Rokok, Madu atau Racun?

Ibrohim (50) terbaring lemah di kamar kelas II sebuah Rumah sakit. Matanya cekung, pandangan matanya sayu. Badannya kurus kering, hanya tulang yang berbalut kulit yang tipis. Sudah sebulan ini dia masuk rumah sakit. Hasil ronsen dari dokter menunjukan dia terserang penyakit paru-paru yang sudah akut. .  Ibrohim memang terkena penyakit paru-paru dan asma sudah semenjak dia masih muda. Pada kertas ronsen yang bewarna hitam itu terlihat gambar paru-parunya yang sudah keropos.

Dokter menganjurkannya untuk di operasi, namun apa daya biaya yang begitu tinggi menjadi problem utama, sehingga ibrohim hanya menjalani perawatan biasa. Dokter yang merawatnya menyebutkan, penyakit paru-paru ini berawal dari kebiasaan merokok ibrohim yang sejak muda. Dia sudah kecanduan rokok. Bahkan sehari dia bisa menghabiskan  dua bungkus rokok tanpa makan nasi.

Akibatnya sekarang Ibrohim hanya bisa terbaring tak berdaya menunggu kesembuhan yang tidak pasti. Seminggu setelah ia pulang dari rumah sakit, ia pun menghembuskan nafas terakhirnya akibat penyakit paru-parunya.

Kejadian diatas adalah salah satu dari ribuan kejadian lain yang terjadi akibat dari rokok. Entah mengapa, rokok seperti suatu yang wajib dan tidak bisa ditinggalkan bagi mereka yang sudah kecanduan.

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lain. Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong. Sejak beberapa tahun terakhir, bungkusan-bungkusan tersebut juga umumnya disertai pesan kesehatan yang memperingatkan perokok akan bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan dari merokok, misalnya kanker paru-paru atau serangan jantung (walapun pada kenyataanya itu hanya tinggal hiasan, jarang sekali dipatuhi).

Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam.

Rokok mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin,dan karbon monoksida. Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru. Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker paru-paru yang mematikan. Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.Efek racun pada rokok ini membuat pengisap asap rokok mengalami resiko (dibandingyangtidakmengisapasaprokok): 14x menderita kanker paru-paru, mulut, dan tenggorokan 4x menderita kanker esophagus 2x kanker kandung kemih 2x serangan  jantung

Rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan gagal jantung, serta tekanan darah tinggi.

Penyakit Kanker Paru-paru tergolong dalam penyakit kanker yang mematikan, baik bagi pria maupun wanita. Dibandingkan dengan jenis penyakit kanker lainnya, seperti kanker prostat, kanker usus, dan kanker payudara, penyakit kanker paru-paru dewasa ini cenderung lebih cepat meningkat perkembangannya. Penyakit kanker paru-paru adalah sebuah bentuk perkembangan sell yang sangat cepat (abnormal) didalam jaringan paru yang disebabkan oleh perubahan bentuk jaringan sell atau ekspansi dari sell itu sendiri. Jika dibiarkan pertumbuhan yang abnormal ini dapat menyebar ke organ lain, baik yang dekat dengan paru maupun yang jauh misalnya tulang, hati, atau otak.

Penyakit kanker paru-paru lebih banyak disebabkan oleh merokok (87%), sedangkan sisanya disebabkan oleh zat asbes, radiasi, arsen, kromat, nikel, klorometil eter, gas mustard dan pancaran oven arang bisa menyebabkan kanker paru-paru, meskipun biasanya hanya terjadi pada pekerja yang juga merokok.

Rokok dan Anak-anak

Cool Wannabe,” itulah istilah yang dikenal dan dijadikan alasan bagi seorang anak di bawah umur untuk merokok. Beberapa alasan lain anak merokok hanyalah karena ingin tahu atau ‘coba-coba’, yang lainnya menganggap rokok adalah simbol kedewasaan tanpa pernah berpikir efek buruk rokok bagi kesehatan.

