“KETULUSAN BERBUAH CINTA”

“KETULUSAN BERBUAH CINTA”

Angin sepoi-sepoi terus menerpa kulit Andi yang tengah duduk di bawah sebatang pohon beringin. Ia sengaja memilih istirahat di bawah pohon itu untuk mengusir kelelahannya, sembari menikmati pemandangan pegunungan yang terbentang indah di depan matanya. Maklum seharian ini dia duduk di bangku kelas, mendengarkan dosen yang mengajar hari itu. Tenaganya benar-benar terkuras habis dengan perkuliahannya hari itu, sekuat mungkin konsentarasinya ia fokuskan pada pelajaranya tadi di kelas.

Sesekali ia melihat kearah mahasiswa yang lalu lalang di depannya, ada juga yang sambil bercanda dan tertawa dengan pasangan mereka sambil terus berjalan. Mungkin mereka juga baru beres perkuliahan atau mungkin bahkan ada yang baru mau masuk kelas, ah…entahlah apa yang ada di pikirannya.

Lama sudah Andi duduk di bawah pohon itu menikmati hembusan angin pegunungan yang begitu sejuk. Terkadang ia selonjorkan kakinya yang terasa mulai kram.

“ya Allah terimakasih engkau masih memberikan nikmat sehat kepadaku hingga hari ini”

gumamnya dalam hati.

Masih teringat jelas kejadian setahun lalu yang menimpanya. Saat itu ia sakit dan divonis oleh dokter terjangkit DBD (Demam Ber-Darah). Ia terbaring lemas di sebuah rumah sakit islam di Bandung. Disitu ia baru sadar betapa nikmatnya menjadi orang yang sehat. Mungkin benar kata orang nikmat sehat itu baru terasa ketika kita lagi sakit. Begitu juga kesehatan itu tak bisa dihargai dengan uang. Biarlah hidup dalam kekurangan tapi sehat, dari pada hidup mewah berpenyakit. Apalah arti hidup bagi orang yang tengah terbaring di UGD atau ICU serta di kamar rawat inap.

Tengah asyik melamun, tanpa sengaja matanya tertuju pada seorang mahasiswi yang yang sedang duduk di depan salah satu kelas bersama seorang temanya. Kelihatannya dia tengah asyik membaca buku yang sedang ada di genggamannya, entah buku, kitab, atau Al-quran, entahlah….! Yang jelas dia tengah asyik membolak balik halaman buku tersebut dengan jari-jari tangannya yang mungil. Sesekali wanita itu tersenyum kepada teman di sebelahnya. Wajahnya yang putih bersih dibalut dengan jilbab pink yang menutup seluruh auratnya menambah ayu penampilannya. Pipinya yang kemerah-merahan dan matanya yang teduh membuat semua orang yang melihatnya terpana. Lesung pipitnya yang indah semakin menghiasi sunggingan senyum dari bibir merahnya. Mata Andi benar-benar terbelalak melihat wanita itu…

“subahanallah…cantik sekali wanita itu, begitu sempurna ciptaan Mu ya Robb,andai saja ia engkau anugerahkan untuk menjadi pendampingku kelak…, pasti aku menjadi orang paling beruntung sedunia” gumamnya dalam hati.

Tak berapa lama ia baru sadar kalau dia tengah berada di dalam perangkap setan. Ia telah melihat seseorang yang bukan muhrimnya dengan berpikiran macam-macam. Seketika itu cepat-cepat ia palingkan wajahnya kearah lain, seraya beristighfar minta ampun kepada Allah.

“astaghfirullahal ‘adzim….”

“ampuni hamba ya Allah, hindari hamba dari pandangan yang membuat dosa karena nya” sesalnya dalam hati.

“Allahu akbar…Allahu akbar…!” suara azan membangunkan Andi dari lamunannya. Diraihnya tas yang sarat dengan binder dan buku-buku kuliahnya untuk kemudian sudah berada di punggungnya. Ia bergegas menuju masjid kampus yang tak berapa jauh dari tempatnya beristirahat tadi. Sejurus kemudian pemuda perantauan ini sudah berada di tempat wudhu. Air wudhu mengalir keseluruh anggota wudhunya. Kesejukan demi kesejukan dirasakannya… seketika pemikirannya tentang wanita yang dilihatnya tadi sudah bisa ia lupakan. Dan ia memang harus melupakan semua urusan duniawi, karena ia akan mengahadap sang Maha pencipta. Maha pengatur semua urusan. Diapun larut dalam munajahnya kepada sang Ilahi… tak jarang air matanya mengalir ketika dia bersujud.

