suaminya saat ia pergi.

Ia selalu mengharapkan kebahagiaan suaminya dalam segala urusan, tidak mengkhianatinya baik yang berhubungan dengan kehormatan dirinya maupun dengan harta suaminya. Ia tidak keluar rumah kecuali atas izin suaminya. Kalaupun keluar, ia keluar dalam keadaan tertutup rapat dan tidak menemui sembarang orang di jalanan. Ia lebih memilih berbincang-bincang di tempat tertutup yang aman dari pendengaran dan penglihatan orang-orang asing yang tak dikenalnya. Ia tidak memperkenalkan diri dengan kawan suaminya. Bahkan sebaliknya, ia menunjukkan sikap seolah-olah ia tak mengenalnya.

Jika salah seorang kawan suaminya datang mengetuk pintu sementara suaminya sedang tak berada di rumah, maka ia tidak mempersilahkannya masuk. Akan tetapi mengajaknya berbicara seperlunya tanpa memperlihatkan diri dan tanpa pembicaraan yang dibuat-buat, tidak banyak bertanya atau menyuruh mengulangi ucapan. Semua itu ia lakukan demi menjaga kehormatan diri dan suaminya. Ia merasa qana’ah dengan karunia suami yang telah diberikan oleh Allah swt kepadanya. Ia mendahulukan hak suaminya daripada hak dirinya sendiri dan kerabatnya.

Seorang istri yang sholehah selalu terlihat bersih badan dan pakaiannya, selalu siap melayani suami setiap saat suami mengajaknya. Ia selalu memperhatikan kondisi anak-anaknya, menjaga dan mendidiknya, melindunginya dari pengaruh-pengaruh negatif yang datang dari luar. Ia selalu berusaha menjaga lidah untuk tidak mencela anak-anak maupun suaminya.

Rasulullah saw bersabda:

“Kelak pada hari kiamat, Allah akan mengharamkan (mencegah) seluruh manusia dari mendahuluiku masuk surga. Lalu kulihat di sebelah kananku seorang wanita yang ingin menyusulku. Aku pun bertanya, ‘Ada apa dengan wanita ini? Mengapa ia ingin mendahuluiku’. Lalu ada yang menjawab, ‘Hai Muhammad, ini adalah seorang wanita yang dahulu di dunia seseorang yang baik hati dan cantik rupa, ia memiliki anak-anak (yatim) yang ditinggalkan suaminya, ia pun mendidiknya dengan penuh kesabaran sehingga Allah mengangkat derajatnya seperti ini’. Lalu Rasulullah mengucapkan kalimat syukur kepada wanita tersebut”.

(Ihya Ulumiddin – Al Ghazali).

Aku terus memandangi wajahnya sampai ia merasa heran.

“Mas, kenapa melihat saya seperti itu?” tanyanya.

Aku masih diam dalam kebisuan. Aku menatapnya lebih lekat lagi. Oh, istriku. Semakin hari semakin bertambah kecantikanmu di mataku. Semakin bertambah usiamu justru semakin mengkristal kecintaanku terhadapmu. Di mataku kau adalah wanita sempurna. Di mataku kau adalah bidadari yang diturunkan oleh Tuhan dari surga sebagai hadiah untukku. Keteduhan matamu, kejujuran wajahmu, keikhlasan hatimu, keindahan akhlakmu.

“Kok nggak dijawab pertanyaan saya, Mas?” ia bertanya lagi.

Aku masih belum bisa mengungkapkan isi hatiku. Terlalu sedikit kata-kata yang kumiliki untuk melukiskan keindahanmu, melukiskan rasa cintaku kepadamu.

“Sayang…” ucapku.

Ia menatapku lekat-lekat, seakan ingin tahu jawaban yang akan aku ucapkan. Tapi aku terhenti. Aku kehabisan kata-kata, atau malah kebanyakan kata-kata sehingga aku tak dapat merangkainya. Ya, mungkin itu yang lebih tepat. Kata-kata yang kumiliki terlalu banyak, tapi entahlah saat ini semuanya terpencar ke mana-mana sehingga aku tak dapat menangkapnya satu pun. Andaikan aku memiliki kabel data yang bisa menghubungkan antara hatiku dengan hatinya, pasti sudah aku sambungkan. Aku akan mentransfer apa yang ada di hatiku ini sehingga aku tak memerlukan kata-kata untuk menerjemahkannya.

