KORUPTOR LEBIH DARI SEKEDAR MALING


Masyarakat dan siapapun tentu tahu apa yang dimaksudkan ‘mencuri’, yaitu mengambil sesuatu yang bukan miliknya tanpa sepengetahuan pemiliknya. Perbuatan ini sudah jelas didefinisikan sebagai tindak kriminal atau tindak kejahatan oleh regulasi yang berlaku. Masyarakat akan menyebutnya sebagai perbuatan jelek, tidak baik, dan jahat. Tua ataupun mudah, bahkan mereka yang masih belia pun tahu seperti apa buruknya perbuatan ‘Mencuri’.

Unsur moral dan norma dimainkan untuk menekan perbuatan ‘mencuri/pencurian’.
Justru korupsi lebih dari sekedar maling. Seorang maling ayam, yang terpaksa mencuri karena kelaparan tentu tidak seburuk seorang koruptor yang duduk dalam kursi empuk dengan segala fasilitas dan gaji yang cukup. Meski keduanya adalah perbuatan yang buruk, namun sang Koruptor bertambah sifatnya menjadi orang serakah, pengkhianat dan penipu rakyat.

Menurut Undang-Undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Bab II, Pasal 2, Ayat 1, perbuatan korup diartikan sebagai tindakan melawan hukum dengan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Perbuatan korup dilakukan tanpa sepengetahuan negara atau peraturan yang berlaku, karena itu dikatakan perbuatan yang melawan hukum. Apa bedanya dengan perbuatan ‘Mencuri’? Bedanya terletak pada dampak kerugian. Apabila perbuatan ‘Mencuri’ merugikan pemiliknya secara individu, maka perbuatan ‘Korup’ merugikan negara. Tidak hanya negara yang dirugikan tapi juga tatanan berbangsa dan bernegara. Bedanya lagi, sebutan perbuatan ‘Korup’ supaya terlihat lebih terhormat karena pelakunya umumnya adalah orang-orang yang terhormat yangumumnya menjabat di pemerintahan.

Pandangan dan sikap Islam terhadap korupsi sangat tegas: haram dan melarang. Banyak argumen mengapa korupsi dilarang keras dalam Islam. Selain karena secara prinsip bertentangan dengan misi sosial Islam,menegakkan keadilan sosial dan kemaslahatan semesta. Korupsi dinilai sebagai tindakan pengkhianatan dari amanat yang diterima dan pengrusakan yang serius terhadap bangunan sistem yang bertanggungjawab. Oleh karena itu, baik al-Qur’an, al-Hadits maupun ijma’ ulama menunjukkan pelarangannya secara tegas.

Dalam al-Qur’an, misalnya, dinyatakan: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (cara berbuat) dosa padahal kamu mengetahui.” Dalam ayat yang lain disebutkan: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara batil, kecuali dengan cara perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu”

Sedangkan dalam al-Hadits lebih konkret lagi, dinyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Allah melaknati penyuap dan penerima suap dalam proses hukum.” Dalam redaksi lain, dinyatakan: “Rasulullah SAW melaknati penyuap, penerima suap, dan perantara dari keduanya (Al-Hadits).

Pencegahan korupsi dalam islam dimulai yang sederhana, dalam hal makan
secara konsep,. Islam sangat tegas dalam menjelaskan konsep halal-haram, baik dari tataran filosofis sampai praktis. Islam telah mengajarkan pemeluknya untuk betul-betul memperhatikan kebaikan dan kehalalan makanan. Dalam tataran filosofis, Islam menggambarkan bagaimana sekecil apapun makanan yang haram yang masuk ke tubuh seseorang akan menjadi daging yang akan terus-menerus mengotori kemanusiaan dan akan mengajak kepada kemaksiatan. Dalam tataran praktis, bagaimana Islam mengatur hukum pencurian dengan tegas : hukum potong tangan jika telah memenuhi syarat.

Ada hal menarik, Islam mengajarkan untuk tidak mencuri (korupsi) melalui hal sederhana yakni berdoa sebelum makan, “Bismillahirrahmanirrahiim”. Tujuannya adalah agar kita senantiasa ingat kepada Allah, dan makan pun menjadi sebuah ibadah dan berpahala. Agar makanan yang kita makan adalah benar-benar makanan yang halal, diperoleh dari cara yang halal dan berbarokah.  Makanan itupun baik dahulu halal secara materi, bersih (alat makan dan tangan dengan cuci tangan dan memakai tangan kanan), dan mempunyai kandungan gizi yang baik. yang merupakan nilai tambah dalam hidangan kita.

