Dasar-dasar Ilmu Dakwah

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

 

Dakwah sendiri yang kita ketahui  artinya mengajak, menyeru umat untuk ke jalan kebenaran beramal nelaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya agar menjadi masyarakat yang madani.

Kegiatan dakwah merupakan kewajiban untuk semua umat muslim di dunia. Kegiatan berdakwah tidak hanya dilakukan melalui ceramah saja. Tapi banyak cara untuk melakukan dakwah, bahkan media elektronik on-line seperti internet sekalipun bisa dijadikan untuk media dakwah bagi kaum muslim sekarang ini. Seiring dengan perkembangan zaman, manusia dari hari ke hari semakin tidak menentu keadaanya baik itu segi moralitas keagamaan maupun kehidupan sosial, ekonomi atau politik. Jadi sudah sepantasnya masyarakat muslim ini untuk banyak melakukan dakwah baik secara lisan, tulisan, melalui media, dan alat yang menunjang untuk berdakwah lainnya. Sehingga dengan dilakukannya dakwah setidaknya dapat memperbaiki keimanan individu, kelompok ataupun masyarakat pada umumnya

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Unsur-unsur Dakwah

 

Dengan merujuk kepada surat al-Nahl ayat 125 sebagaimana disebutkan dalam ayat itu, yaitu :”serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk”, dapat dirumuskan unsur-unsur dakwah[1] yaitu :

  1. A.    Da’i

Da’i adalah setiap orang yang hendak menyampaikan, mengajak orang ke jalan Allah[2]. Setiap orang yang menjalankan aktifitas dakwah, hendaknya memilih kepribadian yang baik sebagai seorang da’i, menurut Prof. DR. Hamka “ jayanya atau suksesnya suatu dakwah memang sangat bergantung kepada pribadi atau pembawa dakwah itu sendiri, yang sekarang lebih populer disebut da’i”. kepribadian disini meliputi kepribadian yang bersifat jasmanai dan rohani meliputi :

  1. 1.      Sifat-sifat Seorang Da’i
  1. iman dan taqwa kepada Allah

Syarat kepribadian sorang da’I yang terpenting adalah iman dan taqwa kepada Allah. Oleh karena itu didalam membawa misi dakwah diharuskan terlebih dahulu diri-sendiri dapat memerangi hawa nafsunya, sehingga diri pribadi ini lebih taat kepada allah dan Rasulnya dibandingkan dengan sasaran dakwahnya.

  1. Tulus ikhlas dan tidak mementingkan kepentingan diri pribadi

Niat yang lurus tanpa pamrih duniawiyah belaka, salah satu syarat mutlak ang harus dimiliki seorang da’I. Sebab dakwah adalah pekerjaan yang bersifat ubudiyah atau terkenal dengan hablullah,yakni amal perbuatan yang berhubungan dengan Allah[3]. Sifat ini sangat menentukan keberhasilan dakwah, misalnya ada dalam hati ketika memberikan ceramah dengan adanya ketidak ikhlasan dalam memberikan ceramah.

  1. Ramah dan penuh pengertian

Propaganda yang dapat diterima orang lain, apabila yang mempropagandakan berlaku ramah, sopan dan rigan tangan untuk melayani sasarannya, karena keramahan, kesopanan dan keringan-tanganannya insya-Allah akan berhasil dakwahnya.

  1. Tawadlu’ (rendah diri)

Rendah diri hati bukan semata-mata merasa dirinya terhina dibandingkan dengan derajat dan martabat orang lain, akan tetapi seorang da’I yang sopan, tidak sombong dan tidak suka menghina dan mencela orang lain.

  1. Sederhana dan jujur

Sederhana bukanlah berarti didalam kehidupan sehari-hari selalu ekonomis dalam memenuhi kebutuhannya, akan tetapi sederhana disini tidak bermegah-megahan, angkuh dan sebagainya, sedangkan kejujuran adalah orang yang percaya akan ajakannya dan dapat mengikuti ajakan dirinya.

  1. Tidak memiliki sifat egoisme

Ego adalah watak yang menonjolkan akunya, angkuh dalam pergaulan merasa dirinya terhormat, lebih pandai, dan sebagainya. Sifat inilah yang harus dijauhi betul-betul oleh seorang da’I .

