Metode Penelitian Komunikasi

Pengertian Masalah, Variabel & Paradigma Penelitian.

Masalah adalah kesenjangan (discrepancy) antara apa yang seharusnya (harapan) dengan apa yang ada dalam kenyataan sekarang. Kesenjangan tersebut dapat mengacu ke ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan dan lain sebagainya. Penelitian diharapkan mampu mengantisipasi kesenjangan-kesenjangan tersebut. Masalah yang perlu dijawab melalui penelitian cukup banyak dan bervariasi misalnya masalah dalam bidang pendidikan saja dapat dikategorikan menjadi beberapa sudut tinjauan yaitu masalah kualitas, pemerataan, relevansi dan efisiensi pendidikan (Riyanto, 2001:1) Salah satu jenis penelitian dalam bidang pendidikan adalah peneltian tindakan, yang dilakukan dengan menerapkan metode-metode pengajaran ketika proses belajar berlangsung di kelas dengan harapan meningkatkan prestasi belajar siswa.

Masalah sosial yang didefinisikan Robert K Merton sebagai ”ketidaksesuaian yang signifikan dan tidak diinginkan” antara standar kebersamaan dan kondisi nyata. Atau dengan kata lain,”Sebuah situasi tak terduga yang tidak sejalan dengan tata nilai yang dianut sekelompuk orang yang menyetujui bahwa perlu adanya tindakan untuk mengatasi situasi”.

Variabel adalah gejala yang menjadi fokus peneliti untuk diamati. Tentunya banyak pengertian lain, tapi sepertinya pengertian itu sudah cukup. Merupakan suatu konsep yang bervariasi atau konsep yang memiliki nilai ganda atau suatu faktor yang jika diukur akan menghasilkan nilai yang bervariasi. Variabel juga dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang yang atau objek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau suatu objek dengan objek yang lain.

Paradigma Penelitian

Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori. Paradigma penelitian juga menjelaskan bagaimana peneliti memahami suatu masalah, serta criteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah penelitian (Guba & Lincoln, 1988: 89-115). Secara umum, paradigma penelitian diklasifikasikan dalam 2 kelompok yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif (Indiantoro & Supomo, 1999: 12-13). Masing-masing paradigma atau pendekatan ini mempunyai kelebihan dan juga kelemahan, sehingga untuk menentukan pendekatan atau paradigma yang akan digunakan dalam melakukan penelitian tergantung pada beberapa hal di antaranya (1) jika ingin melakukan suatu penelitian yang lebih rinci yang menekankan pada aspek detail yang kritis dan menggunakan cara studi kasus, maka pendekatan yang sebaiknya dipakai adalah paradigma kualitatif. Jika penelitian yang dilakukan untuk mendapat kesimpulan umum dan hasil penelitian didasarkan pada pengujian secara empiris, maka sebaiknya digunakan paradigma kuantitatif, dan (2) jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang penerapannya luas dengan obyek penelitian yang banyak, maka paradigma kuantitaif yang lebih tepat, dan jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang mendalam dan detail khusus untuk satu obyek penelitian saja, maka pendekatan naturalis lebih baik digunakan. Hasil penelitian akan memberi kontribusi yang lebih besar jika peneliti dapat menggabungkan kedua paradigma atau pendekatan tersebut. Penggabungan paradigma tersebut dikenal istilah triangulation. Penggabungan kedua pendekatan ini diharapkan dapat memberi nilai tambah atau sinergi tersendiri karena pada hakikatnya kedua paradigma mempunyai keunggulan-keunggul

Cara Menemukan Masalah

Setelah peneliti menentukan bidang penelitian  (problem area)  yang diminatinya, kegiatan berikutnya adalah menemukan permasalahan (problem finding atau problem generation). Penemuan permasalahan merupakan salah satu tahap penting dalam penelitian. Situasinya jelas: bila  permasalahan tidak ditemukan, maka penelitian tidak perlu dilakukan. Pentingnya penemuan   permasalahan   juga   dinyatakkan   oleh   ungkapan:   “Berhasilnya   perumusan permasalahan merupakan setengah dari pekerjaan penelitian”.

Penemuan permasalahan juga merupakan  tes  bagi  suatu  bidang  ilmu;  seperti diungkapkan oleh Mario Bunge (dalam : Buckley  dkk.,  1976,  14)  dengan  pernyataan:  “Kriteria  terbaik  untuk  menjajagi  apakah suatu disiplin ilmu masih hidup atau tidak adalah dengan memastikan apakah bidang ilmu tersebut masih mampu menghasilkan permasalahan . . . .   Tidak satupun permasalahan akan tercetus dari bidang ilmu yang sudah mati”. Permasalahan  yang  ditemukan,  selanjutnya  perlu  dirumuskan  ke  dalam  suatu pernyataan  (problem  statement). Dengan demikian, pembahasan isi bab ini akan dibagi menjadi dua bagian: (1) penemuan permasalahan, dan (2) perumusan permasalahan.