Setelah selesai shalat dan berdoa serta berzikir, diraihnya tas yang berada di depan tempat sujudnya tadi, seraya tangannya meraba-meraba isi tas seperti ingin mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah mushap kecil sudah berada ditangannya, dia asyik di buai oleh indahnya kata-kata dalam mushaf tersebut. Terkadang ia berhenti membacanya sembari merenungkan maksud dari ayat tersebut.

“Hai…..! melamun aja , hayo ngelamunin apa?” tiba-tiba Fadhli mengagetkannya dari belakang.

“huh… kamu ngagetin aku aja, untung jantungku gak copot” timpal Andi sambil mencubit kecil paha temennya itu. Fadli hanya tertawa kecil kegelian.

“Eh… ndi besok ada acara gak?” Tanya Fadli.

“gak…, emang ada apa?” Andi balik bertanya..

“besok jam sepuluh insyaAllah ada pengajian di mesjid agung, mau ikut gak?, kalau mau kita berangkat bareng aja. Gimana?”

“Ayo… siapa takut…hehe!” timpal Andi sambil mengaitkan kelingkingnya kepada temennya itu tanda deal alias setuju.

“ya udah kalau gitu besok aku tunggu jam sembilan di gerbang depan kampus” sahut Fadli sambil berlalu.

Ok…!” jawab Andi.

Andi segera memasukan mushaf alqurannya ke dalam tasnya kembali. Dan bersiap-siap pulang ke kotsannya, karena masih banyak tugas yang harus dikerjakannya setelah di kots nanti. Dan ia pun berpisah dengan Fadli di depan masjid. Gak tau dia mau kemana, mungkin Fadli masih ada kelas atau ada kegiatan lain, maklum beda jurusan. Andi jurnalistik dan Fadli sendiri anak muamalah. Fadli adalah temen seorganisasi dikampus, sekaligus temen akrabnya juga.

* * * *

Lima menit sudah Andi menunggu di depan gerbang pintu kampus. Ditemani sebuah hand phone mungil di tangannya. Ketika tengah asyik mengutak ngatik hp nya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara salam dari belakangnya.

“assalamu’alaikum…”

“wa’alaikum salam wr…wb” seraya menoleh kebelakang, yang ternyata Fadli yang ditunggunya.

“afwan ndi telat lima menit”

“Gak apa-apa, yuk…kita lansung berangkat saja takut ketinggalan nanti”seru Andi

“okey…let’s go…!”

Dengan naik angkot, 10menit kemudian mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Mereka berdua pun turun setelah membayar ongkos angkot kepada pak sopir. Orang-orang sudah mulai ramai di sekitar masjid, mungkin mereka juga mau ikut pengajian atau mau sekedar beristirahat di masjid, entahlah…! Beberapa pedagang juga ikut meramaikan sekitar masjid agung tersebut dengan barang-barang dagangan mereka.

“Kita lansung masuk aja yuk…!” ajak Fadli.

“ayo…” Andi mengiakan.

Mereka mengambil tempat di dekat tiang masjid. Keduanya duduk bersila sambil bersiap-siap menunggu dimulainya acara. Tak berapa lama kemudian acarapun dimulai, yang dibuka oleh seorang MC.

“Acara selanjutnya pembacaan ayat suci al-qur’an oleh ukhty Naely Khoirotun Najwa” kata MC itu dengan nada yang jelas.

Yang dipanggilpun maju kedepan. Betapa terkejutnya hatiku ketika melihat wanita yang membaca alqur’an di depan itu.

“Bukankah itu wanita yang aku lihat kemarin di kampus?” gumam Andi dalam hatinya…”o… ternyata itu tadi namanya, nama yang bagus, secantik orangnya…”

“subahanallah bagus banget suaranya melantunkan ayat-ayat suci, bak Hj Maria Ulfa qori’ah internasional itu” lamunnya.

“astaghfitullah hal adzim… apa-apaan aku ini ya Allah…,aku kesini bukan untuk cari cewek tapi mau ikut pengajian. Ampuni hamba ya Allah!” sesal andi. Dia lansung menundukkan pandangannya.

