MANAJEMEN PENERBITAN


UNESCO, salah satu badan di bawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melaporkan, Indonesia pada tahun 1973 mengalami book starvation (paceklik buku). Saat itu, Indonesia tidak menerbitkan satu judul buku pun. Sementara di luar tahun itu, produksi buku di Indonesia berkisar 10.000 judul.
Berbeda dengan negara lain. Jepang contohnya, setiap tahunnya menerbitkan 60.000 judul buku, sementara Inggris jauh lebih besar lagi mencapai 110.155 judul buku. Fenomena tersebut baru ditinjau dari sisi judul buku, belum dilihat dari sisi oplah (jumlah tiras buku yang diterbitkan). Seharusnya, penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta, produksi bukunya lebih besar ketimbang negeri tetangga, termasuk Jepang dan Inggris.
Banyak faktor, mengapa produksi judul dan jumlah buku di Indonesia terbilang rendah. Selain karena daya beli masyarakat, ternyata faktor reading habit (kebiasaan membaca) sangat menentukan. Berdasarkan data, minat baca masyarakat Indonesia untuk kawasan Asia Tenggara saja menduduki peringkat keempat, setelah Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Prof. Sigeo Minowa dari Jepang pernah meneliti jumlah uang yang dikeluarkan oleh rakyat Indonesia untuk membeli buku. Dengan menggunakan parameter Book Production Consumption (BPC), diperoleh angka 0,144% untuk Indonesia, dengan asumsi produk buku tahunan 215 juta eksemplar, dan harga jual rata-rata Rp 4000. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan Filipina (0,286%) dan negara-negara maju yang mencapai 0,35% (Laporan UNDP, 1994 dalam Taryadi, 1999).
Selama lima belas tahun terakhir, sirkulasi rata-rata per judul buku di Indonesia ditengarai terus menurun. Tahun 2003, IKAPI hanya memproduksi 4000 judul buku baru, jauh dibandingkan Malaysia 10.0000, Jepang 44.000, Inggris 61.000 judul, dan Amerika 65.000 judul.
Dalam dunia penerbitan, ada dua bentuk penerbitan (publishing), yaitu independent publishing dan self-publishing. Independent publishing umumnya adalah sebuah penerbitan mandiri yang dikelola secara independent. Sedangkan self-publishing adalah kegiatan menerbitkan karya-karya sendiri. Dewasa ini jenis penerbitan independent publishing dan self-publishing semakin marak.
Bila dahulu para penulis yang mencari-cari penerbit mana yang kira-kira bisa menerbitkan naskah tulisannya untuk dijadikan sebuah buku. Namun, sekarang dengan banyaknya bermunculan para penerbit independent, keadaannya justru malah kebalikannya. Banyak para penerbit yang berusaha mencari penulis. Bahkan mereka memberikan kemudahan dan berani memberikan royalty yang lebih tinggi dibandingkan penerbit besar.

Manajemen Penerbitan
Manajemen menurut arti katanya adalah proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Dengan adanya manajemen dalam suatu perusahaan diharapkan maka hasilnya menjadi lebih meningkat dan lebih baik dari sebelumnya. “Bagaimana dengan modal sekecil-kecilnya dan sedikit mungkin, bisa membawa hasil yang besar dan banyak. Sehingga perusahaan bisa diuntungkan.”
Dalam penerbitan, manajemen pun diperlukan. Terlepas apakah sistem manajemen yang dijalankan oleh seorang diri atau oleh sekelompok orang. Manajemen yang dijalankan oleh satu orang tentunya akan memiliki hasil terbatas, dibandingkan yang dilakukan oleh sekelompok orang. Sebab semakin berkembang usaha penerbitan yang dijalankan seseorang, maka dituntut adanya penambahan jumlah personil yang membantu dalam bidang manajemennya.

Beberapa faktor pendukung:
1. SDM: mencakup orang-orang yang berkecimpung di dalam penerbitan ini. Setidaknya ada tiga orang, meliputi bidang keuangan (tugasnya mencatat perputaran keluar masuknya buku dan keluar masuknya uang); bidang pendistribusian, bertugas menyebarkan buku-buku yang sudah dicetak untuk disalurkan ke toko buku atau kepada konsumen langsung; bidang strategi dan perencana, yang mengurusi bagaimana melakukan terobosan-terobosan baru agar buku-buku yang sudah dihasilkan bisa didistribusikan dan sampai ke tangan konsumen dengan baik. Sehingga buku-buku yang sudah dicetak tidak numpuk di gudang, melainkan laku dibeli orang.
2. Uang: berperanan penting dalam usaha ini, sebab tanpa uang maka usahanya ini akan menjadi mandek dan mati. Uang di sini berfungsi sebagai modal. Baik untuk membeli barang-barang bergerak (ex. Mobil) maupun benda tak bergerak (ex. Computer, meja-kursi, alat tulis, bahan baku, dll). Uang juga diperlukan untuk menggaji semua pegawai. Selain itu, adanya uang yang cukup (diharapkan lebih) bisa meningkatkan mutu (baik dari segi quantitas maupun qualitas).
3. Perencanaan: diperlukan untuk menentukan langkah-langkah apa untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di kemudian hari. Apa yang mesti dilakukan apabila mendadak sejumlah judul buku yang dihasilkan laris manis dipasaran. Atau apa yang harus dilakukan apabila buku-bukunya masih numpuk di gudang, tanpa ada yang membeli. Apakah mesti dilakukan obral besar-besaran? Bila dirasa perlu bisa saja.
4. Target dan Promosi: menetapkan siapa sajakah yang menjadi pangsa pasar perusahaan. Apa anak-anak atau orang dewasa? Rohani atau umum? Buku pelajaran atau buku tambahan? Dalam satu bulan berapa banyak buku yang harus laku dipasaran? Apa mesti mengiklankan usaha kita? Bila perlu barter dengan produk lain. Bisa juga dengan membagikan beberapa buku secara gratis (sebagai salah satu cara menarik pembeli).
5. Penjualan: titip di toko buku, grosir atau distributor, penjualan langsung (face to face) atau online. Tentunya masing-masing memiliki keuntungan dan kelemahan.