Penemuan Permasalahan

Kegiatan  untuk  menemukan  permasalahan  biasanya  didukung  oleh  survai  ke perpustakaan untuk menjajagi perkembangan pengetahuan dalam bidang yang akan diteliti, terutama yang diduga mengandung permasalahan. Perlu dimengerti, dalam hal ini, bahwa publikasi   berbentuk   buku   bukanlah   informasi   yang   terbaru   karena   penerbitan   buku merupakan proses yang memakan waktu cukup lama, sehingga buku yang terbit—misalnya hari ini—ditulis sekitar satu atau dua tahun yang lalu. Perkembangan pengetahuan terakhir biasanya  dipublikasikan  sebagai  artikel  dalam  majalah  ilmiah;  sehingga  suatu  (usulan) penelitian  sebaiknya  banyak  mengandung  bahasan  tentang  artikel- artikel  (terbaru)  dari majala h-majalah (jurnal) ilmiah bidang yang diteliti.

Kegiatan penemuan permasalahan, seperti telah disinggung di atas, didukung oleh survai ke perpustakaan untuk mengenali perkembangan bidang yang diteliti. Pengenalan ini akan menjadi bahan utama deskripsi “latar belakang permasalahan” dalam usulan penelitian. Permasalahan  dapat  diidentifikasikan  sebagai  kesenjangan  antara  fakta  dengan  harapan, antara tren perkembangan dengan keinginan pengembangan, antara kenyataan dengan ide.

Sutrisno Hadi (1986, 3) mengidentifikasikan permasalahan sebagai perwujudan “ketiadaan, kelangkaan,  ketimpangan,  ketertinggalan,  kejanggalan,  ketidakserasian,  kemerosotan  dan semacamnya”.

Seorang peneliti yang berpengalaman akan mudah menemukan permasalahan dari bidang yang ditekuninya; dan seringkali peneliti tersebut menemukan permasalahan secara “naluriah”;    tidak    dapat    menjelaskan    bagaimana    cara    menemukannya.    Cara- cara menemukan  permasalahan  ini,  telah  diamati  oleh  Buckley  dkk.  (1976)  yang  menjelaskan bahwa penemuan permasalahan dapat dilakukan secara “formal’ maupun ‘informal’. Cara formal melibatkkan prosedur yang menuruti metodologi tertentu, sedangkan cara informal bersifat subjektif dan tidak “rutin”. Dengan demikian, cara formal lebih baik kualitasnya dibanding  cara  informal.  Rincia n cara- cara yang diusulkan Buckley dkk. dalam kelompol formal dan informal terlihat pada gambar di bawah ini.

PENEMUAN PERMASALAHAN PERUMUSAN PERMASALAHAN

Formal

Rekomendasi suatu riset

Analogi Renovasi Dialektik Ekstrapolasi Morfologi Dekomposisi Agregasi

Informal
Konjektur Fenomenologi Konsensus Pengalaman

Pernyataan Permasalahan

Gambar Perm- 1: Beberapa cara penemuan permasalahan

(Sumber: Buckley dkk.(1976: 5)

Bukley  dkk.,  (1976:16-27)  menjelaskan cara- cara penemuan permasalahan—baik formal maupun informal—sebagai diuraikan di bagian berikut ini. Setelah permasalahan ditemukan, kemudian  perlu  dilakukan  pengecekan  atau  evaluasi  terhadap  permasalahan  tersebut— sebelum dilakukan perumusan permasalahan.

Cara-cara Formal Penemuan Permasalahan

Cara- cara   formal   (menurut   metodologi   penelitian)   dalam   rangka   menemukan permasalahan dapat dilakukan dengan alternatif- alternatif berikut ini:

1) Rekomendasi suatu riset. Biasanya, suatu laporan penelitian pada bab terakhir memuat kesimpulan dan saran. Saran (rekomendasi) umumnya menunjukan kemungkinan penelitian lanjutan atau penelitian lain yang berkaitan dengan kesimpulan yang dihasilkan. Saran ini dapat dikaji sebagai arah untuk menemukan permasalahan.