“Sayang, aku sangat mencintaimu”

Itulah kata yang paling tepat untuk menerjemahkan isi hatiku. Ia hanya tersenyum.

“Sayang, kau adalah bidadariku. Sayang, andaikan aku bisa membelah dadaku dan menunjukkan apa yang saat ini ada di hatiku…”

Ia masih saja tersenyum malu. Manis. Pandangannya masih tertuju kepadaku.

“Sayang, aku tidak sedang berkata basa-basi” aku menggelengkan kepalaku.

“Aku tahu kok Mas memang tak pernah berbasa-basi” jawabnya singkat.

Ya Allah, makhluk apa yang sedang aku hadapi ini. Malaikatkah? Begitu indah kalimat yang keluar dari bibirnya. Setiap kata yang diucapkannya selalu membuat hatiku beku. Ia lebih dingin dari salju di kutub Utara maupun Selatan. Ia mengalir merasuk ke dalam relung jiwaku, mengusir rasa lelah yang menyerangku, memadamkan amarah yang membakarku, meluluhlantakkan egoku. Makhluk macam apa ini?

Aku memeluknya erat.

“Sayang, maafkan Mas” ucapku lirih.

Aku merasakan senyumannya meskipun mataku sedang tak melihatnya. Aku merasakan kehangatan cinta dan kasih sayangnya yang tulus.

“Mas selalu saja mengulang-ulang kalimat itu, padahal Anisah belum pernah melihat Mas melakukan sebuah kesalahan”

“Tidak, sayang. Bukan tidak pernah, hanya kau yang tidak pernah merasakannya, atau kau selalu mengabaikannya dan menganggapnya remeh. Mas memahami bahwa hatimu seluas samudra. Ia menerima apapun yang dilemparkan kepadanya tanpa merubah sifat aslinya. Bahkan bangkai sekalipun menjadi asin jika dilemparkan ke samudra. Tidak. Hatimu tidak seperti samudra, lebih luas lagi”

“Sudahlah, Mas. Mas masih lelah sehabis kerja. Mas perlu istirahat dulu. Itu sudah Anisah panaskan airnya kalau Mas mau mandi” kata-katanya begitu lembut.

“Sayang, Mas mau mengajak kamu kencan malam nanti”

“Kencan?” ia menarik badannya ke belakang, menatapku sambil mengernyitkan dahinya.

“Ya, kencan. Ada yang salah?” tanyaku.

Ia memandangiku seakan tak percaya.

“Kencan, sayang. Sudah lama sekali kita tidak duduk berduaan di bawah sinar rembulan dan bintang-bintang di malam yang cerah berselimutkan hawa dingin pegunungan, berteman suara jangkrik sambil memandangi kerlap-kerlip kota Solo dari Pendopo di Candi Sukuh. Masih ingatkah?”

Ia menerawang ke udara mencari sisa-sisa ingatan yang masih tersimpan dalam memorinya. Lalu mengembangkan senyum indah. Ah, istriku semakin cantik saja setiap kali tersenyum, membuat hatiku berdebar-debar seakan baru kali ini aku melihatnya. Setiap hari yang aku rasakan adalah bahwa aku dan dia adalah pengantin baru yang masih berbulan madu. Padahal sudah lebih dari tujuh tahun kami bersama. Prajurit kami pun sudah terlahir dua. Tapi begitulah, istriku selalu tampak muda, cantik berseri dan semakin indah di mataku.

“Kita mau ke Candi Sukuh lagi, Mas?” tanyanya.

“Apakah kamu tidak setuju?” tanyaku.

“Subhanallah, tujuh tahun yang lalu” ia menerawang lagi. “Anak-anak diajak juga nggak, Mas?”