Dan yakinlah Tuhan yang menguasai mekanisme pencernaan Anda, bisa dengan mudahnya merubah proses kimia-fisika dalam perut Anda, sehingga makanan tersebut akhirnya menjadi darah/daging yang betul-betul berkualitas. Misalnya menjadi sel-sel otak yang cerdas. Itulah berkah.Apakah makanan tersebut halal secara materi dan halal secara perolehannya? Bagaimana ia berani untuk memakan sesuatu dari hasil mencuri (korupsi), sesuatu yang seharusnya memberikan kenikmatan, tetapi menjadi sesuatu yang mengantarkannya kepada siksa dan adzab.

Cara penanggulangan korupsi sebagaimana ditunjukkan oleh syariat Islam.

Pertama, sistem penggajian yang layak. Aparat pemerintah harus bekerja dengan sebaik-baiknya. Dan itu sulit berjalan dengan baik bila gaji mereka tidak mencukupi. Para birokrat tetaplah manusia biasa. Rasul dalam hadis riwayat Abu Dawud berkata,Barang siapa yang diserahi pekerjaan dalam keadaan tidak mempunyai rumah, akan disediakan rumah, jika belum beristri hendaknya menikah, jika tidak mempunyai pembantu hendaknya ia mengambil pelayan, jika tidak mempunyai hewan tunggangan (kendaraan) hendaknya diberi. Dan barang siapa mengambil selainnya, itulah kecurangan (ghalin). Oleh karena itu, harus ada upaya pengkajian menyeluruh terhadap sistem penggajian dan tunjangan di negeri ini.

Kedua, larangan menerima suap dan hadiah. Hadiah dan suap yang diberikan seseorang kepada aparat pemerintah pasti mengandung maksud tertentu, karena buat apa memberi sesuatu bila tanpa maksud di belakangnya, yakni bagaimana agar aparat itu bertindak menguntungkan pemberi hadiah.

Ketiga, perhitungan kekayaan. Orang yang melakukan korupsi, tentu jumlah kekayaannya akan bertambah dengan cepat. Meski tidak selalu orang yang cepat kaya pasti karena telah melakukan korupsi.

Keempat, teladan pemimpin. Pemberantasan korupsi hanya akan berhasil bila para pemimpin, terlebih pemimpin tertinggi, dalam sebuah negara bersih dari korupsi. Dengan takwa, seorang pemimpin melaksanakan tugasnya dengan penuh amanah. Dengan takwa pula, ia takut melakukan penyimpangan, karena meski ia bisa melakukan kolusi dengan pejabat lain untuk menutup kejahatannya, Allah SWT pasti melihat semuanya dan di akhirat pasti akan dimintai pertanggungjawaban.

Kelima, hukuman setimpal. Pada pelakunya, orang akan takut menerima risiko yang akan mencelakakan dirinya, termasuk bila ditetapkan hukuman setimpal kepada para koruptor. Berfungsi sebagai pencegah , hukuman setimpal atas koruptor diharapkan membuat orang jera dan kapok melakukan korupsi. Dalam Islam, koruptor dikenai hukuman berupa tasyhir atau pewartaan (dulu dengan diarak keliling kota, sekarang mungkin bisa ditayangkan di televisi seperti yang pernah dilakukan), penyitaan harta dan hukuman kurungan, bahkan sampai hukuman mati.

Keenam, pengawasan masyarakat. Masyarakat dapat berperan menyuburkan atau menghilangkan korupsi. Demi menumbuhkan keberanian rakyat mengoreksi aparat, khalifah Umar di awal pemerintahannya menyatakan,Apabila kalian melihatku menyimpang dari jalan Islam, maka luruskan aku walaupun dengan pedang.

Tampak dengan jelas bahwa Islam melalui syariatnya telah memberikan jalan yang sangat gamblang dalam pemberantasan korupsi dan mewujudkan pemerintahan yang bersih. Di sinilah pentingnya seruan penegakan syariat Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s