“KETIKA CINTA BERTARBIYAH”


” Hallo sayang lagi ngapain…? Kita jalan yuk sore ne…!!!”

masih ingat jelas sebuah sms yang aku terima dua hari yang lalu dari Fitri pacarku.

Namun sms itu tak pernah aku balas, dan tak pernah aku tanggapi, walaupun perasaan di hati ingin sekali mengiyakannya. Bahkan kini setiap sms darinya tak pernah aku jawab lagi demi menjaga hati ini. Tapi ah…, semenjak peristiwa itu aku menjadi sadar akan hakikat cinta yang sesungguhnya. Cinta yang suci yang harus aku persembahkan hanya satu-satunya buat Allah. Betapa nikmat ketika kita sudah bisa mencintai Allah melebihi dari cinta kita kepada segalanya. Aku sungguh sangat kagum melihat mereka yang bisa menjaga cinta mereka hanya buat Yang Maha Menciptakan Cinta itu sendiri. Karena Allah tidak akan mengecewakan siapapun yang mencintainya, dan kitapun tidak akan pernah cemburu ketika orang lain juga mencintaiNya. Mungkin itulah hakikat cinta suci yang sesungguhnya.

Jujur aku baru sadar, kalau cinta yang selama ini aku jalin adalah cinta yang dilarang dan dibenci oleh Allah swt. Cinta yang mendatangkan dosa dan penuh dengan aroma maksiat. Cinta yang akan melemparkan aku ke neraka yang sangat panas. Waktu itu menurtkuku inilah cinta yang sesungguhnya, dan inilah cinta yang suci itu. Tapi semua penuh dengan kebohongan.

Setiap sore aku sering jalan-jalan sama Fitri mengelilingi taman bunga di kota kembang ini. Terkadang menyusuri trotoar yang terbentang di sepanjang jalan raya berduaan, sambil bergandengan tangan dengan penuh mesranya. Sesekali kami bercanda ria di sepanjang jalan tersebut. Tak jarang cubitan-cubitan kecil yang nakal mendarat di tangan dan perutku. Senyumnya yang manja membuat aku semakin terbuai di sisinya. Semua itu kami lakukan tanpa sedikitpun rasa malu kepada Allah yang Maha Menyaksikan. Begitupun rumput-rumput yang hanya termagu di pinggir jalan melihat kemesraan kami.

Tapi setelah aku tau itu semua adalah haram barulah aku sedikit-sedikit mencoba untuk meniggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk itu. Bermula ketika saat itu aku diajak Rudi temen sekampus ku mengajak aku dating kepengajian remaja di sebuah masjid. Melalui sebuah sms

” Ri besok ikut gue yach…ada acara seru,,, pokoknya banyak cewek dech di situ, jamin lo pasti suka”

begitu sms rudi yang aku terima sebelumnya. O…ya sebelumnya namaku M.Arinal Haq. Biasa dipanggil Ari oleh temen-temenku.

” ok… aku ikut…” jawabku singkat

Ya udah besok gue tunggu di kosan jam 2.00 siang.” Balas Rudi.

Mendengar kata rudi banyak cewek-cewek yang datang, aku lansung mengiyakan ajakannya. Maklum anak muda. He…he…

Besoknya jam 2.00 siang aku dan Rudi ketemu dan lansung berangkat ketempat yang dituju. Aku belum tau di mana tempat yang akan kami tuju. Karena sampe sekarang Rudi terus merahasiakan tempatnya.

“sebenarnya tempatnya masih jauh gak sich…?” Tanyaku pada Rudi penasaran waktu dalam angkot..

“sebentar lagi kita nyampe tenang aja…! Pokoknya tempatnya mulia banget” jawab Rudi singkat.

Tidak berapa lama angkot itu berhenti di depan sebuah masjid. Tangan ku ditarik oleh Rudi pertanda mengajak turun. Dan setelah membayar ongkosnya, angkot itu berlalu begitu saja di depan kami.