Penelitian membuktikan bahwa mereka yang mulai merokok di usia dini (11-15 tahun)  memiliki risiko 3 kali lebih besar untuk meninggal di usia muda dibandingkan mereka yang mulai merokok pada usia 20 tahun. Penelitian juga menemukan bahwa anak yang memiliki kebiasaan minum alkohol akan berkaitan erat dengan peningkatan kebiasaan merokok. Setiap tahun selalu memakan korban bahkan survey menunjukan setiap menit  8 orang meninggal akibat rokok. Seperti yang dilansir dari surat kabar republika:

Setiap Menit 8 Orang Meninggal Akibat Rokok

Gizi.netPemerintah berencana menaikkan harga jual rokok per 1 April mendatang. Langkah ini bertujuan untuk menambah penerimaan negara dari sektor cukai rokok. Apakah setelah itu jumlah perokok akan berkurang? Belum ada data yang pasti tentang penurunan jumlah perokok akibat kenaikan harga jualnya. Yang jelas, jumlah kematian akibat rokoklah yang terus bertambah. Yang mengherankan, kesadaran untuk menghentikan kebiasaan buruk ini di kalangan ‘pecandunya’ masih cukup rendah. Ini dapat terlihat dari tingginya konsumsi rokok.

Menurut praktisi kesehatan yang juga aktivis Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM 3), dr Tjandra Yoga Aditama, Indonesia adalah negara kelima terbesar di dunia dalam hal konsumsi rokok. Pada 2002, jumlah rokok yang dihisap oleh penduduk Indonesia mencapai 215 miliar batang. Urutan pertama ditempati Cina dengan jumlah 1.643 miliar batang, Amerika Serikat 451 miliar, Jepang 328 miliar, dan Rusia di peringkat keempat sebanyak 258 miliar batang.

Sekitar setengah dari jumlah perokok, kata Tjandra, akan meninggal akibat rokoknya. Separuh dari mereka yang meninggal itu akan tutup usia pada umur 35-69 tahun. ”Sekitar 100 juta orang meninggal akibat rokok di abad ke-20. Kalau situasinya tetap seperti ini, maka akan ada satu miliar orang yang akan mati akibat rokok di abad ke-21 ini,” ungkapnya pada seminar dan sosialisasi tentang Perda larangan rokok, yang diselenggarakan Mal Ciputra Jakarta, pekan lalu.

Pada 2000, lanjut Tjandra, kematian akibat rokok di kalangan pria di negara maju sebanyak 1,6 juta orang. Di negara berkembang sebesar 1,8 juta orang. Jadi, total pria yang meninggal akibat rokok sebanyak 3,4 juta orang. Sedangkan wanita di negara maju yang meninggal akibat benda ini sebanyak 0,5 juta orang. Di negara berkembang sebanyak 0,3 juta orang. Totalnya sebanyak 0,8 juta orang.

Dengan demikian, total kematian pada 2000 akibat rokok adalah 4,2 juta per tahun, atau 350 ribu per bulan, atau 11.666 per hari, atau 486 per jam. ”Tercatat ada delapan orang meninggal dunia setiap menit di dunia akibat rokok,” tegas Tjandra.
Ia melanjutkan, pada asap rokok terdapat sekitar 4.000 bahan kimia berbahaya. Asap ini terbagi dua, yaitu asap utama (main stream smoke) yang keluar dari pangkal rokok dan asap sampingan (side stream smoke) yang keluar dari ujung rokok.

Zat-zat berbahaya tersebut meliputi aseton (cat), ammonia (pembersih lantai), arsen (racun), butane (lighter fuel — bahan bakar ringan), kadmium (aki mobil), karbon monoksida (asap knalpot), DDT (insektisida). Selain itu juga hidrogen sianida (gas beracun), methanol (bensin roket), naftalen (kamper), toluene (pelarut industri), vinil klorida (plastik), dan masih banyak lagi.

Akibat yang ditimbulkan zat-zat berbahaya tersebut adalah gangguan pada paru, yaitu penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang meliputi bronkhitis kronik dan emfisema. Juga kanker paru (bukan karsinoma sel kecil dan karsinoma sel kecil), penurunan faal paru, dan penyakit paru lainnya.

”Rokok juga mengakibatkan gangguan reproduksi pada pria dan wanita. Pada pria berupa impotensi, infertilitas, dan gangguan sperma. Sedangkan pada wanita berupa nyeri haid, menopause lebih awal, dan infertilitas,” papar Tjandra.

Penyakit atau masalah lain yang ditimbulkan karena rokok adalah rambut (bau dan kotor), mata (berair, sering berkedip, katarak, degenerasi macula, kebutaan), kulit (keriput, penuaan dini), hidung (gangguan penciuman), gigi (diskolorisasi, plak, longgar, gingivitis), dan mulut (bau mulut, nyeri tenggorok, gangguan mengecap rasa). Berbagai jenis kanker juga mengancam para perokok. Antara lain kanker mulut yang berpotensi lima kali lebih besar, kanker tenggorok sembilan kali lebih besar, kanker kandung kemih dua hingga tiga kali lebih besar, kanker bibir, pipi, lidah, kanker pankreas, esofagus, dan kanker leher rahim.