Ustadz Khoiruddin mulai membuka tausyiahnya dengan kalimat-kalimat pujian terhadap Allah SWT, semua orang khusyu’ mendengarkan nasehat-nasehat dari ulama besar itu. Mereka larut dalam renungan masing-masing. Tak terkecuali aku dan Fadli. Ustadz Khairuddin memberikan materi tentang kejujuran. Ulasan yang begitu menggugah hati bagi setiap telinga yang mendengarnya. Sesekali aku mencatat hal-hal penting yang disampaikan oleh ustadz, yang pasti akan bermanfaat untukku kelak.

Haripun semakin siang, sang surya begitu bersemangat menyinari bumi. Setetah mendengarkan tausyiah dan shalat zuhur, mereka berdua kembali pulang dengan ketenangan hati setelah mendapat pencerahan tadi. “Sekarang aku baru tau apa hakikat kejujuran yang sebenarnya”. Tak berapa lama keduanya sudah sampai ke kotsan masing-masing. Andi lansung merebahkan diri untuk beristirahat. Seketika ia kembali terigat kepada wanita cantik bak bidadari yang tadi ia lihat di pengajian, dan dikampus kemarin. Tapi cepat-cepat ia hapus bayangan dari itu, karena ia sadar bayangan itu dating dari setan. Setelah itu ia terlelap dalam mimpi indahnya sampai azan asar membangunkannya untuk segera mengahadap sang Kholiq.

* * * *

Keesokan harinya, sepulang dari kuliah Andi berniat hendak ke toko buku yang tak berapa jauh dari kampusnya. Ia berjalan gontai sendirian di pinggir trotoar, sambil menikmati pemandangn kota Bandung. Deru mesin kendaraan yang lalu lalang semakin menghiasi kota kembang itu. Sesekali matanya tertuju kepada pedagang-pedagang kaki lima di sepanjang jalan itu, dan tak jarang ia lemparkan senyuman kepada mereka, karena ia selalu yakin kalau senyum kepada sesama manusia itu merupakan sedekah. Tiba-tiba dari kejauhan diarah depannya ia mendengar suara teriakan orang minta tolong.

“tolong…tolong…copet !!! tolong…”Ternyata suara ibu-ibu yang minta tolong.

Terlihat dua orang yang berpakaian serba hitam lari ke arahnya. Ternyata itulah pencopetnya. Mereka lari sekuat tenaga dengan barang curian yang ada di genggamannya. Spontan Ali mengahadang dua pencopet yang lari kearahnya itu. Pencopet itu kaget dan berseru.

“hai…anak muda goblok, jangan coba-coba berani menghalangi kami, atau nyawamu melayang”

Gertakan itu sedikitpun tidak menggetarkan hati Andi, sebuah pukulan keras melayang kearah pipinya, secapat kilat ia tangkis pukulan itu dan dibalas denga pukulan keras di arah ulu hati perampok itu, sehingga perampok itu tak berdaya sedikitpun dan terkapar kesakitan di tanah. Teman yang satunya lagi ikut membela dengan memberikan pukulan keras kearah perut Andi. Dengan sigap ia menangkap tangan itu dan sebuah tendangan maut Andi mengenai kemaluan perampok itu,sehingga keduanya kini terkapar di tanah dan meringis kesakitan dan minta ampun kepada Andi, seraya menyerahkan sebuah kalung emas hasil jarahan dari ibu yang dicopetnya.

“Hm…gak sia-sia tiga tahun belajar beladiri dikampus” gumam Andi dalam hatinya.

Tak berapa lama orang-orang disekitar situ melapor ke polisi dan membawa ke duanya ke kator polisi untuk diproses. Andipun segera menuju kepada ibu berjilbab yang kecopetan itu untuk mengembalikan barangnya. Ibu itu masih berdiri di kejauhan.

“ni bu kalungnya…” seraya menyerahkan kalung ditangannya kepada ibu itu.

‘terimakasih ya nak…!”

“kalau tidak ada kamu ibu gak tau nasib ibu bagaimana,…”

“karena barang ini adalah barang yang sangat berarti dan berharga plus bersejarah bagi keluarga ibu” terang ibu itu.

Setelah itu Andi berlalu begitu saja dari depan ibu itu. Dan melanjutkan perjalanannya. Baru beberapa langkah Andi berjalan, ibu itu memanggilnya.

“Nak…kalau boleh tau ibu nama mu?” Tanya ibu itu.

“Andi bu…” jawab andi dengan santun.

“O..ya ini ada sedikit dari ibu, kamu terima ya,sebagai rasa terimakasih ibu” seraya mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu.

Andi kaget, dan secara spontan ia menolak pemberian itu dengan lembut.