Hak Cipta
Peraturan tentang hak cipta sesungguhnya telah ada sejak jaman Belanda, yakni dengan diberlakukannya UU Hak Cipta tahun 1918. Undang-undang tersebut kemudian digantikan dengan UU No. 62 tahun 1982. Namun isinya dianggap kurang tegas terhadap pelaku tindak kejahatan pembajakan buku. Dalam UU ini ancaman hukuman yang berlaku adalah paling lama 9 bulan dengan denda Rp 5 juta. Baru pada tahun 1987, muncul UU No 7 tentang Hak Cipta , yang menegaskan ancaman hukuman maksimal 7 tahun dengan maksimal denda Rp 100 juta. Begitupun, ternyata pembajakan masih tetap merajalela.
Contoh Penerbit ANDI Yogyakarta
I. PENERBIT ANDI
1.1. SEKILAS PENERBIT ANDI
Sejak awal didirikan Penerbit ANDI konsisten dalam kiprahnya di dunia penerbitan di mana lebih fokus pada buku komputer dan manajemen. Dengan berjalannya waktu serta komitmen perusahaan terhadap kualitas buku yang secara teguh dipegang, menyebabkan buku-buku Penerbit ANDI mendapat tempat tersendiri dihati masyarakat. Peningkatan mutu buku dilakukan baik dengan penyaringan naskah para penulis lokal, maupun bekerja sama dengan penerbit-penerbit luar yang sudah memiliki nama seperti Prentice Hall yang sekarang Pearson Education Asia, Mc Graw Hill, John Wiley, Mac Millan, Bengk Karlof, Harvard dll, serta didukung sumber daya penerbitan dan percetakan yang baik.
Semua itu, tanpa didukung oleh ketersediaan buku di pasar tidaklah lengkap. CV. ANDI Offset sangat aktif dalam memperluas cakupan pemasaran oleh karena itu buku ANDI memiliki jaringan yang luas di seluruh pelosok tanah air, baik di Jawa ataupun di luar Jawa. Hal tersebut sangat mendukung dalam ketersediaan maupun kemudahan buku ANDI didapat / diperoleh masyarakat.

1.2. HUBUNGAN ANTARA PENULIS DAN PENERBIT
Penulis dengan Penerbit memiliki kedudukan setara, dimana secara umum Penulis memandang Penerbit bertindak sebagai intermediary karya-karya yang akan disampaikan kepada masyarakat, sedangkan Penerbit memandang penulis sebagai aset penting perusahaan yang menyebabkan proses penerbitan tetap berlangsung. Secara umum timbulnya dorongan untuk menulis diantaranya sebagai berikut; meningkatkan kredit poit (bagi pengajar), meningkatkan kredibilitas, dan alasan Finansial. Hal tersebut yang memotivasi penulis untuk menghasilkan suatu karya ilmiah yang bermutu.
Kelebihan yang dimiliki Penerbit ANDI adalah sebagai berikut:
Buku ANDI telah memiliki Brand Name tersendiri di hati masyarakat.
Memiliki jaringan distribusi yang luas.
Memiliki mesin cetak sendiri sehingga hasil, kecepatan, dan kualitas dapat diatur dengan baik.
Memiliki sistem royalti yang jelas, jujur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan sinergi kerjasama antara Penulis dengan Penerbit akan memberikan hasil berupa penerimaan masyarakat terhadap buku terbitan ANDI.

1.3. BENTUK ROYALTI PENERBIT ANDI
Secara umum Penerbit ANDI memberikan royalti sebagai berikut: Besar royalty standard adalah berkisar antara 10% sampai 15% per semester, dengan ketentuan sebagai berikut:
· Bagi penulis yang baru pertama kali memasukkan terbitannya ke Penerbit ANDI, berhak mendapat 10% dengan perhitungan: 10% x harga jual x oplah (potong pajak)
· Bagi penulis yang sudah minimal 3 kali atau lebih menerbitkan ke Penerbit ANDI, berhak mendapat 15% dengan perhitungan: 15% x harga jual x oplah (potong pajak)
Mengingat Penerbit ANDI memiliki bentuk kerjasama yang beragam pada saluran distribusi pemasaran maka perhitungan royalti adalah berdasarkan buku yang benar-benar telah terbayar lunas, maksudnya buku yang sifatnya konsinyasi atau kredit belum dianggap sebagai buku laku. Dalam hal ini Penerbit ANDI akan selalu menjaga kejujuran dan kepercayaan kepada semua relasinya demi menjaga nama baik Penerbit ANDI.

1.4. BENTUK KERJASAMA PENERBITAN
Bentuk Kerjasama penerbitan yang ditawarkan Penerbit ANDI melingkupi:

1.4.1. Kerjasama Penerbit dengan Penulis: Merupakan kerjasama antar Penerbit dengan Penulis secara individu untuk menerbitkan sebuah buku.
1.4.2. Kerjasama Penerbit dengan Lembaga: Merupakan kerjasama antar Penerbit dengan sekelompok penulis yang telah dikoordinasi oleh Lembaga / Institusi untuk menerbitkan sebuah buku. Dalam hal ini Penerbit hanya berhubungan dengan Lembaga / Institusi yang telah diberi kepercayaan oleh penulis.
1.4.3. Kerjasama Umum: Kerjasama cetak, Penerbit hanya membantu dalam jasa percetakannya seperti buku jurnal ilmiah dan sebagainya. Kerjasama cetak dan penerbitan, Penerbit bekerjasama dengan Perorangan / Lembaga untuk menerbitkan sebuah buku dengan tanggungan biaya penerbitan bersama.
1.5. PROSEDUR PENERBITAN BUKU
1.5.1. Materi yang Harus Dikirim. Yang harus dikirimkan ke penerbit adalah:
1. Naskah final, bukan outline ataupun draft, yang disertai dengan:
· Kata Pengantar
· Daftar Isi
· Daftar Gambar*
· Daftar Tabel*
· Daftar Lampiran*
· Isi
· Daftar Pustaka
· Indeks*
· Abstrak (sinopsis)
Catatan: *Tidak perlu disertakan bila memang tidak ada. Penulis diharapakan mengikuti standart Format Penulisan pada sub-bab 1.6
2. Memberi penjelasan mengenai: pasar sasaran yang dituju, prospek pasar, manfaat setelah membaca buku ini.
Profil penulis, memberi keterangan singkat tentang penulis.
1.5.2. Penilaian Naskah
Ada lima sisi , Penerbit menilai naskah:
1.5.2.1. Sudut Ideologis
Apakah topik bertentangan dengan UUD45 dan Pancasila, serta mengandung kerawanan akan kondisi masyarakat seperti : politik, hankam, sara, sopan santun, hargadiri, prifacy dll.
1.5.2.2. Sudut Keilmuwan
· Apakah topik yang dibahas merupakan topik baru bagi masyarakat, dan apakah masyarakat sudah siap menerima topik tersebut?
· Apakah naskah tersebut gagasannya asli atau jiplakan karena hal ini sangat berpengaruh terhadap image penerbit.
· Terkait dengan akurasi data maka diperlukan sumber daftar pustaka yang lengkap.
1.5.2.3. Sudut Penyajian
· Sistematika kerangka pemikiran yang baik sehingga alur logika pemaparan mudah dipahami.
· Bagaimana bahasa yang digunakan apakah komunikatif sesuai dengan jenis naskah dan sasaran sesuai pembaca?.
· Apakah cara penulisannya sudah benar yaitu menggunakan bahasa dan cara penulisan yang baku?
1.5.2.4. Sudut Fisik Naskah
· Kelengkapan naskah secara fisik seperti kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, batang tubuh, daftar gambar, tabel, lampiran, index, pustaka, sinposis dsb.
Pengetikan menggunakan apa, apakah tulis tangan, diketik manual, ketik komputer menggunakan softwere teretntu?
Mutu gambar, table dan objek lain yang dipasang (capture) apakah layak atau masih harus mengerjakan lagi?.
Apakah urusan administrasinya beres seperti izin penggunaan gambar tertentu, izin terjemahan dll?
1.5.2.5. Sudut Pemasaran
· Apakah tema naskah mempunyai pangsa pasar jelas dan luas sehingga buku akan dapat dan mudah diterima pasar?
· Apakah naskah memiliki selling point atau potensi jual tertentu?, seperti judul, keindahan, bahasa, kasus aktual dsb.
· Apakah ada buku sejenis yang beredar dan telah diterbitkan?. Apa kelebihan naskah tersebut dibandingkan dengan buku tersebut?
· Apakah diperlukan perlakuan khusus dalam memasarkannya atau perlu promosi khusus?.