” lho… ko’ kita ke masjid??” Tanya ku.

“yaa…ini tempatnya, khan ini tempat paling mulia di bumi” jawab Rudi senyum.

“Huh,,,” cibirku kesal.

Tiba kami berdua sudah disambut oleh orang-orang yang berpakaian serba putih. Sungguh wajah mereka bersih dan keliatan seperti bersinar. Jumlah mereka juga cukup banyak. Akhirnya kamipun disuruh untuk masuk.

“Silahkan akhi Rudi ajak temennya lansung masuk karena sebentar lagi pengajian akan segera dimulai” kata salah seorang dari mereka sambil menarik tangan kami penuh dengan senyum. Rudi pun mengiyakan, begitupun aku walaupun ada rasa kesal dihati ini.

Disebelah hijab sana para akhwat-akhwat yang berjilbab panjang mulai banyak beradatangan.

Singkat cerita aku pun mengikuti pengajian itu sampai selesai. Saat itu pengajian membahas tentang Cinta Kepada Allah. Salah satu nasehat dari ustadz yang memberikan tausyiah tadi ada yang mengganjal di hatiku. Apalagi ketika beliau menjelaskan tentang cinta manusia kepada lawan jenis. Ayat “wa laa taqrobuz zina” jangan lah mendekati zina. Pacaran salah satu dari contoh mendekati zina. Masih terngiang-ngiang di telingaku ayat tersebut sampai aku dikotsan.

Semenjak saat itu aku rutin mengikuti pengajian yang diadakan setiap minggu itu. Dan akhirnya akupun sedikit-sedikit faham dengan ajaran agama, yang memang selama ini aku tinggalkan.

* * * * *

Siang ini begitu cerah, burung-burung bernyanyi menghiasi irama musik kehidupan di muka bumi ini. Di bawah sebatang pohon depan perpustakaan kampus Fitri dan Wati lagi berbincang-bincang. Serius kayaknya.

” ti, kenapa yach… akhir-akhir ini Ari semakin berubah, seolah-olah dia sengaja menjauh dariku..?” Tanya Fitri kepada Wati yang juga temen akrabnya.

“Bahkan setiap kali aku sms tidak pernah dibalas, telpon tidak pernah diangkat, boro-boro ngajak jalan” terang Fitri panjang lebar.

” aku juga gak tau pasti Fit, yang jelas aku juga ngerasain dia berubah banget sekarang” jawab Wati.

“entahlah…! Aku bingung.” Ketus Fitri

“akhir-akhir ini aku sering melihat Ari menyendiri berzikir di masjid kampus, terkadang dia menghadiri pengajian. Padahal khan dia anti banget dengan yang gitu-gituan kan?” tambah Wati.

“aku jadi penasaran dengan pengajian yang diikutinya, minggu depan aku akan selidiki pengajian apa sich yang membuat Ari berubah kepadaku…?, apakah gara-gara pengajian itu dia menjauhi aku” komentar Fitri dengan penuh emosi seraya berlalu..

Merasa hubungannya sudah kurang harmonis, Fitri bertekad untuk menyelidiki penyebabnya. Ia tidak mau hubungannya digantung seperti ini. Ia ingin minta kejelasan dari Ari tentang hubungannya ini. Semoga kata putus tidak pernah terlontar nantinya karna Fitri benar-benar masih saying kepadanya. Ia rela mengahadapi apapun demi memperjuangkan cintanya. Baginya cintanya pada Ari adalah segala-galanya…

Pada minggu yang telah ditentukan, keduanya bersiap menjalankan aksi mereka untuk menyelidiki Ari. Mereka telah berencana untuk menyelidiki siapa orang yang telah membuat sikap Ari berubah padanya, dan mereka juga akan mencari tau tentang apa yang sedang dipelajari oleh Ari. Demi untuk mencari tau hal tersebut akhirnya Fitri dan Wati masuk kedalam masjid bergabung dengan para akhwat yang berada di sebelah tabir untuk ikut serta mendengarkan ceramah yang akan disampaikan.

