LITERASI MEDIA

Rate This

Quantcast

// <![CDATA[//
Salah satu makalah buatan teman. Tertarik dengan Media Literasi tapi katanya di Indonesia hal ini belum menjadi perhatian yang harus diperhatikan (nah lho bahasanya…). Padahal penting banget si Media Literasi ini.

PENDAHULUAN

Media massa adalah Media yang digunakan secara massal untuk menyebarluaskan informasi kepada khalayak. Informasi itu bisa berupa hiburan, atau pendidikan. Media massa terdiri media cetak dan media elektronik. Yang termasuk media cetak adalah koran, majalah, tabloid, newsletter, dan lain-lain. Sedangkan media elektronik adalah televisi dan film (media audiovisual), juga radio (media audio).
Fungsi Media massa setidaknya ada empat, yaitu menginformasikan (to inform), mendidik (to educate), membentuk opini atau pendapat (to persuade), dan menghibur (to entertain). Media literacy muncul didorong kenyataan bahwa fungsi media massa lebih dominan dalam hal menghibur, dan mengabaikan fungsi mendidik.
Saat kita bangun pagi, setelah shalat subuh biasanya kita akan menyetel televisi menyaksikan berita terkini, atau bagi sebagian orang berlangganan surat kabar, sudah dapat membaca dan menikmatinya di pagi hari. Bergegas mandi, sebahagian dari kita terbiasa bernyanyi sambil mengikuti lagu dari radio atau tape. Duduk menikmati hidangan sarapan, mata kita tidak lepas dari surat kabar atau televisi. Berangkat ke kantor, di dalam kendaraan anda pun menyetel kaset berisi lagu kesayangan atau memutar saluran radio kesayangan. Sampai di kantor, kita sibuk di depan komputer, mengakses data melalui internet hingga sore hari. Pulang ke rumah, kita pun duduk santai di depan televisi menikmati tayangan sore hari atau membaca majalah yang dibeli. Terakhir, saat malam hari menjelang tidur kita pun menyempatkan diri untuk mengecek pekerjaan lewat komputer, membalas email teman dan sebagainya. Bahkan bagi beberapa orang, tidur akan semakin nyenyak jika diiringi dengan musik instrumentalia yang syahdu.
Namun fakta bicara, tidak semua isi media massa bermanfaat bagi khalayak. Banyak di antaranya yang tidak mendidik dan hanya mengedepankan kepentingan pemilik/pengelola media untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Media literacy bermaksud membekali khalayak dengan kemampuan untuk memilah dan menilai isi media massa secara kritis, sehingga khalayak diharapkan hanya memanfaatkan isi media sesuai dengan kepentingannya.
 P E MBAHASAN

Apakah Media Literacy Itu?
“Media Literacy is a set of perspectives that we actively use to expose ourselves to the media to interpret the meaning of the messages we encounter. We build our perspectives from knowledge structures. To build our knowledge structures, we need tools and raw material. These tools are our skills. The raw material is information from the media and from the real world. Active use means that we are aware of the messages and are consciously interacting with them. “
Potter,W.J.(2005). Media Literacy.
“Melek media adalah satu set perspektif yang aktif kita gunakan untuk membuka diri kepada media untuk menafsirkan makna pesan yang kita hadapi. Kita membangun perspektif kita dari struktur pengetahuan. Untuk membangun struktur pengetahuan kita, kita perlu alat dan bahan baku. Alat-alat adalah keterampilan kita. bahan baku adalah informasi dari media dan dari dunia nyata. aktif menggunakan berarti bahwa kita sadar akan pesan dan berinteraksi dengan mereka secara sadar.”