1.5.3. Keputusan Menerima Maupun Menolak Suatu Naskah
1.5.3.1. Untuk Apa dan Mengapa Penerbit Harus Menilai Naskah
Penerbit adalah suatu badan usaha yang bercita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; mengusahakan, menyediakan, dan menyebarluaskan bagi khalayak umum, pengetahuan, pengalaman hasil karya ilmiah para penulis dalam bentuk suatu sajian yang terpadu, rapi, indah, dan komunikatif baik isi maupun kemasan fisiknya, melalui tata niaga yang dibangun untuk maksud tersebut, dan bertanggung jawab atas segala resiko yang ditimbulkan oleh kegiatannya.
· Dari pengertian mengenai penerbitan di atas dapat disimpulkan bahwa penerbit tidak memiliki maksud untuk menghakimi hasil karya penulis, sehingga tidak ada alasan untuk tidak menghargai karya tersebut karena pengarang adalah “sumber kehidupan” bagi penerbitan.
· Penilaian naskah bukan untuk menjatuhkan vonis atas naskah yang dinilai baik atau buruk, layak terbit atau tidak layak terbit tetapi merupakan langkah untuk mempertimbangkan apakah dengan menerbitkan naskah tersebut usaha penerbitan secara keseluruhan dapat melelui proses dengan baik dan dapat mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan atau tidak atau dengan kata lain bahwa penilaian naskah merupakan salah satu upaya memaksimalkan proses sertahasil usaha penerbitan.
· Proses penilaian ini mau tidak mau harus terjadi sehingga perlu adanya komunikasi yang baik antara penerbit dan penulis seperti penerbit jangan meremehkan dan menganggap rendah suatu naskah atau penulis merasa naskahnya sudah yang paling baik.

1.5.3.2. Keputusan Naskah
Setelah Penulis menyerahkan naskah pada Penerbit, paling lambat 1 bulan, Penerbit akan memberikan keputusan untuk terbit atau tidak, yang akan disampaikan melalui surat resmi kepada Penulis.
· Untuk naskah yang diterima, Penerbit akan mengirim surat pemberitahuan resmi akan penerimaan tersebut, serta meminta kelengkapannya – softcopy.
· Untuk naskah yang ditolak akan dikembalikan kepada Penulis bersama dengan pengiriman surat keputusan perusahaan.
1.5.4. Pengiriman Softcopy; Disket atau CD
Anda dapat mengirimkan softcopy naskah dengan cara:
Lewat pos / paket ditujukan:
Penerbit ANDI
Jl. Beo 38-40 Yogyakarta 55281
Telp (0274) 561881; Fax (0274) 588282
Datang langsung ke kantor penerbit dan menemui editor.
Lewat email: andi_pub@indo.net.id

1.6. FORMAT NASKAH
1.6.1. Format Naskah Siap Cetak
Format pengaturan naskah dapat menggunakan Template yang disediakan oleh Penerbit Andi. Format ini merupakan Template standard yang dapat disesuaikan dengan naskah yang sedang ditulis.
Format naskah siap cetak, yang dapat Anda serahkan setelah naskah disetujui untuk diterbitkan adalah sebagai berikut:
· Jenis huruf untuk teks isi: Bookman Old Style, New Century School Book atau Times New Roman 10/11 point.
· Judul bab: font sama dengan teks, ukurannya diatur sedemikian rupa agar tampak menonjol dan serasi dengan ukuran 20 pt
· Judul sub-bab : font sama dengan teks, 18 point, capital, bold.
· Judul sub-sub-bab: font sama dengan teks, 10 point, capital underline
· Header dan Footer: menggunakan font yang berbeda, bisa divariasi bold atau italic asal serasi.
· Footnote : Font sama, 8 point; bisa font yang lain asal serasi.
· Alignment : Justified
· Spacing : Before – 0; After – 0,6
· Line Spacing: Single
· Gambar-gambar tangkapan layar sebaiknya menggunakan format .tif , .jpg Gambar sebaiknya dikirimkan dalam disket/file tersendiri dan dilakukan link terhadap naskah.
1.6.2. Penomeran Halaman:
· Halaman judul : i
· Halaman Copyright : ii
· Halaman Persembahan : iii
· Kata Pengantar : v
· Daftar Isi : vii
· Halaman Isi
· Pendahuluan (Bab I) : 1
· Bab II : 3, 5, 7, 9, dst (selalu halaman ganjil).

SURAT PERJANJIAN PENERBITAN BUKU
No: ___________________

Pada hari ini Hari :______, Tanggal :________, Bulan :________, Tahun : _________ kami yang bertanda tangan dibawah ini :
1. Nama :__________________ Alamat :_____________________________, selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA.
2. Nama :__________________ Alamat:_____________________________, selanjutnya disebut PIHAK KEDUA.

Kedua belah pihak sepakat untuk mengadakan ikatan perjanjian penerbitan buku yang berjudul “___________________________” dengan memperhatikan ketentuan dan syarat-syarat tertuang dalam pasal-pasal sebagai berikut :

Pasal 1
(1) PIHAK PERTAMA menyediakan dan menyerahkan pada PIHAK KEDUA naskah yang berjudul “___________________________” yang diketik rapi siap untuk dicetak (Persklaar) lengkap dan muda dibaca disertai dengan gambar-gambar, foto-foto,daftar-daftar yang diperlukan untuk diterbitkan Menjadi buku.
(2) PIHAK PERTAMA menjamin sebagai pemilik sah dari naskah tersebut ayat (1)
(3) Perubahan judul dan isi dari naskah aslinya harus disepakati oleh kedua pihak.

Pasal 2
(1) PIHAK PERTAMA memberikan jaminan bahwa karangannya tidak bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945 serta Garis-Garis Besar Haluan Negara, tidak menyinggung hak cipta orang lain dan tidak memuat hal-hal yang dianggap fitnah, penghinaan atau merugikan nama baik pihak lain.

(2) PIHAK PERTAMA bertanggung jawab sepenuhnya apabila dikemudian hari terjadi gugatan oleh pihak lain atas isi naskah tersebut Pasal 1 ayat (1) perjanjian.

Pasal 3
PIHAK KEDUA bersedia menerbitkan naskah tersebut Pasal 1 ayat (1) perjanjian ini menjadi buku untuk keperluan PIHAK PERTAMA dan untuk umum.