“Gak usah ibu, gak usah repot-repot, saya ikhlas ko’ bu.”

“ayo ambillah, anggaplah ini sebagai hadiah dari ibu buat nak Andi” seru ibu.

“bu,sekali lagi terimakasih atas hadiah dari ibu,lagian sudah kewajiban kita sesama muslim ko’ bu membantu saudaranya seiman dan seaqidah.”

“dan bukan pula saya gak mau menerima pemberian dari ibu, tapi banyak orang yang lebih pantas menerimanya dari saya bu…” jawab andi dengan senyum ramah khasnya.

Setelah mendengar ucapan Andi tadi, ibu itu tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mengucapkan ribuan terimakasih pada Andi. Dan Andi mohon diri kepada ibu itu, dan sebelumnya Andi sempat menanyakan nama ibu itu, dan ternyata namanya adalah ibu Aminah.

* * * *

Malam harinya setelah shalat isya di rumah, bu Aminah meceritakan semua kejadian yang menimpanya tadi kepada suaminya ustaz Khairuddin. Ibu Aminah benar-benar terharu dengan kebaikan budi dan akhlaq anak muda yang menolongnya tadi.

“siapa nama pemuda itu ummi…?” Tanya ustadz Khairuddin kepada isterinya.

“Andi,…dia kuliah di kampus yang sama dengan anak kita Ely abi” jawab bu Aminah.

“Pokoknya orangnya baik banget bi…, ummi aja terharu melihatnya, ternyata masih ada anak muda yang sebaik dia bi,” lanjut bu Aminah.

“abi jadi penasaran dengan dengan pemuda itu, kalau benar seperti itu, kayaknya dia pemuda yang cocok buat anak kita Ely” seru ustadz Khairuddin sambil menatap wajah istrinya.

Tiba-tiba dari dalam kamar Ely datang menuju ruang tamu tempat abi dan umminya yang lagi asyik berbincang-bincang. Ely yang saat itu lagi mengenakan jilbab biru muda yang lebar dan gamis hijau mudanya terlihat begitu anggun. Seraya memeluk ibunya dengan sikap manjanya. Memang begitulah sikap Ely kepada orang tuanya, walaupun dia sudah sudah semester tujuh.

“serius banget kelihatanya, abi sama ummi lagi ngomong apaan ne…? lagi pacaran ya? He..he..” sela Ely.

Ustadz Khairuddin dan Bu Aminah hanya tersenyum geli melihat tingkah laku anaknya ini. Ely begitu biasa ia dipanggil di rumah, nama lengkapnya Naely Khoirotun Najwa.

“begini nak, kalau kamu abi jodohkan dengan seorang lelaki yang pantas buat kamu, kira-kira mau gak?” Tanya ustadz Khairuddin pada anak semata wayangnya itu.

“mau…mau…, tapi pilihan abi sama ummi khan?

“sepanjang orangnya baik, soleh, dan bertanggung jawab, Ely ikut abi ma ummi aja” sahut ely dengan riang.

“Insyllah nak orangnya baik,soleh, dan bertanggung jawab. Dia adalah pemuda yang menolong dan menyelamatkan ibu dari peristiwa pencopetan kemaren” terang bu Aminah.

“Namanya siapa ummi?..” Tanya ely penasaran.

“Andi…” jawab Bu aminah dan Ustadz Khairuddin hampir berbarengan.

“ya sudah insyallah besok abi akan menemui pemuda itu dan akan menanyakan pendapatnya lansung” lanjut ust Khairuddin.

Angin malam yang dingin begitu terasa di luar rumah. Keluarga kecil nan bahagia ini terus berbicara sambil terkadang tertawa ria di ruang tamu rumah itu. Suara jangkrik diluar semakin menambah hangat suasana di rumah ini. Gemerlap sinar bintang yang selalu memancar menghiasi langit malam itu. Entah berapa jumlah mereka. Hanya Dia yang Maha Pencipta yang tahu tentangnya. Cahaya lampu di taman depan rumah ikut menyinari gelap malam yang dingin itu. Kelihatanya keluarga ini selalu bahagia dan senang. Memang itulah yang didambakan setiap orang di muka bumi ini. Kebahagiaan tidak bisa diukur dengan Harta dan kekayaan. Dan harta yang banyak ternyata tidak menjamin orang untuk hidup bahagia. Terbukti dari kalangan selebritis yang hidup di tengah limpahan harta dan kekayaan, tapi mereka tidak memiliki kebahagiaan bathin, justeru sebaliknya yang terjadi adalah perceraian, percekcokan, dan keributan dalam rumah tangga. Begitu pula tidak sedikit orang yang hidup dalam serba kekurangan, tapi mereka punya kebahagiaan yang tiada tara.