2) Analogi adalah suatu cara penemuan permasalahan dengan cara “mengambil”

pengetahuan dari bidang ilmu lain dan menerapkannya ke bidang yang diteliti. Dalam

hal ini, dipersyaratkan bahwa kedua bidang tersebut haruslah sesuai dalam tiap hal-hal yang penting. Contoh permasalahan yang ditemukan dengan cara analogi ini, misalnya:

“apakah Proses perancangan perangkat lunak komputer dapat diterapkan pada proses perancangan arsitektural” (seperti diketahui perencanaan perusahaan dan perencanaan arsitektural mempunyai kesamaan dalam hal sifat pembuatan keputusannya yang Judgmental).

3) Renovasi. Cara renovasi dapat dipakai untuk mengganti komponen yang tidak cocok lagi dari suatu teori. Tujuan cara ini adalah untuk memperbaiki atau meningkatkan kemantapan suatu teori. Misal suatu teori menyatakan “ada korelasi yang signifikan antara arah pengembangan bangunan rumah tipe tertentu dalam

perumahan sub – inti dengan tipe bangunan rumah asal penghuninya” dapat direnovasi menjadi permasalahan “seberapa korelasi antara arah pengembangan bangunan

rumah tipe tertentu dalam perumahan sub – inti dengan tipe bangunan rumah asal

penghuninya dengan tingkat pendidikan penghuni yang berbeda”. Dalam contoh di

atas, kondisi yang “umum” diganti dengan kondisi tingkat pendidikan yang berbeda.

4) Dialektik, dalam hal ini, berarti tandingan atau sanggahan. Dengan cara dialektik, peneliti dapat mengusulkan untuk menghasilkan suatu teori yang merupakan tandingan atau sanggahan terhadap teori yang sudah ada.

5) Ekstrapolasi adalah cara untuk menemukan permasalahan dengan membuat tren

(trend) suatu teori atau tren permasalahan yang dihadapi.

6) Morfologi adalah suatu cara untuk mengkaji kemungkinan-kemungkinan kombinasi yang terkandung dalam suatu permasalahan yang rumit, kompleks.

7) Dekomposisi merupakan cara penjabaran (pemerincian) suatu pemasalahan ke dalam komponen-komponennya.

8) Agregasi merupakan kebalikan dari dekomposisi. Dengan cara agregasi, peneliti dapat mengambil hasil- hasil peneliti atau teori dari beberapa bidang (beberapa penelitian) dan “mengumpulkannya” untuk membentuk suatu permasalah yang lebih rumit, kompleks.

Cara-cara Informal Penemuan Permasalahan

Cara- cara  informal  (subyektif)  dalam  rangka  menemukan  permasalahan  dapat dilakukan dengan alternatif-alternatif berikut ini:

1) Konjektur (naluriah). Seringkali permasalahan dapat ditemukan secara konjektur

(naluriah), tanpa dasar- dasar yang jelas. Bila kemudian, dasar- dasar atau latar belakang permasalahan dapat dijelaskan, maka penelitian dapat diteruskan secara alamiah. Perlu dimengerti bahwa naluri merupakan fakta apresiasi individu terhadap lingkungannya. Naluri, menurut Buckley, dkk., (1976, 19), merupakan alat yang berguna dalam proses penemuan permasalahan.

2) Fenomenologi. Banyak permasalahan baru dapat ditemukan berkaitan dengan fenomena (kejadian, perkembangan) yang dapat diamati. Misal: fenomena pemakaian komputer sebagai alat bantu analisis dapat dikaitkan untuk mencetuskan

permasalahan – misal: seperti apakah pola dasar pendaya – gunaan komputer dalam proses perancangan arsitektural.

3) Konsensus juga merupakan sumber untuk mencetuskan permasalahan. Misal, terdapat konsensus bahwa kemiskinan bukan lagi masalah bagi Indonesia, tapi kualitas lingkungan yang merupakan masalah yang perlu ditanggulangi (misal hal ini merupakan konsensus nasional).

4) Pengalaman. Tak perlu diragukan lagi, pengalaman merupakan sumber bagi permasalahan. Pengalaman kegagalan akan mendorong dicetuskannya permasalahan untuk menemukan penyebab kegagalan tersebut. Pengalaman keberhasilan juga akan mendorong studi perumusan sebab- sebab keberhasilan. Umpan balik dari klien, misal, akan mendorong penelitian untuk merumuskan komunikasi arsitek dengan klien yang lebih baik.