Lama sudah mereka ikut pengajian tersebut. Perlahan keduanya husyuk mendengarkan tausyiah-tausyiah yang diberikan oleh ustadz yang berbicara di depan. Hingga hidayah itupun datang. Diam-diam hati Fitri tertegun memikirkan kata demi kata yang disampaikan ustadz itu. Terlebih saat ia membacakan dan menjelaskan tafsiran dari ayat “wa laa taqrobuz zina“. Tanpa terasa butiran-butiran air mata mulai mulai menetes, meng-anak sungai di pipinya tak terkecuali dengan Wati. Meratapi dosa-dosa yang telah ia perbuat, menangisi kesalahan-kesalahannya selama ini. Ia tersedu dan terus tersedu sambil mengusap air mata dengan saputangan yang dipegangnya. Sehingga beberapa akhwat yang ada di dekatnya sejenak melemparkan pandangan kepadanya, dan dengan penuh kelemah lembutan serta senyum ikhlas merekapun merangkul dan ,mengelus-ngelus pundak Fitri.

sungguh hidayah Allah diberikan kepada orang yang dikehendakinya”

Sejak kejadian itu Fitri selalu sering menyendiri di mesjid kampus sambil menunggu jam kuliah. Terkadang ia membaca alqur’an yang selalu ia bawa di dalam tasnnya. Sesekali ia berzikir dengan husyuknya dan tak jarang air matanya meleleh. Penampilannyapun perlahan-lahan sudah mulai berubah. Yang dulu setiap kali berangkat ke kampus selalu mengenakan celana jeans ketat, sekarang ia sudah bisa pake rok panjang, dan tak jarang ia pake baju gamis. Bak bidadari yang turun dari kayangan. Jilbab pendek yang dulu hanya sekedar menempel di kepala dan melilit di leher, sekarang mulai berubah menjadi jilbab besar nan cantik alias ” jilbaber

Sungguh benar-benar menakjubkan, sifat genit nan centilnya dulu kini telah luntur menjadi sifat seorang wanita muslimah yang sesungguhnya. Entah kemana Fitri yang dulu. Yang jelas Fitri yang sekarang jauh telah berubah 180° dari yang dulu. Ia selalu menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang membuat ia dekat dengan Allah. Sehingga ia tak sempat untuk berfikir berbuat maksiat lagi.

* * * * *

Sore itu Kota Bandung begitu cerah. Awan teduh menyelimuti bumi Parahiyangan nan indah ini. Di kejauhan angkasa terlihat layang-layang berterbangan seperti berlomba-lomba mencapai awan. Tak jarang ada laying-layang yang putus dan hilang dibawa oleh angin ke awan. Warna-warni layangan tersebut semakin menghiasi langit sore itu.

Sehabis shalat asar aku duduk sendirian di depan kotsan , di kursi teras depan. Sambil menikmati pemandangan indah sore itu, kurogoh kantong saku ku untuk mengambila hp, dan sejenak jemariku sibuk mengutak-atik hape Nokia N70 itu.

Sore itu entah setan apa yang merasuki hatiku, sehingga aku teringat akan Fitri pacarku yang sudah lama tidak aku temui apalagi ngobrol-ngobrol bareng seperti dulu. Iseng aku kirim sebuah sms kepadanya dengan gombal.

“Asw… sore!!!

Apa kabar dear…??” sms terkirim dari hape ku.

Tak berapa lama hp ku berbunyi, aku lihat ternyata balasan dari Fitri.

“alhamdulilah baik…” jawabnya singkat.

Tanpa fakir panjang aku balas sms itu.

” malam ni kita ketemua yuk…!aku tunggu di kantin taman bunga sambil makan malam bareng” ajakku.