* * * * *

Singkat cerita akhirnya , ustadz Khairuddin bertemu dengan Andi. Betapa kagetnya ia ketika didatangi ustadz Khairuddin, apalagi setelah mendengar ustadz Khairuddin berniat hendak menjodohkan ia dengan anaknya. Walaupun sejatinya Andi dari segi umur memang sudah pantas untuk berumah tangga, karena umurnya suadah dua puluh tujuh tahun. Disisi lain ia merasa ragu, karena belum terlalu siap dari segi lahir, namun di sisi lain ia dikuatkan pleh hatinya supaya menjalankan sunnah rosul ini, sekalipun ia belum pernah kenal dengan calon pendampingnya ini. Mudah-mudahan akan lebih mengurangi dosa. Apalagi yang akan dijodohkan dengannya adalah anak seorang yang ‘alim, dan berilmu. Insyaallah anaknya juga akan sholehah seperti orang tuanya.

“Tapi saya belum siap ustadz secara lahir untuk menafkahi istri saya nanti,karena saya belum bekerja dan masih kuliah” jawab Andi ragu.

“Nak Andi, jangan khawatir, Rezeki itu sudah diatur oleh Allah, kenapa kita harus takut kalau semuanya sudah diatur oleh Nya” ustadz Khairuddin meyakinkan.

“kalau boleh tau siapa namanya ustadz?” Tanya Andi gugup.

“Ely…, dia anak saya satu-satunya”

“Nak Andi besok saya tunggu di rumah saya jam 9.00 untuk proses ta’aruf” kata ustadz Khairuddin seraya memberikan alamat rumahnya.

“Insyaallah ustadz, saya akan datang besok” jawab Andi dengan sopan.

Ya… hanya itu kata-kata yang dapat ia ucapkannya. Ia tidak dapat menolak, mulutnya beku bungkam seribu bahasa. Ia tidak pernah menyangka kalau kejadian hari ini akan pernah terjadi. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala yang akan terjadi. Mungkin taqdirnya akan seperti ini. Semua ia serahkan kepada Allah swt.

Malam harinya, ia tidak bisa tidur memikirkan apa yang baru dialaminya tadi siang. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. Pikirannya tidak karuan. “Ely” sebuah nama yang belum pernah ia dengar sebelumnya, apalagi wajahnya. Malam semakin sunyi tak seperti hati Andi yang lagi gundah. Sesekali ia coba memejamkan matanya, tapi matanya enggan terpejam. Akhirnya ia ambil inisiatip untuk ke kamar mandi dan berwudhu, setelah itu ia laksanakan shalat witir beberapa roka’at. Ia larut dalam zikir-zikirnya. Tak lupa ia berdoa untuk kedua orang tuanya yang ada di kampung nun jauh di mata, semoga selalu dilindungi oleh Allah. Ia juga mohon petunjuk hidup kepada sang Pencipta. Terkadang butir-butiran air mata membasahi sajadahnya. Ia benar-benar larut dalam penghambaannya. Hingga akhirnya matanya pun mulai terasa berat dan ia pun merebahkan dirinya kembali dan terlelap dalam mimpi-mimpi indahnya.

Keesokan harinya ia sudah sampai di Alamat rumah yang dituju. Betapa terkejutnya ia, ternyata alamat yang ada ditanganya itu mengarah ke sebuah area perumahan elit di daerah kota itu. Ia sedikit tidak percaya, namun ia tetap melanjutkan langkah kakinya. No 25.A yaa… itu lah rumah yang tertulis di kertas alamat yang dipegangnya. Rumah itu sudah berada di depan matanya sekarang. Sebuah rumah elit dengan taman di depan rumah itu, sebuah sedan Toyota vios terparkir di garasi sebelah rumah itu.

“Benarkah ini rumah ustadz Khairuddin”?tanyanya dalam hati.

Akhirnya ia beranikan diri untuk mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.

“Assalamu’alaikum…” ucap Andi pelan.

“wa’alaikum salam warahmatullah wabarkatuh” terdengar jawaban dari dalam.

Setelah pintu dibuka. Ustadz Khairuddin

“oh… nak Andi, ayoo silahkan masuk, kita sudah menunggu ko’…” ustadz Khairuddin tersenyum pada Andi dan mempersilahkan.