Perumusan Permasalahan

Sering  dijumpai  usulan  penelitian  yang  memuat  “latar  belakang  permasalahan” secara  panjang  lebar  tetapi  tidak  diakhiri  (atau  disusul)  oleh  rumusan  (pernyataan) permasalahan.  Pernyataan  permasalahan  sebenarnya  merupakan  kesimpulan  dari  uraian “latar   belakang”   tersebut.   Castetter   dan Heisler   (1984,   11)   menerangkan   bahwa pernyataan  permasalahan  merupakan  ungkapan  yang  jelas  tentang  hal- hal  yang  akan dilakukan peneliti. Cara terbaik unutk mengungkapkan pernyataan tersebut adalah dengan pernyataan yang sederhana dan langsung, tidak berbelit-belit. Pernyataan permasalahan dari suatu penelitian merupakan “jantung” penelitian dan berfungsi sebagai pengarah bagi semua upaya dalam kegiatan penelitian tersebut. Pernyataan permasalahan yang jelas (tajam) akan sanggup   memberi   arah   (gambaran)   tentang   macam   data   yang   diperlukan,   cara pengolahannya  yang  cocok,  dan  memberi  batas  lingkup  tertentu  pada  temuan  yang dihasilkan.

Contoh ungkapan permasalahan yang jelas, tajam, diberikan oleh Sumiarto (1985) yang  meneliti  dalam  bidang  perumahan  pedesaan.  Permasalahan  yang  dikemukakannya, sebagai berikut:

“Kesimpulan   yang   dapat   ditarik   sebagai   permasalahan   P3D   [Perintisan Pemugaran Perumahan Desa] yang dapat memberikan arah pada studi yang akan   dilakukan   adalah   mempertanyakan   keberhasilan   dari   tujuan   P3D.

Secara  lebih  spesifik  dapat  dikemukakan  beberapa  (sub)  permasalahan sebagai berikut:

(a). Apakah setelah menerima bantuan P3D, kondisi mereka akan menjadi

lebih  baik,  dalam arti  adanya  peningkatan  dalam  cara  bermukin  yang lebih baik serta lebih sehat?

(b). Apakah bantuan yang diberikan oleh P3D telah memberikan hasil sesuai seperti  yang  diharapkan,  yaitu  penerima  bantuan  telah  memberikan

respon  yang  positif  yang  berupa  tenaga,  material,  bahkan  finansial, sehingga lebih dari apa yang diberikan oleh P3D.

(c). Lebih jauh lagi, apakah P3D telah mampu membangkitkan efek berlifat ganda  (multiplier  effect),  sehingga  masyarakat  yang  tidak  meneriman bantuan  P3D  terangsang  secara  swadata  menyelenggarakan  sendiri peningkatan kondisi rumah dan lingkungannya?”

(Sumiarto 1985, 17- 18)

Bentuk Rumusan Permasalahan

Contoh pernyataan permasalahan di atas mengambil bentuk satu pernyataan disusul oleh  beberapa  pertanyaan.  Castette  dan  Heisler  (1984,  11)  menjelaskan  bahwa  secara keseluruhan ada 5 macam bentuk pernyataan permasalahan, yaitu:

(1)        bentuk satu pertanyaan (question);

(2)        bentuk satu pertanyaan umum disusul oleh beberapa pertanyaan yang spesifik;

(3)        bentuk satu penyataan (statement) disusul oleh beberapa pertanyaan (question).

(4)        bentuk hipotesis; dan

(5)        bentuk pernyataan umum disusul oleh beberapa hipotesis.

Bentuk Hipotesis nampaknya jarang dipakai lagi pula, biasanya perletakan hipotesis dalam laporan atau usulan penelitian tidak me nempati posisi yang biasa ditempati oleh pernyataan permasalahan. Hal yang lain, bentuk pertanyaan seringkali dapat diujudkan (diubah) pula sebagai  bentuk  pernyataan. Dengan  demikian,  secara  umum,  hanya  ada  dua  bentuk pernyataan permasalahan:

1.)        Bentuk satu pertanyaan atau pernyataan, Misal :

(a)        Pertanyaan:

“Seberapa pengaruh tingkat penghasilan pada perubahan fisik rumah perumahan KPR?”

“Faktor-faktor apa saja dan seberapa besar pengaruh masing- masing faktor pada persepsi penghuni terhadap desain rumah sub –inti?”

(b)       Pernyataan (biasanya diungkapkan sebagai “maksud”)

“Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa pengaruh tingkat penghasilan pada perubahan fisik rumah perumahan KPR.”

“Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor- faktor apa saja dan seberapa besar pengaruh masing- masing faktor pad persepsi terhadap desain rumah sub –inti.”

2.)        Bentuk satu pertanyaan atau pernyataan umum disusul oleh beberapa pertanyaan atau pernyataan yang spesifik (Catatan: kebanyakan permasalahan terlalu besar atau kompleks sehingga perlu dirinci), Misal:

Permasalahan  umum: Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi hasil desain seorang arsitek dan seberapa pengaruh tiap- tiap faktor? Lebih spesifik lagi, permasalahan

dalam penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut:

(a)        Apakah sekian faktor yang mempengaruhi hasil desain seorang arsitek secara umum di Amerika Serikat terjadi pula di Indonesia?