“Terserah kamu. Apa yang menurutmu baik, aku menurutimu saja”

“Ya ampun, aku rindu banget Mas sama tempat itu. Tak terasa sudah tujuh tahun sejak kita berbulan madu dulu. Aku ingin mengajak anak-anak ke sana juga. Aku ingin menunjukkan kepada mereka jajaran lampu berwarna kuning di sepanjang Jalan Raya Slamet Riyadi yang membentuk seekor ular emas itu, Mas” ujarnya bersemangat.

“Berarti nanti sore kita berangkat bersama. Tolong anak-anak diberitahu dan dipersiapkan semua keperluannya. Mas mau pesan satu kamar di hotel Lawu Indah. Oke?”.

***

“Kira-kira perjalanan dari sini ke sana memerlukan waktu berapa jam, Mas?” tanya istriku yang baru saja masuk kamar.

“Sekitar dua jam-an kalau lancar” jawabku sambil mengenakan baju.

“Aku khawatir anak-anak nanti mengantuk di perjalanan, Mas”

Memang jarak antara Jogja-Karanganyar cukup jauh. Jangankan anak-anak, aku saja sering mengantuk di perjalanan.

“Menurutmu, sebaiknya kita naik motor atau bis?” tanyaku meminta pendapatnya.

“Sebenarnya sih lebih enak pakai motor. Bisa menikmati udara segar. Tapi aku hanya mengkhawatirkan anak-anak” ujarnya agak cemas.

“Kalau begitu, kita pakai motor saja. Nanti biar Mas berhentikan di jalan secara periodik untuk beristirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan lagi. Jadi tidak terlalu capek, bagaimana menurutmu?”

“Tapi waktunya cukup nggak, Mas?”

Aku melirik jam dinding. Pukul 4:22 sore.

“Saya pikir sangat cukup sekali. Sudahlah, tak perlu khawatir nanti biar Mas atur bagaimana perjalanannya. Apakah semuanya sudah dipersiapkan?” aku menatap wajahku di cermin sambil menyisir rambutku yang sudah mulai panjang.

“Jaket sudah, sepatu sudah, handycam sudah, buku diary juga sudah” jawabnya sambil mengingat-ingat apa yang perlu dibawa.

“Buku diary? Buat apa?” aku tersenyum sambil menolehkan kepalaku menatapnya.

“Justru itu yang terpenting, semua yang berlalu dari hari-hari kita harus terekam pada diary ini” jawabnya mantap.

“Memangnya cukup untuk menampung semua kejadian yang berlalu setiap hari?” tanyaku berlagak lugu.

“Kan tidak semua yang terjadi perlu dicatat, Mas. Hanya kejadian-kejadian penting saja, atau kejadian tertentu yang berkesan sehingga suatu saat nanti kita bisa membaca-bacanya lagi. Jadi kenangan itu tak hilang begitu saja ditelan waktu” terangnya penuh argumen.

Aku hanya tertawa geli. Memang kejiwaan seorang laki-laki dan perempuan itu sangat berbeda.

“Ya sudahlah terserah kamu, tapi jangan lupa mantolnya dibawa”

“Ya ampun, hampir lupa” ia menepuk dahinya.

“Tuh kan, yang lebih penting dari buku diary malah dilupakan”

“Sama-sama penting” ia berlalu untuk mengambil mantol yang kami simpan di dekat kamar mandi.

Akhir-akhir ini aku baru memahami bahwa ternyata wanita sangat jeli memperhatikan hal-hal yang sifatnya mendetail. Itulah rahasia mengapa mendidik anak itu diprioritaskan bagi kaum Ibu, meskipun sang suami juga memiliki tanggung jawab itu, tapi tanggung jawab terbesar ada pada seorang Ibu. Karena wanita memiliki kesabaran tinggi yang tidak dimiliki oleh laki-laki dalam mengurusi hal-hal kecil yang berhubungan dengan anak. Perkara-perkara remeh seperti mengganti popok bayi, memperhatikan suhu badan, mengingat-ingat kapan terakhir ia makan, menggosok gigi anak setiap mandi sampai membersihkan kotoran bayi jika buang air di sembarang tempat merupakan pekerjaan yang tidak menyenangkan bagi laki-laki. Namun bagi seorang Ibu, hal itu merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri.