Pasal 4
(1) Untuk penerbitan buku tersebut pada Pasal 1 ayat (1) diatas PIHAK KEDUA akan membayar pada PIHAK PERTAMA royalti sebesar ___% dari harga jual bruto (harga jual satuan buku sebelum dikurangi rabat) buku-buku yang terjual.

(2) Perhitungan dan pembayaran royalti akan dilakukan setiap bulan Januari dan Juli dari tahun yang berjalan.

(3) Untuk buku dengan sampul keras (Hard Cover) maka perhitungan royalty sebagai mana tersebut dalam ayat (1) Pasal ini dikurangi harga sampul.

Pasal 5
PIHAK PERTAMA tidak akan menyerahkan naskah atau kutipan naskah yang sama kepada pihak lain intuk diterbitkan.

Pasal 6
Jika terbitnya karya PIHAK PERTAMA habis terjual, maka untuk dilakukan cetak ulang berlaku untuk ketentuan- ketentuan sebagai berikut :

(1) PIHAK KEDUA memberitahukan pada PIHAK PERTAMA tentang maksudnya itu dengan memberikan kesempatan kepada PIHAK PERTAMA untuk mengadakan perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan yang dianggap perlu.

(2) PIHAK PERTAMA mengikat diri untuk melakukan pembaharuan dan perbaikan karyanya untuk cetak ulang dengan segera dan sebaik-baiknya.

(3) PIHAK KEDUA berhak menujuk orang lain yang dianggap cakap untuk melakukan perubahan atau perbaikan itu dalam hal PIHAK PERTAMA meninggal atau berhalangan setelah berunding dengan para ahli warisnya atau wakilnya, bila ada.

Pasal 7
(1) PIHAK KEDUA menetapkan oplah cetakan dan harga jual buku.
(2) Pada setiap cetakan akan disisihkan 10% dari seluruh jumlah oplah, untuk keperluan promosi, resensi, dan relasi serta eksemplar eksploitasi lainnya.
(3) Jumlah 10% tersebut ayat (2) dibebaskan dari perhitungan royalty.

Pasal 8
(1) Untuk mengadakan terjemahan atas buku tersebut dalam Pasal 1 ayat (1) perjanjian ini untuk diperdagangkan, perlu mendapat persetujuan tertulis terlebih dahulu dari PIHAK PERTAMA.

(2) Jika PIHAK KEDUA dan PIHAK PERTAMA sepakat memberikan izin kepada pihak ketiga untuk menerjemahkan dan menerbitkan karya PIHAK PERTAMA dalam bahasa lain maka PIHAK KEDUA akan membebaskan ___% dari royalty yang diterimanya dari pihak ketiga tersebut kepada PIHAK PERTAMA.

(3) Jika terjemahan dan penerbitan dalam bahasa lain diselenggaraka sendiri oleh PIHAK KEDUA, maka kepada PIHAK PERTAMA akan diberikan royalty sebesar ___% dari harga jual bruto terbitan dalam bahasa lain. Pembayaran royalty tersebut ayat (3) dilakukan menurut ketentuan Pasal 4.

Pasal 9
Apabila Pihak Pertama meninggal dunia, maka hak dan kewajiban yang timbul akibat Surat Perjanjian ini beralih kepada:
a. Nama : ____________________________
b. Hubungan keluarga : ____________________________
c. Tempat tinggal : ____________________________

Pasal 10
(1) Apabila terjadi perbedaan pendapat atau perselisihan yang timbul sebagai akibat dari pelaksanaan perjanjian ini, kedua pihak sepakat untuk menyelesaikan secara musyawarah mufakat.

(2) Apabila penyelesaian dengan cara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak tercapai, PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA sepakat untuk menyelesaikannya secara hukum melalui pengadilan negeri /niaga Jakarta Pusat

Pasal 11
Hal-hal yang belum diatur dalam perjanjian ini akan diatur kemudian berdasarkan kesepakatan bersama antara pihak pertama dan kedua sebagai addendum dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian ini.

Pasal 12
Perjanjian ini dibuat rangkap 2 (dua) asli, masing-masing sama bunyinya di atas kertas bermaterai cukup dan mempunyai kekuatan hukum yang sama setelah ditandatangani oleh masing-masing pihak.

PIHAK KEDUA PIHAK PERTAMA

(Direktur ITS Press) (Penulis)

(bahan SOW Angkatan ke-1, 24 November 2008 disampaikan oleh Tony Tedjo, M.Th)

Diposkan oleh Komunitas Penulis Rohani di 23:37 0 komentar

Label: Manajemen

Senin, 03 November 2008

MENGAPA PENDETA TIDAK SUKA MENULIS?

Setiap tanggal 9 Februari kita memperingati Hari Pers Nasional. Kita seharusnya bangga bahwa kita memiliki hari pers nasional. Namun, budaya membaca, terlebih budaya menulis sangat kurang diminati. Kecenderungan orang pada masa kini adalah budaya dengar dan lihat. Apa yang didengar dan apa yang dilihatlah yang biasa diterapkan. Dengan asumsi bahwa mendengar dan melohat (menonton) tidak perlu memeras otak. Asumsi ini didukung pula oleh pandangan sekelompok orang yang memegang prinsip “serba praktis dan instant”. Maksudnya tidak usah cape-cape membaca atau menulis, toh dengan mendengar atau melihat saja kan lebih mudah dimengerti.
Anggapan-anggapan senada juga diajukan tidak hanya di kalangan pelajar atau mahasiswa, di lingkungan gereja pun budaya ini bertumbuh subur. Kita bisa melihatnya berdasarkan dugaan secara umum, bahwa kebanyakan para pendeta lebih senang untuk mengutarakan pesan firman Tuhan melalui kaset atau vcd ketimbang buku. Ada beberapa kemungkinan yang bias dijadikan alasan.
Pertama, tidak ada waktu. Jadual pelayanan yang padat, kurangnya waktu untuk mencatat, sibuknya melayani orang sakit, banyaknya jemaat yang mau dibaptiskan, padatnya acara kebaktian dan kesibukan membimbing jemaat yang akan menikah, menjadi alasan yang masuk akal mengapa para pendeta tidak ada waktu untuk menulis.
Kedua, tidak terbiasa. Kebiasaan seseorang sangat mempengaruhi kehidupannya. Ada banyak pendeta yang setiap kali berkhotbah tidak membuat kerangka khotbah yang akan dikhotbahkan terlebih dahulu. Mereka sudah terbiasa membawakan firman Tuhan secara langsung. Istilahnya, mengalir apa maunya Roh Kudus. Ini memang benar, namun sangat disayangkan bila bahan khotbah yang hendak disampaikan itu tidak didokumentasikan ke dalam bentuk tulisan. Bahan-bahan khotbah yang sudah dituliskan tersebut kan bisa dikumpulkan dan dibukukan, sehingga lebih efektif dan efisien untuk membina pertumbuhan jemaat.
Ketiga, tidak bisa. Memang, sebagian orang berpendapat bahwa menulis itu diperlukan suatu bakat khusus atau paling tidak harus belajar dahulu bagaimana untuk menulis. Namun sebenarnya, bila ada kemauan orang yang tadinya tidak bisa akan menjadi bias, bila sudah mencobanya berulangkali. Sama halnya dengan seorang anak kecil berusia empat tahun yang sedang belajar mengendarai sepeda. Bukankah tidak diperlukan bakat khusus untuk bisa mengendarai sepeda? Cukup dengan ketekunan untuk tidak cepat menyerah, maka akhirnya dia bias mengendarai sepeda dengan baik. Demikian pula dengan menulis. Tekun dan giat berlatih akan mengasah ketrampilan untuk menulis sehingga mahir.
Empat, honornya kecil. Sebagian orang berpendapat bahwa bila menulis di suatu majalah atau membuat suatu buku itu tidak dihargai. Honornya kecil dan tidak sebanding dengan waktu yang dikeluarkan. Itulah sebabnya, banyak orang yang enggan untuk menulis. Lebih cenderung untuk memilih secara lisan saja.
Lima, malas. Sifat malas menjadi alasan terakhir mengapa mereka tidak mau menulis. Malas menuangkan kata-kata ke dalam bentuk tulisan. Malas mengetik. Masal akalu tulisannya dianggap jelek. Malas memperbaiki kembali bila ada tulisan yang salah. Kemalasan merupapan alasan klasik yang tidk bisa dipungkiri lagi.

