Engkau Harus Bertahan, Melatiku!

“Segar sekali engkau hari ini, Nisa..” Ayu memandang Nisa yang telah rapi dengan gaun muslimah coklat mudanya, yang dipuji hanya tersenyum dan berkata, “Alhamdulillah, Ayu juga..”

Hari libur sering dimanfaatkan kedua sahabat itu untuk bertukar fikiran, maklum, mereka hanya bisa bertemu sekali dalam seminggu atau bahkan sebulan sekali, karena kesibukan masing-masing. Walaupun demikian, komunikasi tetap berjalan. Keduanya kini sedang asyik bercanda di teras rumah Nisa yang sederhana. Ketika perbincangan sampai ke titik sentral.

“Kenapa tidak semua wanita Islam berusaha mencontoh Fatimathuzzahra, ya Yu”” tanya Nisa penuh keheranan.

“Mereka semua ibarat bunga dengan seribu satu macam warnanya. Tapi bukankah tetap Melati sebagai simbol kepribadian yang terindah, jumlah itu semakin langka kini, dan akankah mereka segera musnah ataukah memilih bersembunyi agar bisa menjaga diri”!”.

Pertanyaan yang cukup menggigit itu terlontar dari bibir Nisa, dan Ayu mulai menanggapinya.

“Jangan tanya kenapa Nisa..tapi cobalah untuk mengerti akan keadaan sesungguhnya!. Banyak faktor yang menyebabkan mereka seperti itu. Didikan keluarga, lingkungan sekitar, dan pendidikan yang salah menjadikan mereka tidak mengerti apa sebenarnya tanggung jawab mereka di bumi ini. Simbol Melati terlalu sederhana, sedangkan masih banyak bunga lain yang lebih menarik dan mempesona, tentunya setiap wanita menginginkan yang terbaik untuk dirinya, bukan” karena itulah, sebagian besar dari mereka memilih menjadi bunga-bunga yang lain”.

“Yach, menurut mereka baik tetapi tidak baik menurut Allah!” Nisa menghela nafas. “Nisa sediih, Ayu..”.

Ayu tersenyum. “Kesedihan tidak menyelesaikan masalah, Nisa..”

Kembali Nisa berusaha minta pendapat sahabatnya.

“Kenapa mereka tidak menyadari bahwa mereka tengah dimanfaatkan”..seharusnya dengan kekuatan rasa yang mereka punya, menjadikan mereka cerdas untuk mencintai diri dan mewujudkan akhlak bunga negeri ini! namun..rasa itu dipalingkan salah oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab!”

Kali ini Ayu mulai serius menanggapi keluhan Nisa.

“Iya.., seharusnya dengan kelebihan rasa itu mereka mencintai Allah lebih dari segala yang ada di dunia ini, ya Sa… Mencintai Allah dengan mengikuti Rasul_Nya, berakhlak Al Qur’an (akhlak Fhatimatuzzahra). Mencintai Allah dengan berusaha membuktikannya dengan melakukan segala amal perbuatan yang baik untuk mengharap keridhaan_Nya dan menghindari segala amal perbuatan yang dibenci_Nya. Kita harus memikirkan bagaimana cara merangkul mereka dengan sedaya upaya kita, Nisa..dengan kunci kesabaran, ketekunan, dan menyerahkan segalanya pada Allah”.

Kalimat-kalimat Ayu terasa sejuk di Qalbu Nisa. Seketika semangatnya bangkit kembali.

“Mudah-mudahan apa yang menjadi keinginan kita dikabulkan Allah, ya Yu..dengan perlahan menyadarkan mereka akan pentingnya akhlak Qur’ani. Semoga bunga-bunga itu akan disegani dan dihormati!”.

“Aamiin”. Ucap Ayu. Perlahan ia mengambil gitar, mengisyaratkan Nisa untuk bernyanyi. Nisa menyenandungkan syair gubahannya.

“Kau yang s’lalu kurindu, Kau yang s’lalu kuingin, kuharap setiap waktu, dalam Qalbuku. Kau yang s’lalu kucinta, kau yang s’lalu kupuja, kudamba setiap waktu dalam hidupku.

Subhanallaah, walhamdulillaah, walaa illaa ha ilallaah, wallaahu akbar. 2x

Kala kupandang bintang, jauh di atas awan, betapa indah ciptaan_Mu Tuhan. Kala kutatap dunia, dan seluruh isinya, betapa besar, kuasa_Mu, Tuhan”.

Lagu itupun berakhir, digantikan dengan suara Azan.

“Suara Azan itu lebih indah dari nyanyian kita, Ayu..dan suara insan yang membaca Firman Allah jauuh lebih indah dari seluruh alam semesta ini!”.

Nisa dan Ayu bergegas memenuhi panggilan Ilahi. Usai shalat dan berdo’a Nisa menghampiri meja kerjanya, ada tumpukan surat-surat melati (sahabatnya) di sana, yang menceritakan suka duka perjuangan mereka menghadapi kejamnya zaman dan keterpurukan akhlak insan dunia ini. Tak terasa air mata Nisa menitik, ia mendekap lembut surat-surat itu seakan merangkul semua melati-melatinya, dalam Qalbu ia berkata,

“Engkau Harus Bertahan, Melatiku!”.

Ayu melihat haru sahabatnya, kemudian menghampiri seraya berbisik. “Jangan sedih dan jangan takut, Nisa.. Allah senantiasa melindungi dan menolong hamba-hamba-Nya!”.

Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al Qalam 68:4)

Wahai Ummul mu’minin, kabarkanlah kepada kami tentang akhlak Rasulullah Saw. Aisyah berkata: Bukankah engkau pernah membaca Al Qur’an”. Jawab: Ya, Kata Aisyah: Akhlak Nabi Allah itu adalah Al Qur’an. (HR. Muslim)

Dari Aisyah binti Thalhah bahwasanya Aisyah Ummul mu’minin r.a pernah berkata: tidak seorangpun pernah kulihat mirip ucapan dan cara bicaranya dengan Rasulullah Saw lebih dari Fhatimah. Aisyah r.a berkata: Pernah kulihat ketika Fhatimah berjalan, jalannya itu persis dengan jalannya Rasulullah Saw. Aisyah r.a berkata: tidak kulihat seorangpun yang lebih afdhal sesudah Rasulullah Saw dari Fhatimah. (Thabrani)

*************************

“Engkau Harus Bertahan, Melatiku!”

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran 3:31)

Iman yang paling utama adalah bahwa engkau mencintai (seseorang) karena Allah dan membenci (seseorang) karena Allah. (At Thabrani)

sumber : ukhwah.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s