(b)        Seberapa besar pengaruh faktor- faktor tersebut mempengaruhi hasil desain arstiek di Indonesia?

Contoh Rumusan Permasalahan

Di bawah ini diberikan beberapa contoh rumusan masalah, sebagai berikut:

“.  .  .  .  .  .  .  permasalahan  sebagai  berikut:  Apakah  kalsium  hidroksida mempunyai   pengaruh   sitotoksik   terhadap   sel   fibroblast   embrio   Gallus domesticus secara   in   Vitro, dan   apakah   besar   konsentrasi   kalsium hidroksida berpengaruh terhadap sifat  sitotoksisitasnya?”

Sumber:   Sri   Hadiati   Prayitno   dan   Wahjono   Sosromidjojo,   1988,   “Tes Sitotoksitas  Bahan  Kalsium  Hidrosida  dengan  menggunakan  Kultur  sel Fibroblast  Embrio  Ayam  Kampung  (Gallus  Domesticus)  in  vitro”,  Berkala Penelitian  Pasca  Sarjana  Universitas  Gadjah  Mada,   Jilid  I,  Nomor  1, halaman 34.

“. . . . . . . . .   dengan penelitian ini ingin diketahui faktor –  faktor apa yang dapat mempengaruhi perilaku ibu  – ibu dalam menangani diare pada bayi dan anak balita.

Sumber:  Sitti  Aisyah  Salam  dan  Akhwak  Watik  Pratiknya,  1988,”Faktor- faktor  yang  mempengaruhi  Perilaku  ibu  dalam  menangani  Penyakit  Diare anak  Balita  di  Kecamatan Wirobraian”,  Berkala penelitian Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Jilid 1, Nomor 1, halaman 2.

Keterkaitan antara Rumusan Permasalahan dengan Hipotesis dan Temuan Penelitian

Bila   penelitian   telah   selesai   dilakukan,   maka   dalam   laporan   penelitian   perlu ditunjukkan “benang merah” (keterkaitan yang jelas) antara rumusan permasalahan dengan hipotesis (sebagai “jawaban” sementara terhadap permasalahan penelitian). Rincian dalam permasalahan perlu berkaitan lengasung dengan rincian dalam hipotesis,  dalam arti, suatu rincian dalam hipotesis menjawab suatu rincian dalam permasalahan. Demikian pula, perlu diperlihatkan  keterkaitan  tiap  rincian  dalam  temuan  (sebagai  jawaban  nyata  terhadap permasalahan) dengan tiap rincian dalam rumusan permasalahan.

Baik  permasalahan,  hipotesis  dan  temuan—sebagai  upaya  pengembangan  atau pengujian   teori—berkaitan   secara   substantif   dengan   tinjauan   pustaka   (sebagai   kajian terhadap  isi  khazanah  ilmu  pengetahuan  yang  berkaitan  dengan  permasalahan  penelitian). Kaitan  substantif  diartikan  sebagai  hubungan  “isi”,  tidak  perlu  dalam  bentuk  keterkaitan antar rincian.

VARIABEL PENELITIAN

Variabel penelitian pada dasarnya adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Secara teoritis, variable didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau subyek yang mepunyai “variasi” antara satu orang dengan orang yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain (Hatch dan Farhady, 1981).

Jadi dinamakan variable karena ada variasinya (masing-masing dapat berbeda). Contoh: tinggi badan, berat badan, motivasi, sikap, perilaku, kualitas, harga, promosi, dan lain-lain. Jadi variabel adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari atau ditarik kesimpulann

Macam-macam variable

Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka, macam-macam variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi:

a. Variabel Independen

Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, predictor, antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variable bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).

b. Variabel Dependen

Sering disebut sebagai variabel output, criteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai terikat variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.

c. Variabel Moderator

Variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan memparlemen) hubungan antara variabel independent dengan dependen. Variabel disebut juga sebagai variabel independent kedua.

d. Variebel Intervening

Variebel yang secara teoritis mempengaruhi (memperlemen dan memperkuat) hubungan antara variabel independent dengan dependen, tetapi tidak dapat diamati dan diukur.

e. Variabel Kontrol

Variabel yang dikendalikan aatu dibuat konstan sehingga pengaruh variabel independent terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh factor luar yang tidak diteliti. Variabel control sering digunakan oleh peneliti, bila akan melakukan penelitian yang bersifat membandingkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s