Solusi
Menulis itu penting, apapun alaannya menulis tetap harus dikembangkan. Pendeta pun jangan mau ketinggalan dengan jemaatnya. Pendeta pun jangan mau ketinggalan budaya menulis bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus. Jangan sia-sia firman Tuhan yang sudah ditaburkan, tampunglah dengan tulisan menjadi sebuah buku.
(Karya Tony Tedjo, artikel ini telah dimuat pada Majalah BAHANA edisi Februari 2004. Tony Tedjo adalah pendiri dan ketua Komunitas Penulis Rohani /KPR; ketua dan pendiri Sekolah Menulis Alkitabiah /SOW; dan owner penerbit AGAPE)

Diposkan oleh Komunitas Penulis Rohani di 23:17 0 komentar

Label: Menulis

Jumat, 10 Oktober 2008

JURUS-JURUS MEMPERSIAPKAN MASA DEPAN

Allah berjanji bahwa orang percaya pasti memiliki masa depan. Janji ini tertuang dalam Amsal 23:18 “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang”. Ayat firman Tuhan ini memberikan suatu harapan bahwa bagi kita selaku orang percaya pasti ada masa depan. Masa depan kita tidak akan hilang. Sebab Allah merancangkan rancangan-Nya yang mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang dikasihi-Nya, bukannya mendatangkan kecelakaan. Rancangan damai sejahtera ini diberikan kepada orang percaya sehingga memiliki hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11).
Setelah mengetahui bahwa ada kepastian akan masa depan, maka tidak berhenti sampai di sini. Perjalanan masih panjang. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita mengisi masa depan kita sehingga bisa lebih maksimal dan efektif. Menjadi orang yang bukan biasa-biasa saja, melainkan orang yang luar biasa. Tentunya dalam mencapai hal ini kita harus bersifat aktif dan proaktif, artinya tidak bermasa bodoh atau berdiam diri menunggu “durian jatuh”. Menyikapi hal ini, paling tidak disarankan tiga hal berikut:
Pertama, memakai kemampuan (talenta, bakat dan karunia) yang sudah Tuhan berikan kepada kita secara maksimal. Sehingga hasil yang diperolehpun hasil yang maksimal. Sebagai contoh, misalnya apabila Anda adalah seorang pelajar atau mahasiswa, maka tempuhlah studimu secara maksimal. Jangan cepat merasa puas hanya memperoleh gelar sarjana. Bila ada kesempatan, kenapa tidak kita mengambilnya untuk mengembangkan studi kita. Apalagi bila keuangan dan usia mendukung (masih muda). Maka jangan ambil pusing, maksimalkanlah potensi Anda untuk mencapai tingkat pendidikan yang tinggi (mencapai doktor bila dimungkinkan). Sebab ada perbedaan bila suatu bidang ditangani oleh seorang sarjana dibandingkan dengan seorang doktor yang merupakan pakar dibidangnya. Tentunya, hal ini membawa dampak yang lebih besar ketimbang hanya menjadi sarjana. Atau contoh lainnya, bila Anda mempunyai talenta bermain musik. Maka kembangkanlah itu. Bila dimungkinkan sekolah musik. Sampai Anda menjadi seorang yang ahli menguasai alat musik tersebut. Sehingga melalui permainan musikmu banyak orang diberkati, bahkan bila memainkan musik rohani banyak orang yang dimenangkan bagi Tuhan melalui permainanmu. Pada intinya, apapun karunia, bakat atau talenta yang kita miliki, pakailah semuanya itu untuk kemuliaan nama Tuhan saja.
Kedua, membagikan berkat yang sudah Tuhan berikan kepada orang lain yang membutuhkan. Berkat yang bisa dibagikan di sini ada dua hal, yaitu berkat jasmani dan berkat rohani. Berkat jasmani yang dibagikan bisa berupa makanan, barang, maupun uang. Kita yang sudah diberkati Tuhan dengan berkat yang lebih, bisa menyalurkan kepada mereka yang berkekurangan dan memerlukan. Sebab ada begitu banyak orang miskin atau orang yang memerlukan uluran tangan kita, agar mereka bisa bertahan hidup. Dengan demikian, orang-orang yang kita bantu bisa merasakan kasih Tuhan Yesus yang dibagikan melalui bantuan kita kepadanya. Sedangkan berkat rohani yang dibagikan adalah memberitakan Kabar Baik (Injil) bagi mereka yang tersesat dan sedang mencari jalan kebenaran. Bagi orang-orang yang di luar Tuhan, mereka perlu diceritakan bahwa ada berita bahagia. Keselamatan yang diberikan secara cuma-cuma oleh Allah kepada manusia yang berdosa. Cara yang sangat mudah adalah dengan menjadi terang dan garam di tengah lingkungan masyarakat di mana kita berada. Biarkan orang lain melihat perbedaan tersebut. Sehingga akhirnya mereka akan bertanya-tanya dan menanyakan sendiri kepada kita mengenai rahasianya. Di sinilah kesempatan bagi kita untuk menceritakan siapa Yesus Kristus itu. Mengapa Yesus mati di atas kayu salib. Dan jangan terlewatkan, bahwa Yesus menjaminkan diri-Nya bahwa Dia adalah Jalan keselamatan, Kebenaran, dan Hidup (Yohanes 14:6).
Ketiga, membekali diri dengan Alkitab (back to Bible). Alkitab dijadikan sebagai dasar dan sandaran dalam memberikan keputusan atau bertindak. Alkitab menjadi pelita dalam menerangi jalan hidup kita yang berada di tengah kegelapan dunia (Mazmur 119:105). Menjadikan kebiasaan membaca Alkitab sebagai gaya hidup. Membaca secara seksama, merenungkan, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bekali firman Tuhan inilah maka kehidupan rohani kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran dunia yang pada ujungnya menuju kepada maut. Menghindarkan diri dari jerat-jerat ajaran sesat yang diajarkan oleh guru-guru palsu.
Memang, setelah menjalankan ketiga hal di atas, tidaklah membuat kita menjadi kebal terhadap godaan untuk tenggelam dalam geloranya. Akan tetapi paling tidak kita mampu bertahan dan bisa menghindari berbagai jerat-jerat maut yang ditawarkan oleh dunia dan oleh Iblis. Sehingga pada akhirnya masa depan kita benar-benar masa depan yang penuh harapan. (Tony Tedjo)