Pada wanita hamil, rokok bisa menyebabkan keguguran, gangguan tumbuh kembang anak dan penyakit lain pada anak, gangguan oksigen janin, dan gangguan enzim pernapasan. Jika ibu merokok 10 batang per hari, maka kemungkinan anaknya akan menderita asma dua kali lebih besar. Karena itu kebiasaan merokok harus dihentikan. Caranya dengan mengenali bahaya rokok, ubah kebiasaan, lakukan secara berangsur-angsur, dan yang terpenting ada motivasi yang kuat untuk menghentikan rokok,

Sumber: http://www.republika.co.id/

Dana pengobatan memakan banyak dana yang harus dikeluarkan, sehingga menyebabkan uang tabungan kita akan habis teruras dan bahkan akan menghabiskan beberapa asset pribadi, karena dipakai untuk biaya pengobatan.

Riset membuktikan bahwa para perokok banyak yang berumur pendek karena serangan penyakit. Ada juga kisah pilu dimana istri seorang perokok (istri menjadi perokok pasif) terserang penyakit kanker paru paru dan akhirnya harus meninggalkan suami tercinta. Sang suami menjadi depresi berat menjalani hari-harinya karena perasaan bersalah. Belum lagi uang yang terkuras untuk pengobatan. Banyak perokok aktif maupun pasif yang tidak bisa melihat pernikahan anak-anak tercintanya, apalagi menimang cucu, karena baru berumur 40-50 tahun saja sudah terserang penyakit paru paru, sesak nafas, disfungsi ereksi, dan aneka penyakit lain yang muncul karena lemahnya daya tahan tubuh disebabkan sirkulasi darah yang tercemar racun nikotin ke seluruh tubuh. Pada akhirnya setelah dinyatakan terkena penyakit tersebut dan dilarang merokok oleh dokter, barulah berhenti. Bila pada akhirnya harus berhenti juga, bukankah lebih baik sebelum penyakit datang, kita berhenti merokok sekarang?

Beberapa kisah tragis para perokok berat ini diantaranya

Syamsuir, warga Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, kini tak bisa bicara lagi. Pasalnya, ia pernah terkena kanker pita suara. Sebabnya? Tak lain karena dia perokok berat selama 30 tahun. Satu hari tiga bungkus rokok ia sulut. Syamsuir bekerja sebagai tukang reparasi jam. Penghasilannya tak seberapa. Jadi, untuk kebiasaan merokok ia nyaris menghabiskan sebagian besar penghasilannya. Akibatnya? Di lehernya kini terdapat lubang besar bekas operasi yang pernah dijalaninya. Dan, yang lebih ia sesali: suaranya pun menghilang.

“Pasien Kanker Paru itu Akhirnya Meninggal”………Akibat Rokok!

Setelah  dirawat hampir selama 1 bulan pasien itu akhirnya meninggal karena gagal nafas. Satu (1) bulan sebelum masuk rumah sakit,  pasien, laki-laki 45 tahun mengeluh sesak nafas. Pada pemeriksaan memang ada cairan di paru kanan yang masif. Setelah dilakukan punksi cairan dan foto toraks ada gambaran massa di paru kanan yang sudah cukup besar. Melihat karakteristik hasil cairan yang dipuksi dan gambaran massa di paru, kemungkinan pasien adalah menderita kanker paru. Pasien memang punya riwayat merokok sejak umur remaja, waktu masih duduk di SMP. Rata-rata merokok 1-2 bungkus per hari. Rokokpun tidak memilih rokok kretek bisa, rokok putihpun mau, bahkan rokok dari daun nipahpun dihisapnya.

Bayi Meninggal Akibat Rokok

Ibu yang merokok atau sering terkena paparan asap rokok selama hamil bias menyebabkan tekanan darah bayinya menjadi abnormal. Tekanan darah abnormal menjadi penyebab kematian bayi mendadak. Tim peneliti dari Sweden’s Karolinksa Institute menemukan paparan asap rokok selama hamil bisa menyebabkan tekanan darah bayi menjadi abnormal bahkan hingga anak tersebut dewasa nanti. Tekanan darah yang abnormal membuat jantung harus memompa lebih cepat dan lebih keras. Studi menunjukkan kerusakan pada sirkulasi ini dapat menjadi faktor risiko pada sindrom kematian bayi mendadak (SIDS).