Sebaliknya, aku merasakan sebagai seorang laki-laki aku selalu hanya memikirkan hal-hal yang bersifat global dan berorientasi jauh ke depan. Aku jarang sekali memikirkan hal-hal kuanggap remeh. Bahkan kalau tak diingatkan istriku, bisa saja aku memakai kaos kaki selama seminggu tanpa ganti.

Entahlah, tampaknya aku harus belajar lebih banyak lagi mengenai psikologi seseorang, baik laki-laki maupun perempuan.

***

“Pasukanku sudah siap?!” teriakku di depan istri dan anak-anakku yang sedang mempersiapkan diri. Istriku sedang memakaikan sepatu anak bungsu kami.

“Abi, kata Umi kita mau pergi ke Candi Sukuh ya?” putri sulungku bertanya.

“Betul sekali, sayang” jawabku mantap.

“Memang di Candi Sukuh ada apa sih, Bi?” tanyanya lagi penasaran.

“Mmm…” aku melirik istriku.

“Di sana nanti kita bisa melihat ular emas” sahut istriku spontan merespon isyaratku.

“Ular emas?” ia seakan tak percaya.

Istriku mengangguk.

“Memang ada ular yang terbuat dari emas ya, Bi?” ia beralih kepadaku lagi.

“Tentu saja, sayang. Nanti biar Umi yang nunjuki tempatnya” jawabku sekenanya.

Ia masih terbengong tak percaya.

“Ayo, semuanya cabut!” ujarku sambil menurunkan standar penyangga motor Tiger-ku.

“Oya, tolong ambilkan kaca mata ryben Abi di atas meja, Mi. Sekalian kaca matanya Hammud, biar keren” ujarku pada istriku sembari tersenyum.

Setelah itu kami berangkat bersama, istriku membonceng di belakang bersama putri sulung, sedangkan si bungsu duduk di depanku. Aku mengenakan helm cakilku dengan selembar kain slayer menutupi mulut dan hidungku. Jaket kulit hitam, kaca mata hitam dan sarung tangan kulit yang hitam pula menutupi tubuhku.

“Bi” istriku memanggilku.

“Hmm” jawabku singkat sebagaimana ia memanggilku singkat.

“Abi keren deh kalau memakai pakaian seperti ini. Kelihatan Macho banget” selorohnya sambil tersenyum renyah.

“Umi juga cantik pakai jilbab biru” jawabku sekenanya.

Ia tersenyum di balik slayer yang menutupi mulut dan hidungnya. Aku memang sering membuatnya GR, Gedhe Rumangsa (besar percaya dirinya) atau Gedhe Ra’suha (besar kepalanya) atau Gurih Rasanya hihihi… entahlah mana yang benar.

“Maksudnya yang cantik jilbabnya, bukan orangnya” lanjutku.

Ia mencubit pinggangku. Ah, indahnya hidup bersama istri yang shalehah. Aku jadi teringat nasyid The Zikr,

Istri cerdik yang shalehah

Penyejuk mata

Penawar hati

Penajam pikiran

Di rumah ia istri, di jalanan kawan

Di waktu kita buntu, dia penunjuk jalan.