Diposkan oleh Komunitas Penulis Rohani di 00:00 0 komentar

Label: Pengharapan

Rabu, 08 Oktober 2008

POTENSI DAN MANFAAT SELF-PUBLISHING

Tren penerbitan mandiri (self/independent publishing) sudah tak terbendung lagi. Kini, semakin banyak saja individu atau lembaga dari berbagai strata sosial dan ekonomi memanfaatkannya. Keberadan mereka, di satu sisi sungguh-sungguh semakin menggairahkan dinamika penerbitan nasional. Namun di sisi lain, menjamurnya penerbitan mandiri juga berarti “tercuri”-nya sebagian dari ceruk atau potensi pasar penerbitan-penerbitan umum. Walau begitu, sejauh tren tersebut semakin memperkaya khasanah perbukuan nasional, rasanya patut disambut positif.
Mengapa self/independent publishing menggejala bahkan bisa dikatakan semakin ngetren? Barangkali, itu merupakan pendobrakan atas dominasi cara penerbitan sebelumnya yang masih didominasi oleh penerbitan-penerbitan umum. Begitu kran demokrasi dibuka lebar-lebar, soal penerbitan pun bukan sesuatu yang sakral lagi dan sekarang semua orang bisa melakukannya.
Pada prinsipnya, keuntungan terbesar yang bisa diraih manakala kita menjadi self-publisher adalah pada kebebasan untuk menentukan apa pun bentuk, rupa, dan isi buku yang kita terbitkan nantinya. Namun demikian, ruang bebas itulah yang sejatinya bisa kita tarik-ulur untuk mendapatkan berbagai potensi dan manfaat lainnya. Saya coba ulas secara singkat di bawah ini.
1. Penampung tema-tema buku di luar mainstream penerbitan. Bukan rahasia lagi, salah satu alasan self-publishing adalah kesulitan penulis untuk mendapatkan penerbit yang mau menerbitkan naskahnya. Terlebih bila naskah tersebut tidak memenuhi standar kualitas atau tidak segaris dengan kepentingan, visi, dan misi penerbit. Terkadang, naskah-naskah yang membahas tema sangat spesifik, naskah peka dan bertendensi kontroversi, naskah sangat unik, naskah pembelaan (buku putih), atau naskah propaganda, kurang diminati penerbit umum.
Di sinilah alternatif self-publishing menjadi solusi. Kalau kita menjadi self-publihser, kita bisa menerbitkan naskah jenis apa pun sepanjang itu memenuhi kepentingan dan kebutuhan kita. Soal kualitas isi, format, kemasan, redaksional, dan hal teknis lainnya, kita sendirilah yang menetapkan. Bagi kalangan tertentu, sifat merdeka self-publishing tersebut begitu dinikmati dan dirasa mendatangkan kemanfaatan yang tak terbandingkan.
2. Manfaat branding institusi atau personal. Sudah tidak terbantahkan lagi, selain menjadi medium penyampai ide, pesan, dan gagasan, buku juga bisa dikemas sebagai communications tools. Bahkan belakangan, buku menjadi bagian atau pilihan dari strategi branding (penciptaan dan pengembangan merek diri). Buku adalah tenaga “humas” atau pemoles citra yang efektif, dan semakin sering menjadi pilihan alat untuk menggapai brand awareness pribadi maupun lembaga.
Nah, bila kita menjadi self-publihser, kita punya kuasa sepenuhnya untuk memanfaatkan potensi buku sebagai brand creator atau bahkan brand domination. Lihat bagaimana Hermawan Kartajaya yang biasa menggunakan penerbitan besar dan mapan, akhirnya toh membuat penerbitan mandiri demi semakin memoles brand MarkPlus&Co. Simak pula bagaimana Andrie Wongso mengukuhkan dominasi kiprah kemotivatorannya dengan penerbitan mandiri AW Publishing.
Ke depan, saya semakin yakin bahwa akan semakin banyak tokoh, lembaga, pribadi, atau kaum profesional yang memanfaatkan self-publishing sebagai leverage factor bagi kiprah publik atau karier mereka. Sebab, selain relatif lebih murah pembuatannya ketimbang pasang iklan di media massa cetak atau televisi, buku juga masih jauh lebih dihargai sebagai karya intelektual yang serius.
3. Manfaat iklan internal dan potensi iklan eksternal. Salah satu potensi yang belum banyak disadari atau dimanfaatkan oleh para self-publisher adalah potensi iklan dalam buku. Memang, pemanfaatan sebagian halaman buku bagi iklan internal (produk-produk sendiri) sudah umum sifatnya. Kebanyakan, iklan internal berisi judul-judul buku lain yang diterbitkan, iklan pelatihan, company profile, atau produk-produk penerbit mandiri lainnya yang masih relevan dengan judul buku.
Tetapi, potensi buku tema-tema tertentu dalam menggaet iklan atau sponshorship pihak luar tampaknya belum termanfaatkan secara maksimal. Padahal, buku-buku hobi, panduan, atau product knowledge selalu bersinggungan dengan produk-produk massal yang relevan. Ini berarti potensi iklan dan sudah selayaknya dimaksimalkan.
4. Potensi penjualan langsung. Salah satu alasan menarik mengapa sekarang begitu banyak profesional, lembaga konsultan, biro pelatihan, trainer, pembicara publik, pengajar, termasuk rohaniawan/pendakwah membentuk self-publishing adalah potensi penjualan buku secara langsung. Biasanya, kalau mereka menerbitkan buku di penerbitan umum, mereka hanya mendapatkan royalti sekitar 10 persen atau rabat pembelian langsung ke penerbit maksimal 30 persen (sebagian penerbit berani memberi diskon hingga 45 persen untuk pembelian tunai dalam jumlah besar).
Situasi akan berbeda hampir 180 derajat kalau mereka membuat penerbitan dan menerbitkan sendiri karyanya. Mereka bisa mendapatkan keuntungan maksimal atau nyaris bulat jika menerbitkan dan menjualnya sendiri. Seorang trainer, motivator, pembicara publik, atau pendakwah yang memiliki audiens/captive market yang jelas yang pasti jauh lebih mudah menjual sendiri bukunya. Saya menyaksikan, seorang pembicara publik bisa menjual buku sendiri 300-400 eksemplar sekali seminar selama dua jam. Bandingkan dengan rata-rata jumlah penjualan di toko buku dalam situasi normal. Jauh sekali, bukan?
5. Potensi bisnis penerbitan. Sebuah buku terbitan sendiri yang sukses atau laku keras jelas membuka peluang penerbitan buku-buku berikutnya. Dalam hitung-hitungan sederhana, sebuah judul buku yang laris (sekali cetak) hasilnya bisa digunakan untuk sekali cetak ulang dan cetak satu judul baru. Kalau lebih efisien lagi production cost-nya, perbandingannya bisa satu buku sukses kemudian menghasilkan sekali cetak ulang judul lama dan cetak lagi satu setengah judul baru. Rasio inilah yang bila dikelola dengan baik bisa mentransformasi self-publishing menjadi bisnis penerbitan berskala besar.
Nah, silakan menyimak kasus berikut ini. Untuk satu judul buku saja, ESQ, karya Ari Ginanjar yang diterbitkan sendiri itu bisa sampai tercetak 500.000 eksemplar lebih. Taruh saja asumsi sekali cetak sekitar 5.000 eksemplar (faktanya pasti lebih), berarti buku itu sudah 100 kali cetak. Masih dengan rasio sekali cetak untuk satu judul menghasilkan sekali cetak ulang dan sekali cetak satu judul baru, maka hitungan terkasar menunjukkan minimal ada 200 judul baru bisa diproduksi. Ingat, itu baru dari satu judul buku yang sukses fenomenal (mega-bestseller) dan meng-generate potensi penerbitan judul-judul baru lainnya.
Dari hitung kasar saya dan dengan harga konstan buku Rp45.000 (2001-2007), satu judul ESQ (baik diterbitkan sendiri atau misalnya diterbitkan penerbit lain) tadi sudah memberikan pendapatan royalti kepada penulisnya sebesar Rp2,125 miliar. Apabila self-publishing Ary Ginanjar menggunakan distributor berdiskon 50 persen, pendapatan yang diraih sebesar Rp10,625 miliar atau net profit Rp4,250 miliar (nyaris Rp50 juta per bulan).
Apabila separuh saja dari oplah 500.000 eksemplar itu dijual secara direct selling melalui pelatihan-pelatihan, maka pendapatan yang diraih mendekati Rp16 miliar. Atau, jika seluruh oplah buku tersebut dijual melalui direct selling, maka hasil yang dinikmati oleh penerbitan sendiri ini mencapai Rp21,250 miliar. Makanya, siapa bilang jadi penulis dan penerbit mandiri nggak bisa jadi miliarder he he he…?![ez]
* Edy Zaqeus adalah seorang editor profesional, konsultan, self-publisher, dan penulis buku laris Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller (Fivestar, 2008). Ia dapat dihubungi melalui email: edzaqeus@gmail.com atau melalui website: http://www.pembelajar.com dan weblog: http://ezonwriting.wordpress.com. Catatan: Artikel ini telah dimuat sebelumnya di Majalah MATABACA Volume 6, No.12, Agustus 2008 (Edisi Khusus Ulang Tahun).