Dr Gary Cohen dan tim menganalisis 36 bayi yang baru lahir, 17 diantaranya lahir dari ibu yang merokok selama hamil. Saat bayi yang sering terpapar asap rokok tersebut diperiksa, menunjukkan adanya ketidaknormalan pada denyut jantung dan tekanan darahnya. Keadaan ini semakin memburuk sepanjang tahun pertama kehidupannya. Mereka mengungkapkan bahwa biasanya ketika seseorang berdiri detak jantung meningkat dan pembuluh darah menegang. Pada bayi dari ibu yang merokok, masalah tersebut terus menerus terjadi mulai dari lahir hingga 1 tahun pertama dan menjadi semakin buruk dari waktu ke waktu. Dr Cohen menambahkan selama beberapa waktu orang sudah mengetahui adanya pengaruh kardiovaskular pada kasus kematian bayi mendadak. Dan ini kemungkinan bisa menjelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi. Terpapar asap rokok sejak awal kehidupan membuat mekanisme kontrol tekanan darahnya terganggu.

“Hasil penelitian ini sangat masuk akal. Kematian bayi mendadak bisa dihindari dengan tidak membiarkan ada asap rokok di dalam ruangan yang sama dengan bayi. Selain itu sepertiga kematian bayi mendadak bisa dihindari jika ibunya tidak merokok selama hamil,” ujar Prof George Haycock, penasehat dari Foundation for the Study of Infant Deaths (FSID).

Sumber: http://www.detik.com

Cara sederhana berhenti merokok

Bersihkan semua benda yang ada di rumah anda yang masih menyimpan bau rokok. Hal ini bertujuan untuk menghindari munculnya ingatan lagi akan bau rokok. Cuci baju, sprei, handuk, selimut dan semua semuanya. Bila ada dana, belilah pengharum ruangan sehingga ruangan anda betul betul berubah dan tidak tercium lagi aroma rokok yang bisa memunculkan kerinduan terhadap rokok.

Jangan mencoba coba mencari pengganti rokok yang mengandung nikotin. Banyak dijual di pasaran permen karet yang mengandung nikotin sehingga anda bisa terbebas dari rokok tetapi anda akan makin terikat dengan nikotin. Memang banyak ahli yang menganjurkan cara ini, hanya saja harus dilakukan sesuai dengan anjuran dan dosis yang tepat. Alangkah baiknya bila permen nikotin anda ganti dengan permen karet atau permen mints sehingga menghilangkan aroma rokok pada mulut anda. Hilangnya rasa rokok pada mulut lama lama akan membuat anda melupakan rokok untuk seterusnya.

Biasanya perokok mempunyai jadual merokok yang tidak tertulis. Misal mereka merokok sehabis makan, merokok saat ngeblog, merokok saat antre kendaraan dan lain lain. Buatlah kegiatan lain pada waktu waktu itu sehingga anda tidak mengisi waktu itu dengan merokok. Misal sehabis makan anda bisa mengunyah permen atau makanan penutup. Saat ngeblog anda bisa makan kudapan, saat antre kendaraan anda bisa browsing atau membaca buku. Tidak mudah memang tetapi bila dilakukan dengan tekad penuh maka akan bisa anda lakukan.

Berolah raga dan minum cukup air akan membantu anda melupakan rokok. Aktifitas ini akan membuat tubuh anda tambah sehat dan membantu mengeluarkan toksin dan bahan bahan buruk dari rokok keluar dari tubuh. Berolah raga juga membuat anda melupakan rokok karena asyik berolah raga apalagi bila olah raga dilakukan di lingkungan yang banyak ada orang sehingga anda bisa bergaul juga.

Demikian sekelumit cara untuk mengenyahkan rokok dari hidup anda. Semua cara diatas akan berhasil bila memang ada tekad dari diri anda untuk berhenti merokok.

Industri rokok

Industri rokok ditanah air mungkin tengah berada dalam harapan yang tercabik itu : dibalik kepulan asap yang demikian memabukkan, terbentang jalan terjal yang pelan-pelan bisa membuatnya terkapar mati. Seperti nikmatnya asap tembakau yang secara pelahan akan membunuh penghisapnya, para produsen rokok ditanah air mungkin juga tengah meretas jalan yang sama : pelan-pelan mereka akan tersedot dalam asap yang membuat mereka bangkrut dan terbaring tewas.