Aku menstarter motorku lalu menancapkan gigi satu sambil menahan kopling, setelah itu kami melesat menuju jalan raya menembus udara sore hari di kota Jogja, membelah jalanan di antara kendaraan-kendaraan, berpacu dalam kepulan asap mesin yang membuat polusi udara. Aku memilih jalan utama yang biasa dilewati kendaraan besar, jalur normal bus jurusan Jogja-Solo-Madiun-Surabaya. Aku menambah kecepatan motorku. Aku harus sampai sana secepat mungkin supaya banyak waktu longgar untuk istirahat. Aku sudah memesan satu kamar di hotel Lawu Indah yang letaknya dekat dengan Candi Sukuh. Hotel yang tidak terlalu mewah, cukup untuk kelas menengah. Sebenarnya aku paling tidak suka tidur di hotel. Dahulu ketika masih di Madrasah Aliyah aku bersama kawan-kawan sekelas sering mengadakan acara mukhayyam di kawasan Mojosemi di kaki bukit Gunung Lawu. Jadi aku lebih suka bersentuhan langsung dengan udara sejuk di pegunungan daripada tidur di hotel. Kalau bukan karena istri dan anakku, aku lebih suka memilih tidur di Pendopo sambil berselimut sarung, menikmati panorama kota Solo dan sekitarnya dari atas bukit yang tampak seperti mutiara-mutiara yang ditebarkan di atas sajadah hitam.

Aku memacu lagi laju motorku. Aku pasang gigi terakhir supaya lebih cepat dan ringan. Memang bersepeda motor di jalan raya harus berkecepatan tinggi, karena aman dari para pejalan kaki. Apalagi jalur yang kulewati ini memang penuh dengan kendaraan-kendaraan besar berkecepatan tinggi. Jadi, sekaligus mengimbangi.

Jilbab istriku berkibar kencang diterpa angin, aku mendengar kelebatnya dari depan. Semoga saja tidak merepotkannya.

Aku menengok ke belakang.

“Terlalu kencang nggak, Mi?” teriakku mengimbangi suara angin.

“Nggak. Cuma kalau bisa agak pelan dikit, biar bisa menikmati pemandangan” jawabnya agak samar terdengar di telingaku.

Aku kembali menatap ke arah depan sambil mengurangi kecepatan. Di depanku banyak kendaraan yang sedang berhenti. Ya ampun, lampu merah. Aku segera menginjak rem belakang sekaligus menarik rem depan. Wah, gawat. Kecepatanku terlalu tinggi sehingga belum sempat motorku terhenti aku sudah melewati garis batas lampu merah. Istriku menjerit berkali-kali. Aku tekan lebih keras lagi dan akhirnya terhenti. Namun naas, aku berhenti di tengah-tengah perempatan jalan. Tiba-tiba sebuah mobil kijang melaju dari arah kanan, dan…

Brakk…

Setelah itu aku tak sadarkan diri.

Orang-orang berdatangan mengerubuti kami.

“Ada kecelakaan, ada kecelakaan”

“Motor ini tertabrak mobil kijang”

“Cepat panggil ambulans, segera bawa ke rumah sakit”

Aku terbangun mendengar suara ribut mereka.

“Apa yang terjadi?” tanyaku agak setengah sadar.

“Wah, ternyata dia masih hidup”

“Syukurlah”

Aku membangkitkan lagi motorku. Istriku? Anak-anakku? Di mana mereka?

“Bapak tak perlu khawatir, istri dan anak-anak bapak tidak apa-apa. Sekarang mereka ada di sana” kata seorang bapak sambil menunjuk ke arah halte.

Syukurlah, mereka semua selamat. Aku memanggil mereka untuk menaiki motor lagi. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Kepalaku agak terasa pening.

“Pelan-pelan saja, Bi. Yang penting sampai” kata istriku sambil memegangi tangannya yang terasa sakit.

“Anak-anak tidak apa-apa?” tanyaku.

“Nggak papa, cuma Hammud lecet dikit tangannya”

Aku meneruskan lagi perjalanan dengan kecepatan yang agak rendah. Benar juga kata istriku, keselamatan lebih berharga dari segalanya.

***

Tiba-tiba aku lupa jalannya. Aku tak ingat lagi ke mana arah yang benar. Jalan itu terlihat begitu asing. Ah, aku jadi khawatir terjadi apa-apa dengan ingatanku. Tapi aku merasa masih normal. Hanya sedikit pusing di kepala.

Aku berhenti sejenak di sebuah warung kecil. Aku mau bertanya sebelum melaju terlalu jauh. Daripa tersesat lebih baik bertanya.