Ok….! Jawabnya singkat. Hatiku berbunga-bunga.

Aku gak tau sore itu aku dirayu dan digoda oleh setan mana, sehingga aku berani ngirim sms kaya’ gitu.

Malam harinya tepat pukul 19.30 malam aku sudah berada ditempat yang dijanjikan. Dengan modal stile yang cukup, aku terus menunggu. Tanpa terasa, satu jam sudah aku menunggu, namun Fitri yang kutunggu-tunggu belum kunjung juga datang. ” apakah Fitri lupa??” fikirku dalam hati. Ah…entahlah…!

Hingga akhirnya aku berinisiatif untuk bertanya pada pelayan kantin yang tengah nyantai itu. Boleh jadi Fitri sudah duluan datang kesini dan pulang lagi. Aku bergegas menuju pelayan itu. Belum sempat aku bertanya, pelayan itu menghampiriku dan bertanya.

” apakah aa’ yang bernama Ari?…” Tanya pelayan itu ramah.

“iya…! Ada apa??” tanyaku balik penasaran.

” ini ada titipan surat dari seorang wanita kira-kira dua jam lalu…”

” wanita itu memakai jilbab pink panjang dan besar, pake baju gamis putih, yang jelas orangnya cantik sekali seperti seorang ustadzah muda yang sangat anggun.” Terang pelayan itu panjang dan lebar seraya menyerahkan surat itu kepadaku.

“terimakasih mbak…!” jawabku singkat sambil mengambil surat itu dan berlalu.

Aku semakin bingung, siapakah wanita kerudung panjang pake gamis putih nan anggun itu? Siapakah wanita yang telah mengirim surat ini. Berkecamuk pertanyaan itu dalam benakku. Hingga tanpa fakir panjang aku lansung membuka amplop surat itu dan membaca isinya:

Assalamu’alaiku warohmatullah wb

Buat

a’ Ary yang sedang

menunggu

Bismillah…

Semoga orang yang menulis dan membaca surat ini diampuni oleh Allah swt dan selalu berada dalam lindunganNya. Karna hanya lingdunganNya saja yang bisa menyelamatkan manusia dari segala hal apa pun.

A’ Ary…

Sebelumnya mohon maaf karena saya gak memenuhi janji untuk bertemu malam ini. Bukannya saya lupa pada janji atau tidak cinta lagi, dan bahkan membenci aa’. sungguh tidak….a’ !!. saya hanya malu …tak lebih dari itu. Malu pada diri saya sendiri terlebih lagi saya malu kepada Allah yang Maha Melihat. Karena saya baru sadar kalau selama ini saya tidak pernah merasa malu kepadaNya. Malu akan dosa-dosa kepadaNya dan malu kepada engkau yang terlalu suci untuk dinodai.

A’ Ary…

Tiga minggu yang lalu saya pernah kecewa kepadamu, rasanya benar-benar sakit dan sakit. Namun keperihan itu saya pendam dalam-dalam di sanubari. Saat aa’ tidak pernah lagi balas sms dari saya, saat aa’ mulai menjauh, saat aa’ gak pernah ngajak jalan bareng lagi. Jujur saya kecewa dengan perubahan aa’ ini. Mungkinkah ada orang lain di hati aa’ selain saya, begitu fikirku. Yang jelas saya bertekad suatu saat akan menghabisi orang yang telah merebut hatimu sehingga berpaling dariku. Ternyata saya salah. Seminggu setelah itu saya pernah mengikutimu diam-diam kesebuah pengajian bersama Wati. Dengan niat ingin tau siapa orang yang telah membutakan hatimu. Tapi di situ malah sebaliknya yang saya dapatkan. Betapa tausyiah-tausyiah dari ustadz yang saat itu mengisi ceramah perlahan masuk kedalam kalbuku dan menderaikan air mata mengenang dosa-dosa ini. A’ Ari terima kasih telah menyadarkan ku dengan sikapmu.