Diposkan oleh Komunitas Penulis Rohani di 00:34 0 komentar

Label: Penerbitan

Posting Lama

Langgan: Entri (Atom)

Manajemen Penerbitan Pers

Posted by: ahmad42 on: October 22, 2009

Manajemen Penerbitan Pers Bisnis penerbitan pers pad prinsipnya merupakan perpaduan dari tiga bidang kegiatan, yaitu bidang redaksional, percetakan, dan bidang usaha. Ketiga bidang itu dalam pelaksanaanya harus saling terkait dan terikat pada penyelesaian pekerjaan masing – masing sesuai dengan aturan yang sudah ditentukan. Dalam memproduksi suatu penerbitan pers, masing – masing bidang mempunyai tanggung jawab, peran serta tujuan yang sama. Untuk itu manajemen penerbitan pers harus mampu menciptakan, memelihara dan menerapkan sistem kerja yang proposional. Sampai sekarang belum ada satu bentuk organisasi perusahaan penerbitan pers yang sudah baku. Masing – masing perusahaan menyusun organisasi tata kerjanya, berdasarkan keadaan serta misi yang mereka miliki. Tetapi secara sederhana organisasi perusahaan pers dapat dipilah – pilah sebagai berikut. Top Manager (Pemimpin Umum) Pemimpin umum adalah orang yang pertama dalam satu perusahaan penerbitan Pers. Ia mengendalikan perusahaannya, baik dibidang redaksional maupun bidang usaha. Boleh jadi, pemimpin umum adalah pemilik dari perusahaan itu sendiri atau dipegang orang lain yang paling dipercaya. Dalam mengembangkan perusahaan, pemimpin umum memegan tiga kendali berupa Bidang Redaksi ( editor departement ), Bidang percetakan ( printing departement ), dan Bidang Usaha ( bussines departement ). Umtuk itu pemimpin umum dapat mengangkat tiga pejabat untuk melaksanakan tiga bidang tersebut. Pimpinan redaksi bertanggung jawab atas isi penerbitan ( redaksional ), pimpinan percetakan bertanggung jawab terhadap produksi percetakan, dan pimpinan perusahaan bertugas mengembangkan usaha penerbitan. Bidang redaksi Pimpina redaksi adalah orang pertama yang bertnaggung jawab terhadap semua isi penerbitan pers, sesuai dengan Undang-undang Pokok pers,pemimpin redaksi bertanggung jawab jika ada tunutan hokum yang disebabkan oleh isi pembertaan pada penerbitannya. Tetapi dalam perakteknya pimpina redaksi bias mendelegasikan kepada pihak lain yang ditunjuknya. Tugas utama dari pimpina redaksi adalah mengendalikan kegiatan keredaksian dari perusahaannya yang meliputi penyajian berita, penentuan liputan, pencarian fokus berita, penetuan tipik, pemilihan berita utama (head lines), berita pmbuka halaman (opening news), membuat sendiri tajukrencana ataupun menugaskannya kepada redaktur. Bidang percetakan Bidang percetakan merupakn kumpulan dari beberapa bagian yangyang menangani pekerjaan antara redaksi dan percetakan. Bagian ini terdi dari tata letak/perwajahan, desain, pembuatan film negatif, dan pembuatan plate (plate making). Naskah berita, artikel, foto grafik, dan table-tabel lainnya yang akan dimuat dalam penerbitan surat kabar atau majalah ditata sampai pada plate yang siap diserahkan kepada bagian percetakan. Konsep percetakan dalam satu perusahaan penerbitan pers ini muncul akibat bertambah pesatnya kemajuan teknologi komunukasi, terutama dibidang percetakan (printing).sedikitnya ada tiga pekerjaan redaksional yang bias dialihkan ke bidang usaha. Ketiganya pekerjaan itu adalah setting (pengetikan naskah), correcting (pengoreksian), dan layout (tata letak). Bidang usaha Bidang-bidang yang ada dalam lingkup usaha antaralain bidang produksi, sirkulasi, iklan, keuangan, teknik, personalia, dan layanan pelanggan (costumer care). Namanya saja bidang usaha (bisnis) maka segala gerak yang dilakukan harus memperhitungkan bisnis, dengan upaya menekan biaya (cost) serendah-rendahnya dan menghasilkan (profit) yang sebanyak-banyaknya. Pemimpin Perusahaan Pemimpin perusahaan adalah orang yang mendapat kepercayaan dari pimpinan umum untuk membantu dalam bidang pengelolaan di bidang usaha. Ia mendapat kepercayaan penuh mengendalikan usaha untuk mendapatkan keuntungan yang sebnyak-banyaknya guna guna kesejaheraan karyawan. Bagian Iklan Salah satu bagian yang tidak kalah penting adalah bagian iklan. Bagian ini menjula kolom-kolom yang ada pada surat kabar atau majalah dalam bentuk advertensi (advertising). Pejabat pada bagia ini disebut manajer iklan. Bagian Sirkulasi Istilah sirkulasi dalam perusahaan pers berarti “peredaran”. Bagian ini merupakan satu dari tiga komponen penjualan yang khusus menjual produk penerbitan (Koran atau majalah). Bagian Keuangan Bagian keungan dipimpin oleh seorang manajer atau kepala bagian keungan. Tugas utamanya mengendalikan keungan perusahaan meliputi penghitungan pemasukan dan pengeluaran perusahaan, menyimpan dan membayarkan, memungut dan membyarkan pajak, membyar kebutuhan operasional perusahaan serta mengumpulkan kekayaan perusahaan. Sedikitnya ada 4 tugas pokok bagian keuangan, yaitu inkaso, kasir, Controller,dan audit Bagian Pelayanan Pelanggan (Customer care) Bagian pelayanan pelanggan (customer care) dibentuk guna memberi layanan yang memuaskan kepada semua pelanggan dari penerbitan pers. Pelanggan disini diartikan secara luas meliputi