“Silakan, Mas. Mau makan apa?” seorang Ibu penjual di warung tersebut mempersilahkan.

“Maaf, saya hanya ingin bertanya, Bu. Jalan ke arah Solo ke mana, ya?” tanyaku.

“Memangnya Mas mau ke mana?” ia balik bertanya.

“Ke Karanganyar, Bu. Ke kawasan wisata Tawangmangu” jelasku.

“Mas tadi berangkat dari mana?” tanyanya lagi.

“Jogja” jawabku singkat.

“Kalau Solo sudah kelewat Mas, ini sudah masuk wilayah Karanganyar. Kalau mau ke Tawangmangu, Mas terus saja lewat jalan ini ke atas, ke arah timur” jawabnya.

“Oo… Nggih mpun, matur nuwun, Bu” sapaku sambil pamit.

“Sami-sami, Mas”

Aku berjalan menuju motorku. Istriku sedang menungguku bersama anak-anak.

“Bagaimana, Mas? Masih jauh?” tanyanya agak cemas.

“Ternyata kita sudah masuk kawasan Karanganyar, Mi. Berarti sebentar lagi kita akan sampai” jawabku bersemangat.

Wajah istriku kembali berbinar. Aku melirik jam tanganku. Sebentar lagi Maghrib. Aku harus segera sampai di sana secepatnya.

Aku melanjutkan lagi perjalanan. Kini aku benar-benar lupa rutenya. Setahuku dulu tidak seperti ini jalannya. Tapi jawaban Ibu penjual tadi itu membuatku semakin yakin.

Aku kembali menelusuri jalanan. Suasanan mulai sepi, udara pun terasa semakin sejuk. Suasana khas daerah pegunungan. Jalanan pun berkelok-kelok menanjak. Rerimbunan hijau pohon menaungi sepanjang jalan. Sawah berundak-undak tampak di sekeliling jalan. Ah, aku rindu dengan kota ini.

Aku terus menyusuri jalan yang masih terasa asing bagiku. Seolah-olah baru pertama kali ini aku melewati jalan ini. Hingga adzan Maghrib berkumandang, kami belum sampai juga tujuan. Aku berhenti pada sebuah masjid di samping kanan jalan. Menaranya bersinar terang, seterang cahaya Islam yang menerangi hati setiap mukmin. Aku mau mengajak istriku shalat Maghrib dulu sekaligus istirahat sebentar merenggangkan otot-otot yang sejak tadi seperti diperas. Aku berjalan menuju tempat wudhu sementara istriku ke ruangan khusus akhwat.

Aku membasuh mukaku dengan air kran.

Cesss…

Subhanallah, sungguh besar karunia Allah swt yang diberikan kepada hamba-Nya berupa air segar yang mengalir langsung dari mata air pegunungan.

Selepas wudhu aku segera bergabung dengan para jamaah untuk menunaikan shalat. Tenang rasanya hati ini jika berada di dalam rumah Allah. Tak ada keributan, tak ada perasaan khawatir. Kulihat di kanan-kiri anak-anak kecil seusia SD sedang duduk melingkar selepas shalat. Rupanya sedang ada tasmi Qur’an sekaligus taushiyah. Seorang ustadz yang masih berusia muda memberikan petuah-petuah kepada para muridnya dengan santun, tenang dan penuh wibawa. Sementara para santri duduk manis mendengarkan. Ah, lagi-lagi hatiku berbisik, “Indahnya hidup dalam naungan Islam”. Di saat fitnah dunia meracuni seluruh isi dunia, di saat pikiran generasi muda sedang disuntikkan dengan ideologi-ideologi Barat yang menyesatkan, di saat tayangan-tayangan televisi lebih mengedapankan orientasi materi daripada acara yang mendidik, di saat umat Islam merasa asing dengan agamanya sendiri, masih ada segelintir orang yang melakukan perbaikan di saat banyak orang melakukan kerusakan di muka bumi.