A’ Ary…

Betapa bodohnya saya, telah membuatmu terlena dalam rayuan saya dulu. Saya baru sadar ternyata hubungan yang kta jalani selama ini jauh dari rahmat Allah. Hubungan kita hanyalah sebuah jebakan setan untuk menyesatkan kita. Kita terjebak dalam cinta yang salah yang dihiasi nafsu belaka. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita berdua dulu.

A’ Ary…

Bantu saya dalam mencari cinta Allah. Bantu saya mendekatkan diri kepadaNya, karena saya baru tau cinta sejati adalah “Cinta Allah kepada hambaNya”. Bukun cinta kita yang selama ini, sungguh bukan….!!!. mulai saat ini kita lupakan cinta kita dulu. Cintakan hati kita sepenuhnya kepada Allah sekarang. Dan maafkan kalau untuk selanjutnya kita tidak akan menjalin hubugan seperti dulu lagi. Saya yakin aa’ jauh lebih mengerti dari saya.

Sekali lagi terimakasih telah menyadarkan saya….

Kalaupun kita ditaqdirkan berjodoh, InsyaAllah kita akan bersama lagi. Percayalah janji Allah a’…

Saya serahkan semuanya pada Allah….

Wassalam…wr wb

Ttd

(Fitri Dwi Anggraeni)

Betapa tersentak hatiku bagai disayat-sayat sembilu membaca surat itu. Betapa aku tidak percaya ke ajaiban semua ini Tak terasa air mataku menetes membasahi surat yang ada di tanganku. Oh…Tuhan benarkah dia yang wanita yang menulis surat ini? Benarkah dia yang berjilbab panjang bak seorang ustadzah kata pelayan tadi. Benarkah dia….ya Allah??? Benarkah dia telah berubah?? Gumam hatiku.

Ampuni hamba ya Allah telah berburuk sangka kepadanya, maafkan hamba yang telah mengecewakannya. Ampuni dosa hamba yang lemah dan bodoh ini ya Robb. Tunjukan kami jalan yang lurus. Jalan yang Engkau ridhai, bukan jalan orang-orang yang engkau murkai.

* * * * *

Sesampainya dikotsan, tak henti-hentinya hatiku beristighfar kepada Allah, memohon ampun kepadanya. Memohon petunjuk kepadanya. Berdoa semoga nikmat hidayah engkau tetapkan untuk kami berdua, dan seluruh orang mu’min.

Sejak saat itu mereka tidak pernah lagi menjalin hubungan yang dilarang oleh Allah itu. Keduanya sibuk mendekatkan diri kepada Allah. Malam-malam mereka dilalui dengan tahajjud dan larut dalam zikir-zikir kepadaNya. Selalu hadir kesetiap majelis-majelis ilmu.

Demikianlah salah satu cara Allah mentarbiyah hamba-hambanya. Jangan pernah menunggu hidayah. Tapi carilah hidayah itu.

By:

Fachry

Kritik dan saran kirim ke: frans_jornal@yahoo.co.id

Nb: cerpen ini special buat seseorang yang pernah dihatiku

Selengkapnya… di 23:23 Diposkan oleh TERSENYUMLAH KARNA SENYUM SEDEKAH

2 responses to ““KETIKA CINTA BERTARBIYAH”

  1. sudah ku habiskan banyak tisu..
    selama membaca tulisanmu Rul…
    sahabatku.. terimakasih atas nasehat2nya, yang membuatku mulai bangkit kembali dr keterpurukan..
    sungguh dulu aku tak suka melihatmu jalan dengan seorang wanita, tapi… malah akupun melakukan hal itu, berani jalan dengan seorang laki2..
    astagfirulloh….
    Cerpen ini menusuk2 hatiku…😦

  2. Subhanallah..
    I like it mz bro..
    May Allah bless us.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s