Make no mistake. Industri rokok di tanah air tetap merupakan sebuah industri yang eksotis dengan jumlah perokok terbesar nomer tiga di dunia (setelah China dan India). Kian tahun juga makin banyak perokok belia yang dengan mudah terseret dalam pusaran asap yang terus menari-nari.  Itulah mengapa Philip Morris (alias Marlboro Man) mencaplok Sampoerna dan kemudian BAT melumat Bentoel. Sebab mereka percaya industri rokok di tanah air masih punya harapan yang gilang gemilang. Sebab mereka percaya, sangat mudah mengelabui rakyat Indonesia untuk masuk dalam jebakan candu yang mereka rajut dengan seringai senyum yang tak kenal ampun. Para kapitalis asing itu (juga para juragan lokal dari Kediri dan Kudus)  akan tertawa terkeh-kekeh setiap kali melihat kepulan asap membakar di setiap sudut pelosok negeri. Mereka tertawa sebab itu artinya mereka berhasil menyedot uang trilyunan rupiah dari kantong para perokok di segenap penjuru nusantara; dan kemudian menyimpan uang itu di markas mereka yang megah dan angkuh nun jauh disana – di pusat kapitalis dunia.

But, how long can you go? Sampai kapan seringai senyum kapitalis itu terus menerus menari dibalik kekonyolan para perokok di bumi pertiwi? Sampai kapan para kapitalis rokok global itu terus berdansa dibalik peluh para perokok yang terus ditipunya?

Mungkin tak lama lagi. Mengapa? Ada tiga alasan disini.

Yang pertama adalah Rencana Peraturan Pemerintah (RPP) sebagai tindak lanjut dari UU yang menyatakan rokok sebagai zat adiktif. Isi RPP ini antara lain adalah melarang habis iklan rokok dimanapun (baik di media cetak, bilboard yang sekarang ada dimana-mana itu, atau juga sebagai sponsor kegiatan musik, olahraga dll). Jika RPM ini disetujui, industri rokok dan para kapitalis dibaliknya, sungguh akan terkapar dan terluka parah.Lobi para produsen rokok segera bersatu dan melakukan serangan balik (dan tentu uang milyaran rupiah akan mengalir berceceran sebagai penyedap upaya lobi). Argumen klasik selalu dinyanyikan : nasib ribuan petani tembakau akan terdesak; dan hey, selama ini kami sudah menyumbang cukai triyunan rupiah kepada negara.

Sumbangan cukai ini sebenarnya dari para perokok, bukan dari produen. Dan asal tahu, uang yang dipakai oleh para perokok buat membeli sebungkus Dji Sam Soe atau A Mild itu ternyata – gilanya – banyak yang diambil dari jatah uang pendidikan anak dan uang makan keluarga sang perokok. Maksudnya, para perokok itu, meskipun miskin dan tidak punya banyak uang, lebih rela menggunakan uangnya untuk membeli rokok daripada untuk membayar SPP anak-anaknya, atau membeli lauk yang memadai buat keluarganya. Disini jelas : jutaan perokok yang mayoritas berasal dari kelas menengah ke bawah, tertipu oleh para produsen rokok; dan mereka lebih rela memberi uang kepada kapitalis rokok yang sudah kaya itu, dibanding menyekolahkan anak-anaknya. Jutaan anak-anak di Indonesia terampas masa depannya, hanya karena ayah mereka lebih memilih membeli rokok dibanding membayar uang sekolah. Sebuah ironi yang tragis. Dan aha…..para kapitalis rokok global itu terus tertawa terkekeh-kekeh melihat ironi ini……

Argumen para petani tembakau terdesak juga mitos. Jika RPP itu diberlakukan, permintaan tembakau tetap akan ada. Bahkan selama ini para produsen rokok Indonesia harus mengimpor tembakau (!) dari China karena kekurangan pasokan dari dalam negeri).

Alasan kedua mengapa industri dan bisnis rokok di tanah air akan mengalami penurunan adalah ini : kesadaran gaya hidup sehat yang terus tumbuh. Lihatlah tren olah tubuh yang kian banyak merasuk dalam gaya hidup masyarakat masa kini : ada yang rajin bersepeda ke kantor, giat melakukan futsal, atau juga tekun ber-gym ria untuk membuat tubuh selalu sehat. Semoga saja kesadaran ini membuat orang makin menjauhi pekatnya asap rokok yang membius dan mematikan itu.