Istilah Media Literacy mungkin belum begitu akrab di telinga kita. Masyarakat mungkin masih terheran dan kurang paham jika ditanya apa sebenarnya Media Literacy tersebut. Para ahli pun memiliki konsep yang beragam tentang pengertian Media Literacy , Mc Cannon mengartikan Media Literacy sebagai kemampuan secara efektif dan secara efesien memahami dan menggunakan komunikasi massa (Strasburger & Wilson, 2002). Ahli lain James W Potter (2005) mendefinisikan Media Literacy sebagai satu perangkat perspektif dimana kita secara aktif memberdayakan diri kita sendiri dalam menafsirkan pesan-pesan yang kita terima dan bagaimana cara mengantisipasinya.
Apa itu perspektif? Mari kita menggambarkan hal ini dengan sebuah analogi. Katakanlah Anda ingin belajar tentang bumi. Anda bisa membangun 100-kaki-menara tinggi, mendaki ke puncak, dan menggunakannya sebagai perspektif Anda untuk mempelajari bumi. Yang akan memberikan perspektif yang baik tidak akan terhalang oleh pohon sehingga Anda bisa melihat untuk mungkin beberapa mil ke segala arah. Jika menara berada di hutan, Anda akan menyimpulkan bahwa bumi ditutupi dengan pepohonan. Tetapi jika menara Anda berada di lingkungan pinggiran kota, Anda akan menyimpulkan bahwa bumi itu ditutupi dengan rumah-rumah, jalan, dan pusat perbelanjaan. Jika menara Anda berada di dalam The New Orleans Superdome Stadion, Anda akan menyimpulkan sesuatu yang sangat berbeda. Masing-masing dari perspektif di bumi ini akan memberi Anda set sangat berbeda persepsi. Tak satu pun dari perspektif ini adalah lebih baik daripada yang lain. Kunci untuk memahami bumi adalah untuk membangun banyak menara ini sehingga Anda memiliki banyak perspektif yang berbeda untuk memperbesar pemahaman Anda tentang apa yang bumi ini. Dan tidak semua menara ini perlu 100 meter. Beberapa harus sangat pendek sehingga Anda dapat lebih baik melihat apa yang terjadi di antara helai-helai rumput di pekarangan. Dan orang lain harus ratusan mil jauhnya dari permukaan sehingga Anda dapat memberitahu bahwa bumi adalah sebuah bola dan bahwa ada formasi cuaca yang lebih besar terus-menerus berputar di seluruh dunia.
Secara ringkas Media Literacy artinya adalah pintar, cakap, mampu dengan baik, menggunakan, memahami, menganalisa, media baik media televisi, radio, surat kabar, adan film. Kajian Media Literacy terkini menunjukkan adanya perkembangan media seperti video, komputer, dan internet. Kehidupan modern dan perkembangan teknologi canggih membuat manusia dalam kesehariannya selalu diterpa oleh media. Istilah populernya adalah tiada hari tanpa media.
Media Literacy atau melek media adalah suatu istilah yang digunakan sebagai jawaban atas maraknya pandangan masyarakat tentang pengaruh dan dampak yang timbul akibat isi (content) media massa; dimana cenderung negatif dan tidak diharapkan. Sehingga perlu diberikan suatu kemampuan, pengetahuan, kesadaran dan keterampilan secara khusus kepada khalayak sebagai pembaca media cetak, penonton televisi atau pendengar radio. Berikut ini dipaparkan tentang pengertian media literacy dari beberapa pakar (dalam Chang, Sup, 2001 : 424) Media literacy adalah :
 Kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan (National leadership Confrence on Media literacy, 1992)
 Pengetahuan tentang bagaimana fungsi media di masyarakat (Paul Messaris,1990)
 Pemahaman kebudayaan, ekonomi, politik dan keterbatasan teknologi dalam suatu kreasi, produksi dan transmisi pesan.
 Pengetahuan khusus, kesadaran dan rasionalitas sebagai proses kognitif dalam memperoleh informasi
 Fokus utama mengevaluasi secara kritis tentang pesan dan cara mengkomunikasikannya. Kemudian memahami sumber dan teknologi komunikasi, simbol yang digunakan, pesan yang diproduksi, diseleksi, diinterpretasi dan akibat yang ditimbulkannya.