  1. Sifat semangat

Semangat berjuang harus dimiliki oleh da’I, sebab dengan sifat ini orang akan trerhindar dari rasa putus asa, kecewa, dan sebagainya.

  1. Sabar dan tawakal

Dalam melaksanakan dakwah mengalami beberapa hambatan dan cobaan hendaklah sabar dan tawakan kepada Allah.

  1. Memiliki jiwa toleran

Dimana tempat da’I dapat mengadaptasikan dirinya dalam artian posisi.

  1. Sifat terbuka

Apabila ada kritik dan sara hendaknya diterima dengan gembira, mengalami kesulitan yang sanggup memusyawarahkan dan tidak berpegang tangan kepada idenya sendiri.

  1. Tidak memiliki penyakit hati

Sombong, dengki, ujub, dan iri haruslah disingkirkan dalam hati sanubari yang hendak berdakwah.

  1. 2.      Sikap Seorang Da’i
  1. Berakhlak mulia

Berbudi pekerti yang baik (akhlaqul karimah) sangat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang da’I . Bahkan prof. DR. hamka pernah mengatakan bahwa “alat dakwah yang sangat utama ialah akhlak”.

  1. Hing ngarsa asung tuladha, hing madya mangun karsa, tutwuri handayani.

Pendapat Ki Hajar Dewantoro Bapak Pendidikan Indonesia itu harus pula dimiliki seorang da’I. Hing ngarsa asung tuladha; artinya seorang Da’i yang merupakan orang terkemuka di tengah-tengah masyarakat haruslah dapat menjadi tauladan yang baik bagi masyarakat. Hing madya mangun karsa; artinya bila di tengah-tengah massa, hendaknya dapat memberikan semangat, agar mereka senantiasa mengerjakan, mengikuti segala ajakannya. Selanjutnya tutwuri handayani; artinya bila bertempat di belakang, mengikutinya, dengan memberi bimbingan-bimbingan agar lebih meningkatkan amalannya.

  1. Disiplin dan bijakasana

Disiplin dalam artian luas sangat diperlukan oleh seorang da’I dalam mengemban tugasnya sebagai muballigh. Begitupun bijaksana dalam menjalankan tugasnya sangat berperan di dalam mencapai keberhasilan dakwah.

  1.  Wira’i dan berwibawa

Sikap yang wira’I menjauhkan perbuatan-perbuatan yang kurang berguna dan mengindahkan amal shaleh, salah satu hal yang dapat menimbulkan kewibawaan seorang da’i. sebab kewibawaan merupakan faktor yang mempengaruhi seseorang akan percaya menerima ajakannya.

  1. Tanggung jawab

Tanggung jawab merupakan hal penting yang harus dimiliki seorang da’I, tanggung jawab disini maksudnya pesan yang disampaikan da’I tersbut dapat di uji kebenarannya.

  1. Berpandangan luas

Seorang da’I dalam menentukan starategi dakwahnya sangat memerlukan pandangan yang jauh, tidak fanatik terhadap satu golongan saja dan waspada dalam menjalankan tugasnya.

  1. 3.      Berpengetahuan Yang Cukup.

Beberapa pengetahuan, kecakapan, keterampilan tentang dakwah sangat menentukan corak strategi dakwah. Seorang da’I dalam kepribadiannya harus pula dilengkapi dengan ilmu pengetahuan, agar pekerjaannya mencapai hasil yang efektif dan efisien.

 

  1. B.     Pesan

Pesan dakwah ini dalam al-Qur’an diungkapkan beraneka ragam yang menunjukan fungsi kandungan ajaran-Nya, melalui penyampaian pesan-pesan Islam, manusia akan dibebaskan dari segala macam bentuk kehkufuran dan kemusrikan. Inti agama Islam yang telah disepakati oleh para ulama, sarjana, dan pemeluknya sendiri adalah tauhid[4].  Sehingga sering dikatakan bahwa agama Islam adalah agama tauhid. Dan yang membedakan Islam dengan agama lainnya adalah monoteisme atau tauhid yang murni, yang tidak dapat dicampuri segala bentuk syirik[5]. Dan inilah yang melebihkan agama Islam diatas agama lain.