pelnggan tetap maupun pelanggan eceran, pemasang iklan, bahkan pembaca secara luas. Bagian Umum Bagian umum ini tugasnya mengurusi dan menyediakan kebutuhan bagian perusahaan, baik yang bersifat hardware maupun software. Kebutuhan hardware misalnya peralatan kantor seperti gedung perkantoran, alat angkut (mobil) untuk dinas maupun operasional, mesin cetak, computer, tintacetak, film, dan sebagainya. Sedangkan kebutuhan software misalnya kebutuhan jumlah karyawan, peningkatan kemampuan karyawan, kesejahteraan bagi karyawan, dan keluarganya. Bagian Teknik Bagian teknik adalah satu gaian bertugas menangani maslah-masalah teknik. Petugas teknik di bidang usaha bertugas menyediakan dan merawat peralatan teknik sebaas yang ada di bidang usaha saja. Misalnya instalasi listrik gedung, penyediaan tenaga listrik pengganti (diesel),perwatan komputer, air conditioner, mobil dinas, dan sebagainya. Sumber Buku : Intisari Mnajemen Pengarang : Dr. Wilson Bangun, S.E, M.Si Penerbit : Refika Aditama Manajemen merupakan proses menginterpretasikan, mengkordinasikan sumber daya, sumber dana, dan sumber-sumber lainnya untuk mencapai tujuan dan sasaran melalui tindakan-tindakan perencanaan (Henry Fayol). Guna mencapai keberhasilan yang di ingninkan suatu perusahaan tercapainya secara efektif dan efisien,untuk mencapai tujuan organisasi, manajer harus bisa mensinkronkan aktivitas perencanaan terhadap anggota atau divisi-divisi lainnya sehingga dalam hal ini diperlukan sumber daya manusia yang benar-benar mampu bergerak dibidangnya secara efektif dan efisien. Selain itu juga dukungan financial sangat diperlukan karena berbagai aktivitas yang dilakukan memerlukan uang, seperi transpotasi, bahan, pembelian peralatan perusahaan, pembayaran gaji karyawan, dan sebagainya. Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasikan, meminpin dan mengendalikan pekerjaan anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai sasaran organisasi yang sudah ditetapkan. Pendekatan Manajemen Pendekatan system Maksud dari pendekatan sistem adalah memandang organisasi sebagai suatu kesatuan yang terdiri bagian-bagian yang saling berhubungan. Sebagai suatu pendekatan manajemen, sistem mencakup baik sistem-sistem umum maupun khusus dan analisa tertutup maupun terbuka. Pendekatan kontingensi Menurut pendekatan kontingensi tugas manajer adalah mengindentifikasi teknik mana, pada situasi tertentu, dalam keadaan tertentu dan pada waktu tertentu, akan membantu tercapaian tujuan manajemen. Tujuan dari Manajemen • Perencanaan perencanaan adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan menetapkan tujuan dan kebijakan perusahaan, membuat program kegiatan, dan sebagainya sebagai bentuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. • Pengorganisasian Pengorganisasian adalah pengaturan kegiatan-kegiatan yang ditentukan melalui struktur untuk mencapai tujuan. Dalam praktenya pengorganisasian bertujuan agar tercapainya hubungan informasi baik secara horizontal maupun vertikal. • Penyusunan Personalia Penyusunan personalia merupakan satu fungsi manajemen yang berhubungan dengan kegiatan pengaturan sumber daya manusia dalam sebuah organisasi, yang meliputi pengadaan tenaga kerja, kompensasi dan pemeliharaan tenaga kerja sampai pada pemutusan hubungan tenaga kerja. • Pengawasan Pengawasan merupakan tindakan penilaian terhadap tugas-tugas yang dilakuakan oleh anggota organisasi. Pengawasan merupakan kegiatan yang sifatnya berulang-ulang (siklus), sehingga sering juga disebut proses manajemen. Ini berarti tugas-tugas manajemen dalam organisasi tidak berhenti hanya pada satu periode saja tetapi akan dilanjutkan pada periode berikutnya. Perbandingan Antara penerbirtan Manajemen pers dengan Manajemen umum Pada dasarnya manajemen penerbitan pers dengan manajemen usaha biasa, bisa dikatakan hampir serupa yaitu bagai mana cara mengatur perusahaan agar dapat bertahan dan dapat mencapai tujuan denga cara seefektif dan seefisien mungkin untuk mencapai tujuan perusahaan. Dan dalam kedua manajemen ini juga bertujuan bagaimana perusahaan bisa meraup untung (profit) yang sebesar-besarnya dan dengan mengeluarkan budget sekecil-kecilnya. Dalam kedua manajemen ini melibatkan begitu banyak orang yang harus bisa bekerja dibidangnya masing-masing karena setiap bagian bisa saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Bila diliha dari tujuannya manajemen penerbitan pers dengan manajemen umum hampir serupa dengan adanya pengorganisasian, pengawasan (controller),dan penyusunan personalia, dari semua itu memiliki tujuan agar karyawan bekerja sesuai dengan bidangnya. Sumber Buku : Manajemen Penerbitan Pers Penulis : Drs. Totok Djuroto, M.Si. Penerbit : Rosda


Possibly related posts: (automatically generated)

4 responses to “MANAJEMEN PENERBITAN

  1. sudah seharusnya saya belajar komunikasi dari Mas, terutama dalam komunikasi via internet..
    great

  2. mau tanya .. ada gak sih buku tentang manajemen penerbitan pers.. buat tugas mandiri nih… makasih sebelumnya atas jawabannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s