PENGERTIAN MEDIA LITERACY

Literasi Media
Istilah literasi media diciptakan di mid-2004 untuk menggabungkan literasi lainnya dengan visual (Ofcom, 2004). Ofcom mengatakan literasi adalah keterampilan untuk mengakses, menganalisa, mengevaluasi dan sekaligus mengkomunikasikannya dalam berbagai macam format. Lebih daripada itu adalah mampu mengenali dan mengerti informasi secara komprehensif untuk mewujudkan cara berpikir kritis, seperti tanya jawab, menganalisa dan mengevaluasi informasi itu.
Wikipedia, the free encyclopedia, menyebutkan bahwa media literacy adalah keterampilan untuk memahami sifat komunikasi, khususnya dalam hubungannya dengan telekomunikasi dan media massa. Konsep ini diterapkan pada beragam gagasan yang berupaya untuk menjelaskan bagaimana media menyampaikan pesan-pesan mereka, dan mengapa demikian.
General Director UNESCO, Koiichiro Matsuura juga menjelaskan bahwa literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis. Melainkan juga mencakup bagaimana kita berkomunikasi dalam masyarakat. Karena literasi berarti juga praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa dan budaya.
Media Literacy di Indonesia lebih dikenal dengan istilah Melek Media. James Potter dalam bukunya yang berjudul “Media Literacy” (Potter, dalam Kidia) mengatakan bahwa media Literacy adalah sebuah perspekif yang digunakan secara aktif ketika, individu mengakses media dengan tujuan untuk memaknai pesan yang disampaikan oleh media. Jane Tallim menyatakan bahwa media literacy adalah kemampuan untuk menganalisis pesan media yang menerpanya, baik yang bersifat informatif maupun yang menghibur.
Allan Rubin menawarkan tiga definisi mengenai media literacy. Yang pertama dari National Leadership Conference on Media Literacy (Baran and Davis, 2003) yaitu kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan mengkomunikasikan pesan. Yang kedua dari ahli media, Paul Messaris, yaitu pengetahuan tentang bagaimana fungsi media dalam masyarakat. Yang ketiga dari peneliti komunikasi massa, Justin Lewis dan Shut Jally, yaitu pemahaman akan batasan-batasan budaya, ekonomi, politik dan teknologi terhadap kreasi, produksi dan transmisi pesan. Rubin juga menambahkan bahwa definisi-definisi tersebut menekankan pada pengetahuan spesifik, kesadaran dan rasionalitas, yaitu proses kognitif terhadap informasi.
Fokus utamanya adalah evaluasi kritis terhadap pesan. Media literasi merupakan sebuah pemahaman akan sumber-sumber dan teknologi komunikasi, kode-kode yang digunakan, pesan-pesan yang dihasilkan serta seleksi, interpretasi dan dampak dari pesan-pesan tersebut.
Terdapat dua pandangan mengenai media literacy yaitu dari Art Silverblatt dan James Potter (Potter dalam Kidia). Silverblatt menyatakan bahwa seseorang dikatakan memiliki keterampilan literasi media apabila dirinya memuat faktor-faktor sebagai berikut :
1) Sebuah kesadaran akan dampak media terhadap individu dan masyarakat
2) Sebuah pemahaman akan proses komunikasi massa
3) Pengembangan strategi-strategi yang digunakan untuk menganalisis dan membahas pesan-pesan media
4) Sebuah kesadaran akan isi media sebagai ‘teks’ yang memberikan wawasan dan pengetahuan ke dalam budaya kontemporer manusia dan diri manusia sendiri
5) Peningkatan kesenangan, pemahaman dan apresiasi terhadap isi media.
Di sisi lain, Potter (Baran and Davis, 2003 dalam Kidia) memberikan pendekatan yang agak berbeda dalam menjelaskan ide-ide mendasar dari media literacy, yaitu:
1) Sebuah rangkaian kesatuan, yang bukan merupakan kondisi kategorikal (Media Literacy is a continuum not a category
2) Media literacy perlu dikembangkan dengan melihat tingkat kedewasaan seseorang
3) Media literacy bersifat multidimensi, yaitu domain kognitif yang mengacu pada proses mental dan proses berpikir, domain emosi yaitu dimensi perasaan, domain estetis yang mengacu pada kemampuan untuk menikmati, memahami dan mengapresiasi isi media dari sudut pandang artistik, dan domain moral yang mengacu pada kemampuan untuk menangkap nilai-nilai yang mendasari sebuah pesan
4) Tujuan dari media literacy adalah untuk memberi kita kontrol yang lebih untuk menginterpretasi pesan. Tujuan dari melek media adalah untuk memberdayakan individu-individu dalam mengontrol media pemrograman. Istilah pemrograman dalam pengertian ini, tidak bermaksud program televisi atau media pesan. Seorang individu oleh dirinya sendiri tidak akan punya banyak pengaruh mengubah bagaimana massa kerajinan media pesan mereka. Seorang individu akan pernah bisa menjalankan banyak kendali atas apa yang akan ditawarkan kepada publik. Namun, seseorang bisa belajar untuk mengerahkan banyak kontrol atas cara pikiran seseorang mendapat diprogram. Dengan demikian, tujuan media keaksaraan adalah untuk menunjukkan orang-orang bagaimana untuk mengalihkan kontrol dari media sendiri. Inilah yang saya maksud ketika saya mengatakan bahwa tujuan melek media untuk membantu orang mengendalikan program media.