Sumber utama ajaran Islam sebagai pesan dakwah adalah al-Qur’an itu sendiri, yang memiliki maksud spesifik. Paling tidak terdapat sepuluh maksud pesan al-Qur’an sebagai sumber utama Islam adalah :

  1. Menjelaskan hakikat tiga rukun Islam, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan, yang telah didakwahkan oleh Rosul
  2. Menyempurnakan aspek psikologis manusia secara individu, kelompok dan masyarakat.
  3. Menjelaskan sesuatu yang belum diketahui manusia tentang hakikat kenabian, risalah, dan tugas para Rosul.
  4. Mereformasi kehidupan sosial kemasyarakatan dan sosial politik diatas dasar kesatuan nilai kedamaian dan keselamatan dalam agama.
  5. Mengkokohkan keistimewaan universalitas ajaran Islam dalam pembentukan kepribadian melalui kewajiban dan larangan.
  6. Menjelaskan hukum Islam tentang kehidupan politik negara.
  7. Membimbing penggunaan urusan harta.
  8. Meroformasi sistem peperangan guna mewujudkan kebaikan dan kemaslahatan manusia dan mencegah dehumanisasi.
  9. Menjamin dan memberikan kedudukan yang layak bagi hak-hak kemanusiaan wanita dalam beragama dan berbudaya.
  10. Membebaskan perbudakan.

 

  1. C.    Uslub/Metode

Secara etimologi, istilah metode berasal dari bahasa yunani, yakni dari kata “metodos” yang berarti cara atau jalan. Sedangkan pengertian menurut terminologi adalah suatu cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan dengan hasil yang efektif dan efisien. Dengan demikian metode dakwah dapat diartikan sebagai suatu cara atau jalan yang ditempuh/ diterapkan oleh seorang da’I  dalam menjalankan aktivitas dakwahnya agar tercapai apa yang menjadi tujuan dakwahnya dengan efektif dan efisien.

Ada beberapa metode dakwah yang dipakai secara umum oleh para da’I, diantaranya :

  1. Metode Ceramah (Rhetorika Dakwah)

Ceramah adalah suatu tehnik atau metode dakwah yang banyak diwarnai oleh ciri karakteristik bicara oleh seseorang da’I atau mubaligh pada suatu aktivitas dakwah, ceramah dapat pula bersifat propaganda, kampanye, berpidato, khutbah, sambutan, mengajar dan sebagainya.

Metode ceramah sebagai salah satu metode atau tehnik berdakwah tidak jarang digunakan oleh para da’I  atau pun para utusan Allah dalam usaha menyampaikan risalahnya.

  1. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah penyampaian materi dakwah dengan cara mendorong sasarannya (obyek dakwah) untuk menyatakan sesuatu masalah yang dirasa belum dimengerti dan mubaligh atau da’I sebagai penjawabnya. Metode ini dimaksudkan untuk melayani masyarakat sesuai kebutuhannya. Sebab dengan bertanya berarti orang ingin mengerti dan dapat mengamalkannya.

Metode tanya jawab ini bukan saja cocok pada ruang tanya-jawab, baik di radio maupun media surat kabar dan majalah, akan tetapi cocok pula untuk mengimbangi dan memberi selingan ceramah. Metode ini sering dilakukan Rasulullah S.A.W dengan Jibril AS, demikian juga dengan para sahabat di saat tak dimengerti tentang sesuatu dalam agama (sahabat bertanya kepada Rasulullah).

  1. Debat (Mujadalah)

Mujadalah selain sebagai dasanama (sinonim) dari istilah dakwah, dapat juga sebagai salah satu metode dakwah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat An Nahl ayat 125. berdasarkan firman Allah, berdebat patut dijadikan sebagai metode dakwah. Namun perlu diketahui bahwa debat yang dimaksud di sini adalah debat yang baik, adu argument dan tidaka tegang sampai pada pertengkaran.