Aku menjadi merasa malu. Apa yang sudah aku sumbangkan untuk agama ini. Apa yang sudah aku persembahkan untuk bertemu dengan Tuhanku nanti setelah mati. Selama ini aku hanya terlena dengan kehidupan dunia. Di tengah hiruk-pikuk persaingan mengejar materi aku sering terlupa dengan tugas utama hidup ini.

Syukurlah, kini aku mulai tersadar kembali. Aku mulai menemukan permata yang selama ini hilang. Aku harus bangkit memperjuangkan agama ini. Aku harus memberikan kontribusi demi tegaknya syariat Islam di muka bumi. Meski harus memulai dari yang terkecil. Keluarga. Ya, aku harus menegakkan aturan Allah dalam keluargaku sendiri sebelum ke masyarakat. Karena keluarga adalah batu bata bangunan masyarakat.

Aku bangkit mengambil jaket dan kaos kakiku. Istriku sudah sejak tadi menungguku di dekat motor. Aku berjalan menghampirinya.

“Bagaimana, Bi? Apakah masih jauh lagi?” tanya istriku.

Anak-anakku sudah tampak kelelahan. Si bungsu sudah berkali-kali termanggut-manggut kepalanya karena mengantuk. Kasihan mereka semua. Aku sendiri merasa bersalah telah membuat mereka menjadi seperti ini.

“Mi, lebih baik kita istirahat saja sekarang. Kita lanjutkan lagi besok pagi. Abi khawatir karena sudah malam, jalanan mulai gelap, padahal di samping kanan kiri banyak jurang” ujarku.

“Tapi kita mau menginap di mana, Bi?” istriku cemas.

“Oiya, Abi ingat. Kenapa tidak kita telpon saja pihak hotel yang sudah kita pesan. Kita bisa bertanya rutenya dari sini”

“Tapi kita sendiri tidak tahu sekarang kita sedang berada di mana, Bi” jawab istriku.

Betul juga istriku. Entahlah, aku masih bingung memikirkan cara terbaik. Ah, lebih baik aku bertanya kepada orang-orang di masjid. Siapa tahu di antara mereka ada yang tahu.

Tiba-tiba seorang pria paruh baya menghampiri kami. Ia mengenakan baju koko putih, peci hitam dan bersarung. Penampilannya bersih dan teduh.

“Assalamualaikum” sapanya.

“Wa’alaikumussalam” jawabku.

“Sepertinya kalian baru saja melakukan perjalanan jauh?” tanyanya.

Subhanallah, sepertinya bapak ini mengerti kondisi kami.

“Benar, Pak. Kami hanya ingin pergi ke kawasan Candi Sukuh tapi tak tahu rutenya” jawabku polos.

“Candi Sukuh?” ia balik bertanya.

Aku mengangguk.

“Ada apa kalian pergi ke sana?” tanyanya keheranan.

“Bukan apa-apa, kami hanya ingin mengisi hari libur untuk tamasya bersama keluarga” jawabku menerangkan maksud kami.

Ia tersenyum.

“Jadi kalian ingin menikmati panorama pegunungan?” ia bertanya lagi.

“Begitulah kira-kira. Kami sudah lama tidak pergi rekreasi bersama sekeluarga. Jadi, untuk mengusir rasa penat kami memutuskan untuk pergi ke kawasan pegunungan”

“Bapak paham, sekarang kalian mampir saja dulu ke rumah bapak. Nati biar istri dan anak-anak Anda saya perkenalkan dengan istri dan anak-anak saya” ajaknya.

Aku menoleh ke arah istriku. Ia menyetujui. Akhirnya, kami sepakat berangkat bersama menuju rumahnya.

Di sana kami dijamu dengan sangat ramah. Bapak itu ternyata pengasuh podok pesantren yang baru saja beliau rintis bersama para pemuda masjid untuk menyelamatkan generasi muda dari pengaruh negatif budaya luar yang mulai meluas di mana-mana. Target awal mereka adalah anak-anak SD. Sementara ini sistem belajar hanya diadakan pada malam hari seusai shalat Maghrib di masjid karena belum memiliki ruangan lokal khusus.