Media Literasi juga bertujuan untuk:
• Membatasi PILIHAN
Media telah memprogram kita untuk percaya bahwa kita sedang menawarkan banyak pilihan, tetapi pilihan kisaran sangat terbatas. The media have programmed you to think that you have choices when in fact the degree of choice is greatly limited, berarti Media telah memprogram Anda berpikir bahwa Anda memiliki pilihan ketika pada kenyataannya tingkat pilihan sangat terbatas.

• Memperkuat PENGALAMAN
Kita tetap akan kembali ke jenis pesan yang sama, percaya bahwa Kita akan memiliki pengalaman yang memuaskan sekali lagi seperti yang ada di masa lalu. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan menjadi kuat, dan itu menjadi jauh lebih sulit untuk mencoba sesuatu yang baru.

The Cognitive Model of Media Literacy

 Pribadi lokus adalah istilah yang merujuk pada yang mengatur pengolahan informasi tugas. Ini juga bentuk dan makna makna pencocokan konstruksi.
Lokus pribadi terdiri dari tujuan dan pengendali. Tujuan membentuk tugas pemrosesan informasi dengan menentukan apa yang akan disaring dalam dan apa yang akan diabaikan. Semakin Anda menyadari tujuan Anda, semakin Anda dapat langsung proses pencarian informasi. Dan semakin kuat pengendalian informasi Anda, semakin banyak Anda akan memperluas usaha untuk mencapai tujuan Anda. Namun, lokus lemah (Anda tidak menyadari tujuan tertentu dan energi pengendalian Anda rendah), Anda akan gagal untuk kontrol media: yaitu, Anda memperbolehkan media untuk menjelajahi diri anda dan kontrol atas informasi pengolahan.
 Setelah lokus pribadi memberikan dorongan panci dan energi, alat-alat yang diperlukan untuk melaksanakan rencana. Alat-alat tersebut adalah kompetensi dan keterampilan. Kompetensi adalah orang-orang yang telah memperoleh alat-alat untuk membantu mereka berinteraksi dengan media dan untuk mengakses informasi dalam pesan. Kompetensi yang dipelajari pada awal kehidupan, yang diterapkan secara otomatis. Kompetensi relatif dikotomis: yaitu, baik orang mampu melakukan sesuatu atau mereka tidak mampu. Sebagai contoh, baik orang tahu bagaimana mengenali kata dan maknanya sesuai dengan makna hafal atau mereka tidak. Memiliki kompetensi tidak membuat satu media yang melek huruf, tetapi tidak memiliki kompetensi ini mencegah salah satu dari media menjadi melek karena kekurangan media ini mencegah seseorang mengakses jenis informasi tertentu. Sebagai contoh, orang-orang yang tidak memiliki kompetensi dasar membaca tidak dapat mengakses bahan cetakan. Ini akan sangat membatasi apa yang mereka dapat dibangun ke structutes pengetahuan mereka.

 Information Processing

Menyaring pesan
Tugas: untuk membuat keputusan mengenai pesan mana yang menyaring (mengabaikan) dan yang untuk menyaring dalam (memperhatikan)
Tujuan: untuk menghadiri hanya pesan-pesan yang memiliki utilitas tertinggi dan menghindari semua orang lain
Fokus: pesan dalam lingkungan

Arti pencocokan
Tugas: untuk menggunakan kompetensi dasar untuk mengenali simbol-simbol dan menemukan definisi untuk masing-masing.
Tujuan: untuk efisien mengakses makna belajar sebelumnya.
Fokus: simbol dalam pesan