Debat sebagai metode dakwah pada dasarnya mencari kemenangan, dalam arti menunjukkan kebenaran dan kehebatan Islam. Dengan kata lain debat adalah mempertahankan pendapat dan ideologinya agar pendapat dan idiologinya itu diakui kebenarannya dan kehebatannya oleh musuh (orang lain). Berdebat efektif dilakukan sebagai metode dakwah hanya pada orang-orang (objek dakwah) yang membantah akan kebenaran Islam.

  1. Percakapan Antar Pribadi

Percakapan pribadi atau individual conference adalah percakapan bebas antara seseorang da’I  atau mubaligh dengan individu-individu sebagai sasaran dakwahnya. Percakapan pribadi bertujuan untuk menggunakan kesempatan yang baik di dalam percakapan atau mengobrol untuk aktivitas dakwah.

  1. Metode Demonstrasi

Berdakwah dengan cara memperlihatkan suatu contoh baik berupa benda, peristiwa, perbuatannya dan sebagainya dapat dinamakan bahwa seorang da’I yang bersangkutan menggunakan metode demonstrasi. Artinya suatu metode dakwah di mana seorang da’I memperlihatkan sesuatu atau mementaskan sesuatu terhadap sasarannya dalam rangka mencapai tujuan dakwah yang ia inginkan.

  1. Metode Dakwah Rasulullah

Muhammad saw. seorang da’I  internasional, pembawa agama Islam dari Allah untuk seluruh alam. Beliau di dalam membawa misi agamanya menggunakan berbagai metode antara lain :

  • Dakwah dibawah tanah
  • Dakwah secara terang-terangan
  • Surat menyurat
  • Politik pemerintah
  • Peperangan
  1. Pendidikan dan Pengajaran Agama

Pendidikan dan pengajaran dapat pula dijadikan sebagai metode dakwah. Sebab dalam definisi dakwah telah disebutkan bahwa dakwah dapat diartikan dengan dengan dua sifat, yakni bersifat pembinaan dan pengembangan.

Hakikat pendidikan agama adalah penanaman moral keagamaan kepada objeknya, sedangkan pengajaran agama adalah memberikan pengetahuan-pengetahuan agama kepada orang yang menjadi objeknya.

  1. Mengunjungi Rumah (Silaturahmi/Home Visit)

Metode dakwah semacam ini dirasa efektif juga untuk dilaksanakan dalam rangka mengembangkan maupun membina umat Islam sehingga banyak da’I -da’I  yang menggunakan metode seperti ini.

  1. D.    Media

Jika metode merupakan mesian dan pengemudi dari sebuah kendaraan dalam perjalanan dakwah menuju suatu tujuan yang ditetapkan, maka media merupakan kendaraan itu sendiri, tanpa instrument yang dimiliki oleh da’I, perjalanan dakwah tidak akan berjalan.

Instrumen yang berfungsi sebagai media itu, dalam diri da’I adalah seluruh dirinya sendiri. Sedangkan yang diluar diri da’I adalah media cetak, elektronik , dan benda lainnya.

Baik metode maupun media memiliki pengaruh tersendiri bagi da’I dan media yang akan menentukan kelancaran dan kesuksesan proses dakwah itu sendiri. Contoh dakwah di media televisi dan surat kabar adalah :

  1. Iklan melalui media televisi

Iklan adalah khotbahnya televisi. Namun, iklan bukan memasarkan suatu produk. Iklan juga memasarkan nilai, sikap, perasaan, dan gaya hidup. Secara sangat dahsyat iklan sanggup mengubah watak dan tabiat masyarakat menjadi konsumen kelas berat. Sudah tentu, sebagai media penyampaian informasi, televisi bersifat netral belaka, tidak baik dan tidak buruk. Atau sekarang sedang tren melalui HP sekalipun dakwah telah bisa dilakukan, misalnya iklan pesawat televisi yang menayangkan sosok  Aa Gym yang isinya mengajak untuk bergabung memberikan dakwahnya melalui perantara HP supaya masyarakat mengikuti program tersebut dan tidak susah payah lagi ke majelis ta’lim atau yang lainnya.