Banyak pihak yang kemudian juga berharap agar kesadaran itu membuat gerakan serentak : yakni menjadikan para perokok sebagai pesakitan yang layak dijauhi karena membuat lingkungan tidak sehat. Dulu, ketika saya sekolah di Amerika, saya melihat hal itu terjadi : teman-teman saya yang perokok – dan jumlahnya sedikit sekali – pelan-pelan selalu dijauhi karena dianggap hanya membawa asap rokok yang penuh racun. Akibatnya jelas : para perokok itu menjadi terisolasi dan terkucil dari lingkaran pergaulan.

Alasan terakhir : makin banyak gerakan masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat yang menekan ruang gerak industri rokok. Beberapa diantaranya bahkan membuat langkah kreatif : membuat pencitraan para produsen rokok sebagai monster kapitalis yang rakus dan merampas masa depan anak-anak miskin Indonesia. Pencitraan semacam ini menarik sebab ternyata lebih efektif dibanding kampanye peringatan bahaya merokok yang tertera di setiap bungkus dan iklan rokok itu.

Dalam sejumlah riset neurologi, ternyata slogan bahaya merokok itu justru mendorong orang untuk makin banyak merokok ! Setelah diteliti ternyata ada bagian sel saraf otak yang cenderung mendorong orang melakukan hal kebalikan dari apa yang tertera dalam sebuah peringatan (termasuk peringatan bahaya merokok). Jadi para penelit itu berkesimpulan, kalimat bahaya merokok itu justru menguntungkan para produsen rokok. Nah lho.

Sebaliknya, dalam sejumlah eksperimen iklan, digambarkan para produsen rokok sebagai monster yang rakus dan merampas hak masa depan anak-anak; dan harus dilawan oleh sekumpulan anak muda yang idealis dan memperjuangkan nasib masyarakat. Ajaibnya, ketika iklan eksperimen ini ditayangkan, jumlah anak muda yang merokok turun drastis. Alasannya jelas : bagi anak muda yang tengah mencari jati dirinya, citra anak muda idealis yang melawan kemungkaran itu bagaikan hero yang menancap di benaknya. Sebaliknya mereka juga malu untuk merokok sebab itu artinya menyamakan mereka dengan monster rakus yang mencabik nasib dan masa depan anak-anak (kalau saja saya punya uang banyak, saya akan menayangkan iklan ini di televisi dan koran-koran. Dijamin angka penjualan A Mild dan Djarum Super pasti akan menurun drastis.

Demikianlah tiga alasan kunci mengapa industri rokok di tanah air tengah berkemas menuju ladang pembantaian yang mematikan. Selama ini pelan-pelan mereka telah membunuh jutaan perokok di tanah air menuju alam baka (jumlah orang yang mati karena kegiatan teroris di tanah air sungguh tak ada bandingannya dibanding mereka yang gugur lantaran asap rokok yang mematikan. Cuma bedanya kalau para teroris terus diburu dan ditembak mati, maka para produsen rokok itu dibiarkan leyeh-leyeh di rumahnya yang megah dan bertebaran di manca negara.

Mungkin harus tiba saatnya, industri rokok Indonesia menemui nasib seperti korbannya : terjerat asap yang membius dan pelan-pelan membawa mereka menuju sakaratul maut. Jutaan org kehilangan kerjaan krn penyakit2 tsb yg jauh lebih banyak dari orang yg dpt kerjaan di pabrk rokok

Solusi Pemberantasan Rokok

Betapa sulitnya memberantas kebiasaan merokok. Hampir semua orang mengetahui bahwa racun nikotin yang terdapat dalam asap rokok membahayakan bagi kesehatan. Bukan hanya untuk perokok itu sendiri melainkan juga untuk orang-orang disekitarnya yang ikut menghisap asap tersebut (perokok pasif). Selain itu, asap rokok juga mengganggu hubungan sosial antara perokok dan bukan perokok.

Menurut Sarlito Wirawan Sarwono (Psikologi Lingkungan,1992) orang-orang yang merokok tidak mau menghentikan kebiasaannya karena beberapa alasan, antara lain :

Faktor kenikmatan (kecanduan nikotin).,Status ( simbol kelaki-lakian).,Mengakrabkan hubungan sosial sesama perokok.