Akhirnya, selama semalaman kami mengobrol saling berkenalan dan berbagi pengalaman. Istriku juga diperkenalkan dengan istri beliau yang juga aktif membina kajian ibu-ibu dan remaja putri di kawasan itu. Ah, senangnya bisa berkenalan dengan pejuang dakwah. Aku berjanji akan berusaha sebisa mungkin untuk merintis di jalan ini bersama dengan istriku. Mereka bisa, mengapa kami tidak.

Setelah itu kami istirahat selepas Isya. Kami disediakan ruangan khusus yang telah dipersiapkan untuk para tamunya yang menginap di rumahnya. Subhanallah, beginilah seharusnya rumah ideal seorang muslim, khususnya bagi yang berkecukupan. Semua ruangan tertata rapi. Tidak dicampur antara tamu laki-laki dan perempuan. Demikian pula tersedia ruangan khusus tamu yang menginap yang di dalamnya terdapat peralatan lengkap sekaligus kamar mandi pribadi di dalam kamar. Wah, tak rugi kami tak jadi menginap di hotel. Allah sudah menggantinya dengan yang lebih baik.

***

Dinginnya udara menusuk tulang sum-sumku. Aku membuka kelopak mataku perlahan-lahan. Berat. Aku mungkin terlalu kelelahan dan kurang istirahat.

Aku menyapukan pandangan ke sekitarku. Di mana aku? Astaghfirullah, kenapa aku berada di sini? Istriku? Anak-anakku? Ya ampun, di mana mereka?

Tiba-tiba sebuah suara kecil menghampiri telingaku.

“Abi! Abi! Lihat sini!”

Aku mencari sumber suara itu.

Aku benar-benar tercengang. Benarkah yang aku saksikan ini. Apakah aku sedang bermimpi. Aku mengucek-ucek mataku. Tidak. Aku tidak sedang bermimpi.

Aku menyaksikan pemandangan indah luar biasa.

Kenapa aku bisa berada di sini?

“Abi, cepat ke sini!” teriak suara yang tak asing lagi di telingaku.

Aku menoleh ke arah belakang mencari sumber suara itu. Hah, jurang. Tidak, bukan jurang, tapi air terjun.

Subhanallah, indah sekali.

Aku melihat istriku sedang basah pakaiannya bermain-main air dengan kedua anakku.

“Abi, mandi dulu sini, biar segar!” teriak istriku sambil tertawa-tawa.

“Bagaimana kalian bisa sampai di sana? Lewat mana jalannya?” teriakku.

“Lompat saja, Bi!” jawab istriku.

Hah, lompat. Apakah istriku sudah gila. Ataukah aku yang pengecut. Tapi tak mungkin aku meloncat dari tempat setinggi ini. Bisa jadi aku pulang tinggal nama.

“Jangan takut, Bi. Loncat saja. Kami bertiga tadi juga meloncat bersama-sama”

Ah, tidak. Ya Allah, apa yang sedang terjadi di dunia ini. Apakah kiamat sudah datang. Bantulah hamba Ya Allah.

“Abi, loncat ke sini!” teriakku anak bungsuku.

Aku menjadi semakin yakin. Tak mungkin mereka bertiga bersepakat mencelakakanku. Aku pun bersiap-siap melompat. Aku baca istighfar dan tahlil berkali-kali. Siapa tahu hari ini adalah ajalku. Lalu aku pun mencoba memberanikan diri untuk melompat. Aku mengambil jarak beberapa langkah ke belakang untuk berlari. Lalu aku berlari sekuat tenaga, lalu melompat dan…

Aahhh… ternyata aku bisa terbang dan aku punya sayap. Namun kemudian sayapku patah dan aku pun terpelanting jatuh ke bumi dan…

Byurr…

Aku terbangun seketika. Wajahku basah.

“Abi, bangun! Sudah hampir terbit matahari!” kulihat istriku sedang membawa segelas air yang digunakan untuk memerciki wajahku.

Astaghfirullah, aku terlambat bangun lagi. Ternyata semua itu hanya mimpi.

Selesai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s