  1. Melalui surat kabar

kembali kepada juru dakwah yang mau memanfaatkan yang bernama media pers ini untuk kepentingan dakwah, misalnya, artikel dan opini Aa Gym di koran Pikiran Rakyat setiap hari jum’at, ini merupakan dakwah melalui media surat kabar diantaranya.

 

  1. E.     Mad’u

Salah satu unsur dakwah yangf satu lagi adalah mad’u, apabila hubungan baik terjalin antara da’I dan mad’u semakin meningkat. Kedekatan hubungan ini boleh terjadi secara alamiah terbentuknya karena bertemunya kedua unsur yang saling membutuhkan dan saling mendukung, tapi bisa juga dari hasil buah kerja dakwah yang efektif.

Hubungan baik antara da’I dan mad’u bisa menimbulkan mad’u yang secara penih mengerti akan pesan yang disampikan oelh da’I, ini menunjukan suatu terjalinya hubungan yang baik. Faktor yang menentukannya diantaranya:

  1. Faktor percaya

Jika masyarakat percaya terhadap da’I dan memandangnya dengan penuh hormat, dipihak lain da’I pun percaya bahwa masyarakat berpikir konstruktif. Jika tidak seperti ini, maka akan menimbulkan kesalahnpahaman.

  1. Sikap saling membantu

Jika masyarakat dibantu akan kedatangan da’I, dan da’I pun merasa dibantu oleh mad’u dalam berekpresi diri dan beramal shaleh mengembangkan karir, maka terjalin hubungan baik mudah terjadi.

  1. Sikap terbuka

Seorang mad’u harus mempunyai sikap terbuka, agar pesan yang disampaikan da’I dapat dicerna atau diterima dengan baik karena adanya perasaan terbuka dan tidak ada perasaan tertutup sedikit pun agar terjalin efek komunikasi yang baik diantara mereka.

BAB III
KESMIPULAN

 

Uraian-uraian diatas memberikan kita kejelasan bahwa dalam melaksanakan atau mengemban tugas yang mulia ini tidaklah semudah yang kita bayangkan agar dakwah secara maksimal tercapai.

Terdapat lima unsur dakwah yang harus dipenuhi yaitu : da’I, pesan, metode, media, dan mad’u. unsur itu jarus dipenuhi karena untuk tercapainya dakwah yang diharapkan oleh kita menjadi tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Faruqi, Ismail Raji. TAUHID. PUSTAKA. Bandung. 1995

Dermawan, Andy. Metodologi Ilmu Dakwah. LESFI. Ypgyakarta. 2002

Kusnawan, Aep. Komunikasi Penyiaran Islam. Benag Merah Press. Bandung. 2004

Mubarok, Achmad, DR, MA. Psikologi Dakwah. Pustaka Firdaus. Jakarta. 1999

Muhyidin, Asep, Prof, H, Drs dan Agus Ahmad Syafe, M.Ag. Metode Pengembangan Dakwah.Pustaka Setia. Bandung. 2002

Muis, Abdul. Komunikasi Islam. ROSDA. Bandung.2001

Syafei, Agus Ahmad. Memimpin dengan Hati yang Selesai Jejak Langkah dan Pemikiran Baru Dakwah K.H Sukriadi Sambas, M.Si. Pustaka Setia. Bandung. 2003

Syukir, Asmuni. Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam. Al-Ikhlas. Surabaya. 1983

Tasmara, Toto. Komunikasi Dakwah. Gaya Media Pratama.Jakarta.1997


[1] Drs. H. Asep M, M. AG, Agus AS, M.Ag: Metode Pengembangan Dakwah: Pustaka Setia: Bandung:2002: 28

[2] Asmuni Syukir: Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam: Al-Ikhlas :Surabaya: 1983:34

[3] Asmuni Syukir: Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam: Al-Ikhlas: Surabaya: 1983: 38

[4] Ismail Raji Al-Faruqi: TAUHID: Pustaka Bandung: 1995:16

[5] Agus Ahmad Syafe’i: Memimpin dengan Hati yang Slelsai: Pustaka Setia: Bandung: 2003: 166

One response to “Dasar-dasar Ilmu Dakwah

  1. makasih gan sangat membantu :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s