Arti konstruksi
Tugas: untuk menggunakan keterampilan untuk bergerak melampaui makna yang serasi dan membangun makna bagi diri sendiri untuk mendapatkan lebih banyak dari pesan.
Tujuan: untuk menafsirkan pesan dari lebih dari satu perspektif sebagai sarana untuk mengidentifikasi berbagai pilihan makna, kemudian memilih satu atau sintesis di beberapa.
Fokus: satu struktur pengetahuan sendiri

The Seven Skills of Media Literacy

(1) Analyze/Menganalisa. Kompetensi berikutnya adalah kemampuan menganalisa struktur pesan, yang dikemas dalam media, mendayagunakan konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan untuk memahami konteks dalam pesan pada media tertentu. Misalnya, mampu mendayagunakan informasi di media massa untuk membandingkan pernyataan-pernyataan pejabat publik, dengan dasar teori sesuai ranah keilmuannya. Kompetensi lainnya bisa diperiksa dengan kata kerja seperti, membedakan, mengenali kesalahan, menginterpretasi, dsb.
(2) Evaluate/Menilai. Setelah mampu menganalisa, maka kompetensi berikutnya yang diperlukan adalah membuat penilaian (evaluasi). Seseorang yang mampu menilai, artinya ia mampu menghubungkan informasi yang ada di media massa itu dengan kondisi dirinya, dan membuat penilaian mengenai keakuratan, dan kualitas relevansi informasi itu dengan dirinya; apakah informasi itu sangat penting, biasa, atau basi. Tentu saja kemampuan dalam menilai sebuah informasi itu dikemas dengan baik atau tidak, juga adalah bagian dari kompetensinya. Di sini, terjadi membandingkan norma dan nilai sosial terhadap isi yang dihadapi dari media.
(3) Grouping/pengelompokan – menentukan setiap unsur yang sama dalam beberapa cara: menentukan setiap unsur yang berbeda dalam beberapa cara.
(4) Induction/Induksi – menyimpulkan suatu pola di set kecil elemen, maka pola generalisasi untuk semua elemen dalam himpunan tersebut .
(5) Deduction/deduksi – menggunakan prinsip-prinsip umum untuk menjelaskan khusus
(6) Synthesis/sintesis – merakit unsur-unsur ke dalam struktur baru
(7) Abstracting/ abstrak – menciptakan singkat, jelas, dan gambaran tepat menangkap esensi dari pesan dalam sejumlah kecil kata-kata dari pada pesan itu sendiri.

