Budaya Pop Sebagai Komunikasi Politik

Mengapa para bakal calon (balon) gubernur atau presiden akhir-akhir ini suka bernyanyi? Mengapa bahkan ada yang merasa perlu menggubah lagu dan meluncurkan album? Mengapa balon pejabat di berbagai daerah nyaris dari Sabang hingga Merauke merasa perlu mencantumkan deretan gelar akademis di kartu nama dan media kampanye politiknya?

Jawabannya, barangkali karena “Politik adalah show business,” kata Neil Postman, seorang pedagog dan kritikus media. Politik adalah bisnis pertunjukan! Guy Debord, dalam The Society of the Spectacle, menyebut masyarakat mutakhir, “masyarakat tontonan”. Dalam “masyarakat tontonan”, citra, kesan, dan penampilan luar adalah segalanya. Ia perlu dikemas agar memikat masyarakat. Ingat, politik citra adalah politik kemasan!
Perkembangan politik ternyata tak bisa menghindar dari kemajuan teknologi komunikasi dan pergeseran selera masyarakat. Kanal budaya pop menjadi sarana komunikasi antara elite politik dan massa. Budaya pop, politik, dan komunikasi politik mengalami konvergensi (bertemu) satu sama lain. Misalnya, kampanye politik sudah lumrah melibatkan artis pop, musik pop/dangdut, dan program televisi dipenuhi dengan politisi “artis” pop. Politisi yang “serius” pun (seperti tentara!) harus berhadapan dengan sorotan yang terus-menerus dari media pop atas kinerja pribadi dan politiknya.

Memang gejala ini bukanlah hal baru. Ia mengalami peningkatan akibat dukungan budaya televisi dan digital. Dalam Politics and Popular Culture, Street (1997) melukiskan genre politik ini sebagai “soal penampilan” (a matter of performance). Politik memiliki kaitan yang erat dengan budaya pop. Permainan di depan pemirsa televisi menjadi bentuk seni pertunjukan. Menurut Street, politik sebagai budaya pop adalah menciptakan khalayak. Orang yang akan tertawa dengan lelucon, memahami kecemasan, dan berbagi harapan dengan politisi, baik media pop maupun politisi menciptakan karya fiksi pop yang menggambarkan dunia impian rakyat.

Di era kedigdayaan televisi, politik dan laku politisi menjadi panggung hiburan. Di era ini, politisi lebih suka tampil di media dan membuat sensasi berita. Lebih suka retorika daripada karya, lebih doyan fashion ketimbang vision. Televisi tampil sebagai media utama kanal komunikasi elite politik sekaligus kanal gosip politik.

Televisi tidak hanya menjadi media talkshow yang kian mencerdaskan. Akan tetapi lewat televisi, pertengkaran dan perkelahian elite politik menjadi drama dan telenovela politik di ruang keluarga. Hubungan pacar gelap seorang politisi menjadi bumbu acara infotainment dan majalah gosip. Meledaknya industri telefon seluler telah memicu industri “perselingkuhan politik”. Dipaparkannya “hubungan mesra” beberapa oknum politisi di layar HP menjadi contohnya!

Di era kedigdayaan “masyarakat hiburan”, bisnis politik terus bertaut dengan bisnis hiburan. Pada saat yang sama terus berlangsung revolusi dalam lanskap komunikasi politik di Indonesia. Debat antarcalon pejabat mulai di tingkat pusat hingga daerah kian menjelaskan pentingnya senyum kemenangan, wajah ramah dan segar, komposisi bedak di pipi, semir dan sisir rambut yang rapi dan klimis, dan sedikit kerdipan mata ke penonton.

Dan, perlu ditambahkan pula, kemampuan menyanyi. Penampilan diri yang kukuh dan penuh percaya diri dicampur kehangatan menyapa pemirsa menjadi tanda kesiapan sang politisi. Dari ruang-ruang persiapan yang melibatkan “juru rias kampanye” disemprotkan berbagai parfum yang menebarkan aroma wewangian di pentas interaksi elite politik Indonesia. Pemilu 2004 mulai menandai aura wewangian dan kemewahan menjadi sarana komunikasi citra antarelite politik dan antara elite politik dan massa.

Para teoretisi komunikasi politik kontemporer menyebut kriteria penting kesuksesan politisi masa kini adalah kemampuan mengeksploitasi televisi dan memproyeksikan profil pribadinya. Politisi yang sukses selalu mengeksploitasi teknologi komunikasi era mereka. Theodore Roosevelt mempromosikan karier politik dan menjadi perintis awal seni manajemen kesan di media. Kemenangan Kennedy atas Nixon awal 1960-an adalah kemenangan citra. Kemenangan Ronald Reagan, sang aktor pada 1980-an dan kemenangan Arnold Schwarzenegger sebagai Gubernur California pada 2000-an adalah logis ketika media adalah pembentuk kesan.

Keberhasilan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mempromosikan karier politiknya juga berkat “drama politik” yang dimediakan dan ditelevisikan. Dimulai saat pengunduran dirinya dari posisi menko polkam. Melalui manajemen persepsi, realitas SBY telah “digelembungkan” menjadi citra unggulan, yang dipertarungkan merebut dukungan suara di bursa politik.

Sejak itu, tampilan politik Indonesia menjadi lain. Ketika batas politisi dan selebriti menjadi kabur, ketika politisi menjadi aktor, dan para selebriti berduyun-duyun memasuki pentas politik, tak heran para elite di Indonesia kian rajin membaca puisi, main gitar, dan menyanyi. Pidato politik kini mulai diselingi dengan alunan suara politisi (sekalipun terdengar sumbang).

Ketika rentetan musibah menimpa bangsa, Presiden SBY merespons, mengajak bangsa Indonesia terus bersabar dan melantunkan lagu “Untuk Kita Renungkan” yang diiringi dentingan gitar Ebiet G. Ade. Dalam masyarakat hiburan (amusement society), tampak bagaimana cara elite politik Indonesia menanggapi bencana. Tak harus membuat kening berkerut, fun saja, dan hadapi dengan sabar dan senyum.. Potret tebaran senyum politisi Indonesia di pentas budaya pop!***

Penulis, peneliti dan konsultan komunikasi

Sumber: [http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/30/0903.htm]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s