Pengendalian masalah rokok sebenarnya telah diupayakan diantaranya melalui penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dibeberapa tatanan dan sebagian wilayah Jakarta, Kota Bogor, Kota Cirebon dan sebagainya.Begitu juga beberapa lintas sektor seperti Departemen Perhubungan dengan menetapkan penerbangan pesawat menjadi penerbangan tanpa asap rokok, Departemen Pendidikan Nasional menetapkan sekolah menjadi kawasan tanpa rokok, serta beberapa Pemda yang menyatakan tempat kerja sebagai kawasan tanpa asap rokok.

Kawasan Tanpa Rokok adalah ruangan atau arena yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan produksi, penjualan, iklan, promosi,  ataupun penggunaan rokok. Penetapan Kawasan Tanpa Rokok merupakan upaya perlindungan masyarakat terhadap risiko ancaman gangguan kesehatan karena lingkungan tercemar asap rokok. Penetapan Kawasan Tanpa Rokok perlu diselenggarakan di tempat umum, tempat kerja, angkutan umum, tempat ibadah, arena kegiatan anak-anak, institusi pendidikan dan tempat pelayanan kesehatan.

Tujuan umum dari Kawasan Tanpa Rokok  adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat rokok. Sedangkan tujuan khusus penetapan Kawasan Tanpa Rokok adalah :

  • Mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, aman, dan nyaman.
  • Memberikan perlindungan bagi masyarakat bukan perokok.
  • Menurunkan angka perokok.
  • Mencegah perokok pemula.
  • Melindungi generasi muda dari penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA).

Disamping itu, manfaat penetapan Kawasan Tanpa Rokok adalah :

Bermartabat, yakni menghargai dan melindungi hak asasi bukan perokok.

Meningkatkan produktivitas, mengurangi beban biaya hidup, menurunkan angka kesakitan. Menciptakan tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja, institusi pendidikan, arena kegiatan anak-anak, tempat ibadah dan angkutan umum yang sehat, aman dan nyaman.

Dari keterkaitan berbagai aspek yang ada dalam permasalahan merokok, maka penanggulangan masalah merokok bukan saja menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan tanggung jawab berbagai sektor yang terkait dengan minimal menetapkan Kawasan Tanpa Rokok di tempat kerja masing-masing. Penetapan Kawasan Tanpa Rokok diberbagai tatanan dapat diwujudkan melalui penggalangan komitmen bersama untuk melaksanakannya. Dalam hal ini peran lintas sektor sangatlah penting untuk menentukan keberhasilan dari penetapan Kawasan Tanpa Rokok sebagai salah satu upaya penanggulangan bahaya rokok.

Rendahnya kesadaran masyarakat tentang bahaya rokok menjadi alasan sulitnya penetapan Kawasan Tanpa Rokok yang ditunjukkan dengan keadaan hampir 70% perokok di Indonesia mulai merokok sebelum umur 19 tahun. Bahkan data Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) 2003 meyebutkan usia 8 tahun sudah mulai merokok.

Pelarangan iklan rokok juga cukup membantu dalam proses pemberantasan rokok, seperti yang dilansir dari Koran Kompas berikut:

JAKARTA, KOMPAS.com – Selambatnya pada akhir tahun 2010, iklan rokok, termasuk iklan rokok di media massa, dilarang. Peraturan pemerintah tentang larangan tersebut kini sedang dibuat Departemen Kesehatan dan sejumlah mitra terkaitnya.

Demikian disampaikan anggota pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi kepada pers, di sela dialog interaktif penegakan kawasan dilarang merokok (KDM) di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Senin (21/12/2009).

Ia menjelaskan, sesuai perintah undang-undang, setahun setelah Undang-Undang (UU) nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan disahkan, peraturan pemerintah (PP) yang mengatur pelaksanaan UU tersebut sudah harus dilakukan.

Jadi, kalau UU nomor 36 disahkan bulan November 2009, maka PP-nya harus sudah diberlakukan November 2010. Itu artinya, mulai akhir tahun 2010, iklan rokok dilarang,” tegas Tulus.

Ia memaparkan, pada pasal 113 ayat dua UU ini disebutkan, tembakau atau rokok masuk kategori produk adiktif atau zat adiktif. Oleh karena itu, tidak boleh diiklankan seperti halnya minuman keras atau alkohol. ”Penjualannya pun tidak boleh dilakukan sembarangan seperti sekarang. Perusahaan rokok juga dilarang mensponsori kegiatan olahraga,” ucap Tulus.