PERKEMBANGAN MEDIA LITERASI

Media Literacy pertama kali dikembangkan sebagai alat dalam melindungi orang-orang dari paparan media. Negara yang pertama kali mendengungkan konsep ini adalah Inggris pada tahun 1930 an. Pada tahun 1980 di Inggris dan Australia Media Literacy sudah menjadi mata pelajaran tersendiri. Sementara itu di Eropa pendidikan Media Literacy diperkenalkan pada kurikulum dasar di negara Finlandia pada tahun 1970 dan pendidikan menengah atas tahun 1977. Di negara Swedia Media literacy berkembang sejak tahun 1980, dan di Denmark sejak tahun 1970.
Apa saja yang ingin dicapai lewat pendidikan Media Literacy ini? Pada umumnya pendidikan Media Literacy khususnya televisi, yang dilakukan di negara maju menekankan pada peran orang tua agar bersikap kritis dalam menonton. Artinya kita tidak dibenarkan menerima apa saja yang ditawarkan, tanpa memahami dan menganalisa dengan baik informasi yang diterima. Proses memilah informasi mana yang baik dan mana yang buruk adalah hal yang mutlak harus dilakukan. Contohnya : orang tua harus memilah film mana yang layak tonton dan mana yang tidak. Kebanyakan film berisikan tayangan sampah, yang tidak bermanfaat. Setelah dirinya mampu memilah, kebiasaan ini ditularkan kepada anaknya. Mereka melakukan pemantauan terhadap kebiasaan menonton anak-anaknya. Orang tua melakukan pendampingan, memilihkan acara yang bermutu, menjelaskan apa yang mereka tonton dan melakukan penjadwalan, kapan anaknya boleh menonton dan kapan tidak. Pada tahap selanjutnya orang tua membuat organisasi yang bersedia melakukan pelatihan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan, seperti: kelompok orang tua, para murid di sekolah, dan sebagainya.
Bagaimana dengan Indonesia? Sejauh ini pendidikan Media Literacy belum terorganisisr dengan baik. Belum diakomodir lewat kurikulum sekolah atau dalam kegiatan pokok di satu instansi. Baru sebatas kegiatan seminar, diskusi, ceramah, yang sifatnya belum berkesinambungan. Kegiatan pendidikan Media Literacy paling banyak dilakukan di Jakarta. Tokoh seperti Ade Armando, Nina Armando, B. Guntarto, adalah orang-orang yang penulis ketahui amat peduli terhadap Media Literacy khususnya media televisi sejak tahun 1997an. Mereka mendirikan lembaga yang bertindak sebagai pemantau siaran televisi (Watch Dog), dan melakukan aksi-aksi cukup semarak, seperti: Hari Tanpa TV di setiap tanggal 23 Juli bertepatan dengan Hari Anak Indonesia.
Kendala yang melingkari terciptanya masyakat literat ini tidak lain adalah sebagai berikut (Bukhori, 2005) :
Pertama, budaya minat baca bangsa Indonesia masih tergolong rendah. Terbukti, kebanyakan kita merasa lebih berani merogoh saku lebih tebal untuk membeli kebutuhan lain seperti makanan, pakaian, perhiasan, dan bahkan alat-alat rumah tangga, ketimbang membeli buku. Tingkat ekonomi yang rendah sering menjadi alasan lemahnya daya beli buku masyarakat. Karenanya, kita menjadi tidak akrab dan merasa asing dengan buku dan memiliki minat membaca yang rendah.
Kedua, karena adanya dampak negatif perkembangan teknologi bagi masyarakat. Masyarakat kita yang awalnya bertradisi lisan atau oral society secara drastis bergerak ke budaya elektronik seperti TV dan radio, sebelum memasuki budaya tulis secara ajek. Kita telah langsung melompat dari tradisi mendongeng ke tradisi menonton sebelum terbiasa dengan tradisi membaca.
Ditambah lagi, tipe pendidikan di Indonesia masih cenderung menganut interaksi satu arah dalam proses pembelajarannya. Dengan kondisi seperti ini, semakin mempertebal fakta bahwa keterampilan anak didik di Indonesia hanya sebatas sampai tataran menjadi pendengar yang baik saja. Terjadi demikian, karena mereka terbiasa hanya mempersiapkan telinga untuk belajar tanpa tahu bagaimana caranya mencari sampai meramu sebuah informasi. Jadi, tidak heran apabila diberikan kepadanya sebuah tugas yang mengharuskan mereka untuk mensintesis sebuah informasi, yang dikumpulkan hanya seperti memindahkan sumber ke tempat yang lain tanpa dimaknai dengan hasil pemikirannya sendiri. Fenomena ini, merupakan miniatur yang menggambarkan secara jelas tentang bagaimana tingkat literasi anak didik (dalam hal ini mahasiswa).
Literasi media adalah salah satu keterampilan yang harus dimiliki seseorang dalam era globalisasi. Dikatakan demikian, karena dalam era tersebut manusia akan semakin sering bersinggungan dengan media. Baik itu untuk menambah wawasan atau pengetahuan maupun hanya untuk sekedar sebagai sarana hiburan pelepas penat saja.
Ada berbagai hal yang disoroti dalam keterampilan literasi media ini, mulai dari kesadaran individu atau masyarakat terhadap dampak media sampai dengan bagaimana individu atau masyarakat memposisikan dan mengapresiasikan media dalam kehidupannya sehari-hari.