‘terimakasih ustadz” jawab andi gugup. Alhamdulillah ternyata benar ini alamat rumah ustdz Kairuddin” pikir hatinya.

Setelah sedikit berbasa basi dengan Andi, acara ta’aruf pun dimulai.

“ummi apakah sudah siap semuanya…?”Tanya ustadz Khairuddin kepada isterinya dari balik hijab yang memang sudah dari tadi menunggu.

“sudah Abi…”jawab bu Aminah singkat dari balik hijab.

“Ya sudah, sekarang silahkan kalian saling bertanya tentang diri kalian masing-masing” seru ustadz Khairuddin sambil berlalu keruang dapur bersama isterinya meninggalkan mereka berdua.

Hatinya semakin tak terkontrol, ia benar-benar gugup. Dan memang ia akui dia belum pernah pacaran, apalagi ngobrol dengan cewek secara serius seperti saat sekarang ini. Keduanya hanya diam di ruangan itu. Hanya dinding menjadi saksi kebisuan mereka. Akhirnya dengan ucapan bismillah Andi mulai membuka kebekuan itu.

“Assalamua’alaikum…” ucap Andi dengan memberanikan diri.

“wa’alaikum salam warohmatullah…” terdengar jawaban dari sebelah tabir. Hatinya semakin tak karuan. Detak jantung semakin kencang mendengar suara halus nan lembut yang menjawab dari balik hijab sebelahnya.

“Nama ukhti siapa…?”Tanya Andi masih deg-deg an.

“Ely, nama akhi Andi kan?…” Ely balik bertanya.

“Iya… Andi syahri lengkapnya” jawabnya pelan.

“ukhty, sebelumnya ana mau Tanya, apakah ukhti benar-benar siap menjadi pendamping saya?” Tanya Andi.

“jujur saja saat ini saya masih kuliah dan belum bekerja, tapi saya akan berusaha sekeras tenaga untuk terus berjuang dalam menafkahi keluarga…” lanjut Andi.

“ana siap ko’ akhi, walaupun dalam kondisi apapun. Bagi ana harta tidak menjamin kebahagiaan, insyallah kalau masalah harta saat ini lebih dari cukup.” Jawab Ely tenang.

Setelah cukup lama dan dirasa cukup proses ta’aruf, ustadz Khairuddin dan isterinya kembali keruang tengah. Sebagai sunnah rosul, akhirnya Andi diizinkan untuk melihat wajah calonnya sekilas sekedar untuk mengetahui. Bu Aminah pun membuka sedikit hijab untuk sekedar melihat sekilas. Ketika hijab dibuka, betapa terkejutnya Andi melihat bidadari yang ada di depan matanya. Sosok wanita cantik yang anggun dengan mengenakan jilbab pink lebar dan gamis hijau seperti pertama kali ia melihatnya waktu pertama kali dikampus ketika dia lagi istirahat di bawah pohon kira-kira dua minggu lalu. Hatinya benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wanita yang selama ini ia damba-damba kini berada di depan mata.

“Naely Khairotun Najwa…?, ukhti yang membaca ayat suci Alquran pada pengajaian ustadz Khairuddin di masjid Agung tempo hari kan…?, kenapa berubah menjadi Ely” ucap Andi terperangah.

Ia memang hapal betul nama itu ketika setelah ia mengikuti pengajian kemarin.

“iya…, nama saya Naely Khairotun Najwa, di rumah dan di kampus sering dipanggil Ely” terangnya.

* * * * *

Singkat carita. Dua minggu setelah acara ta’aruf itu, merekapun menikah dan membina rumah tangga sakinah mawaddah wa rohmah. Tak henti-hentinya Andi bersyukur atas karunia yang diberikan oleh Allah kepadanya. Setiap malam mereka berdua larut dalam beribadah kepada kepada Sang Pencipta. Ia sangat sayang kepada isterinya yang telah di anugerahkan oleh Allah swt. Seseorang wanita cantik ,baik, lembut, dan sholehah. Bak bidadari yang turun ke dunia. Tak pernah terbayang olehnya rencana Allah kepadanya. Inilah buah dari ketulusan dan keikhlasan.

” Dan sebaik-baik perhiasan di dunia adalah wanita shalehah”

by:

M.Fachruddin Al-banna

One response to ““KETULUSAN BERBUAH CINTA”

  1. subhanalloh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s