Ia mengatakan, larangan iklan rokok bertujuan menghentikan bertambahnya para perokok. Tulus berpendapat, iklan rokok cenderung menciptakan pasar yang agresif. ”Iklan rokok didisain menciptakan pasar baru. Kalau iklan rokok dibiarkan, maka bila sampai sekarang jumlah rokok yang terjual setahun mencapai 235 miliar batang rokok, maka tahun 2015-2020 bisa mencapai 260 miliar batang rokok.

Tidak menghentikan

Tulus mengingatkan, larangan iklan rokok tidak menghentikan pasar rokok, tetapi hanya membuat pasar rokok tidak bertambah luas. ”Larangan iklan rokok di Thailand sudah berlangsung sejak 30 tahun lalu. Pasarnya tetap ada, hanya relatif tetap. Tidak atau lamban bertambah,” tuturnya.

Dalam dialog tentang KDM, Tulus mengingatkan, berdasarkan Perda nomor dua tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara yang antara lain mengatur tentang larangan merokok di angkutan umum ditegaskan, pelanggar diancam hukuman denda Rp 50 juta. Meski demikian, pengelola terminal yang dianggap sebagai penanggung jawab, hanya bisa mengingatkan atau menegur, bukan menindak.

”Aturannya rumit, tapi tanpa memperhatikan tenaga penindaknya. Sebagai penanggung jawab terminal, saya sendiri pesimis tentang perubahan perilaku perokok di terminal. Apalagi dengan terbatasnya personel. Personel kami cuma 20 orang. Itu pun dibagi dalam tiga babak, pagi-siang-malam. Mereka bekerja mengendalikan lahan seluas sehektar di terminal ini,” ujar Kepala Terminal Kampung Rambutan Hatta menanggapi soal KDM.

Ia bisa dilakukan anggota, lanjutnya, hanya mengingatkan lewat pengeras suara menara agar para perokok merokok di tempat yang sudah ditentukan. ”Kalau secara intensif para petugas kami diminta terus mondar-mandir mengawasi para perokok di terminal, ya repot. Tugas lain bisa terbengkalai,” ucap Hatta.

Survei YLKI Juli 2009 menyebutkan, sebanyak 89 persen angkutan umum melanggar ketentuan KDM. ”Itu artinya, hampir semua angkutan umum memiliki kebiasaan untuk merokok di dalam angkutan umum,” tulis YLKI dalam siaran persnya.

Padahal, menurut Peraturan Gubernur DKI Jakarta nomor 75 tahun 2005, KDM di angkutan umum adalah KDM 100 persen yang artinya, tak seorang pun penumpang boleh merokok. Menurut survei YLKI itu, mereka yang paling banyak merokok di angkutan umum adalah supir (43 persen), penumpang (40 persen), dan kenek (17 persen).

Pandangan penulis

Dan akhirnya, rokok memang ada manfaatnya, tapi justeru mudharat yang ditimbulkannya jauh lebih besar dari pada manfaatnya. Tergantung dari segi mana kita memandangnya dari segi mana.

Maka wajar kalau Muhammadiyah dan MUI akhir-akhir ini mengeluarkan stetmen bahwa merokok itu hukumnya adalah haram. Mungkin ada benarnya juga karena mereka memandang dari segi manfaat dan mudharatnya.

Kalau seandainya pemerintah mau, pabrik rokok bisa ditutup, karena itulah solusi terbaik untuk mengurangi angka kematian akibat rokok ini. Masalah karyawan perusahaan rokok yang merasa dirugikan akibat kehilangan pkerjaannya, pemerin tah bisa mengganti pbarik rokok dengan  pabrik lain, seperti pabrik makanan, industri pakaian dan lain-lain, sehingga pengangguran bisa diatasi. Terakhir saya persembahkan sebuah puisi

Tak perlulah dipaksakan untuk berhenti merokok
tetapi paksakanlah diri untuk mencintai Hidup
Tak perlu lah dipaksakan Membuang Rokokmu
Tetapi paksakanlah diri untuk Membuang Gengsimu

Tak perlulah dipaksakan Untuk Menghilangkan Pergaulanmu
Tapi dipaksakan lah diri untuk Mencitrakan Pergaulanmu
Tak perlulah dipaksakan untuk merendahkan Harga dirimu
Tapi paksakan untuk membuat dirimu lebih berharga

One response to “Rokok, Madu atau Racun?

  1. Pingback: GERANK dot com | Blog | Rokok, Madu atau Racun?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s