Kehadiran ragam media yang mulai memadati segala bidang kehidupan manusia ditanggapi positif oleh sebagian besar masyarakat. Walaupun begitu, merekapun sadar bahwa kehadiran media juga tidak terlepas dari dampak negatifnya. Mereka juga beranggapan, media memiliki peran strategis dalam proses komunikasi khususnya komunikasi massa. Ditarik kesimpulan demikian, karena hampir seluruh masyarakat menyatakan bahwa informasi yang terkandung dalam media massa dapat membantu terjadinya komunikasi diantara masyarakat dan media juga dapat membentuk suatu opini tertentu ditengah-tengah masyarakat tentang berbagai hal. Seseorang yang memiliki keterampilan literasi media tidak akan langsung mempercayai sebuah berita sebelum mengkrosceknya dengan sumber lain. Yang biasa dilakukan adalah memilih media yang diakui kredibilitasnya, mengkroscek keakuratan berita dengan sumber lain, dan akan selalu mencari kelengkapan suatu berita yang didengarnya dari orang lain di dalam suatu media massa. Bila dibandingkan dengan ketiga hal tersebut, hampir setengah dari masyarakat tidak melakukan kroscek ulang terhadap berita yang telah didapatnya.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, selain memiliki dampak negatif media juga memiliki banyak dampak positif. Kata yang paling mudah untuk menggambarkan dampak positif dari media adalah “gudang informasi”. Dengan adanya media, individu atau masyarakat terbantu dalam hal mengembangkan wawasan dan pengetahuannya. Ini dibuktikan, sebagian besar masyarakat menyatakan merasa tidak nyaman bila tidak berhubungan dengan media walaupun hanya satu hari. Tetapi, bukan berarti mereka hanya menghargai pendapat/hasil karya orang lain yang ditampilkan dalam media massa saja. Karena, walau bagaimanapun juga mereka beranggapan bahwa beragam media dan corak yang muncul saat ini telah mampu menambah pemahaman mereka tentang peristiwa yang sedang menggejala atau sedang ‘in’ di dunia ini.
Pembahasan di atas bila dilandasi pendapat Ofcom, secara sederhana dapat digambarkan bahwa individu yang telah memiliki keterampilan literasi media mempunyai kemampuan untuk mengakses, menganalisa, mengevaluasi dan sekaligus mengkomunikasikannya dalam berbagai macam format. Lebih daripada itu, mereka juga mampu mengenali dan mengerti informasi secara komprehensif untuk mewujudkan cara berpikir kritis, seperti tanya jawab, menganalisa dan mengevaluasi informasi itu.

 PENUTUPAN

Literasi Media/ Media Literacy terdiri dari dua kata, yakni literasi dan media. Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis atau dengan kata lain melek aksara sedangkan media dapat diartikan sebagai suatu perantara baik dalam wujud benda, manusia, peristiwa. Dari kedua macam definisi sederhana tadi, maka dapat diambil kesimpulan bahwa literasi media adalah kemampuan untuk mencari, mempelajari, dan memanfaatkan berbagai sumber media dalam berbagai bentuk. Istilah literasi media juga dapat disamakan dengan istilah ’melek media’. Empat Faktor Utama dalam Model Media Literacy yaitu Struktur Pengetahuan, Personal Locus, Kemampuan dan Ketrampilan, dan Proses Informasi
Adapun sebagai indikator bahwa secara individu seseorang atau suatu masyarakat sudah melek media adalah sebagai berikut :
 Mampu memilih (selektif) dan memilah (mengkategori/mengklasifikasi) media, mana yang manfaat mana yang mudarat.
 Memahami bahwa Radio, terutama televisi merupakan lembaga yang ‘syarat’ dengan kepentingan politik, ekonomi, sosial budaya dll
 Memahami bahwa Radio dan Televisi bukan menampilkan realitas dan kebenaran satu-satunya, namun bisa merupakan ‘rekayasa’ dari pelaku-pelakunya.
 Mampu bersikap dan berperilaku kritis pada siaran radio dan televisi.
 Menyadari bahwa sebagai konsumen media, khalayak semua mempunyai Hak dan Kewajiban atas isi siaran radio dan televisi.
 Menyadari tentang dampak yang ditimbulkan media dan mengidentifikasi hal-hal yang harus dilakukan ketika menggunakan media.
 Selektif, pandai memilih dan memilah media yang akan digunakan;
 Hanya mempergunakan media untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan tertentu.
 Mampu membangun filter yang kokoh, baik bagi dirinya maupun terhadap orang-orang di lingkungannya, sehingga secara personal tidak mudah dipengaruhi media

Daftar Pustaka

http://evisirait.blog.com/2008/09/17/media-literacy/

http://new-media.kompasiana.com/2010/01/22/menggagas-media-literasi-masyarakat-maju/

Potter,W.J.(2005). Media Literacy. Upper Sadler River,NJ: Prentice Hall.(page 23-41)

One response to “LITERASI MEDIA

  1. Masyarakat kita perlu didampingi dalam menonton televisi, agar cerdas dan kritis terhadap progam televisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s